19 May 2016

"Harapan" yang Sulit Merebut Hati Liverpool dari "Kegagalan"



Ah, The Reds di era modern memang medioker. Anda tak bisa menyamakan tim ini dengan klub-klub top Inggris bahkan eropa lain. Bukan apa-apa, sudah dipimpin Jurgen Klopp saja, Liverpool masih finis di peringkat delapan atau tiga posisi lebih buruk dengan Manchester United yang sedang stres dengan Louis van Gaalnya.

Ah, kami sudah biasa dengan kegagalan dan kekalahan. Peringkat 6-7-8 adalah titah Liverpool laiknya Barcelona yang sulit lepas dari peringkat 1-2 klasemen dalam satu dekade terakhir. Buat apa diambil pusing??

Sudah diangkat menuju langit ketujuh, hampir menjejaki ranah Isra dan Mi'Raj, Liverpool kembali dijatuhkan ke dasar bumi paling dalam. ArchAngel saja matinya karena jatuh dari langit, padahal dia memiliki sayap. Seperti itulah Liverpool, sebuah tim besar yang susah berjaya di arena permainannya sendiri.

Menunggu Liverpool mengangkat piala seperti menanti mantan Anda kembali dan meminta maaf, padahal dia tidak salah, Anda yang salah. Mendekati kata mustahil untuk kembali menjalani hubungan.

Terlepas dari itu, banyak motivator menganggap tak ada yang mustahil di dunia ini, kecuali terbang, menghilang, dan membaca pikiran orang yang hanya bisa dilakukan Meta-Human di cerita-cerita superhero.

Jika "gagal" adalah kekasih Liverpool saat ini, "harapan" selalu mencoba menjadi orang ketiga dan menyingkirkan kegagalan itu. Pada beberapa bulan terakhir, Liverpool lumayan sering bertemu dengan harapan, walau belum bisa melakukan hubungan seks dengan dia.

Kedatangan seorang manajer kelas dunia tak membuat Liverpool langsung bisa lepas dari kekasih yang tak dia cintai ,"gagal". Seperti hubungan pada umumnya, tak mudah melepas seseorang ketika kita sudah tak cinta karena risiko pun banyak. Siapa yang mau melukai hati orang lain?

Liverpool baru saja berlibur dengan harapan hingga hampir mencapai klimaks ketika keduanya berlibur di Basel secara diam-diam. Ketika itu, gagal sedang asyik menikmati peringkat delapan klasemen Premier League dan percaya saja semua kata dari The Reds.



Harapan pun menemani Liverpool sepanjang kiprah di Europa League, tak ayal, kisah-kisah kebahagiaan sempat tercipta, bahkan mengingatkan mereka dengan mantan bernama Istanbul, ya mantan terindah mereka.

Sayang, pada liburan puncak di Basel, dimana Liverpool sudah berencana menyetubuhi harapan dan melepas hubungan dengan kegagalan, diam-diam "gagal" ternyata menguntit dari belakang.

Alhasil, hubungan diam-diam yang ingin diseriusi dengan harapan pun menguap. Liverpool kembali harus menemani kegagalan dan entah kapan keduanya bisa terpisah, karena Tuhan seakan terus mempertemukan mereka.

Harapan tidak hilang, dia sadar memiliki kesempatan untuk mendekati siapapun yang dirasa memang pantas mendapatkannya. Dia sempat berada di kota Leicester selama setahun dan langsung berhasil tanpa pedekate lama-lama.

Namun, terkait Liverpool, harapan mungkin harus berjuang lebih keras lagi, karena kegagalan selalu berada di sekitar mereka.

Klopp tak mungkin bisa sendirian mengangkat tim, harus ada bantuan dari pemain-pemain berkualitas, filosofi yang pas, serta keberuntungan yang beringas agar harapan dan Liverpool bisa menjadi satu serta menghasilkan anak bernama "SUKSES".


@RedziAP

2 comments: