August 16, 2014

A Brief History of Lazar Markovic


Benfica V Gil Vicente
Primeira Liga / Liga Zon Sagres, Estadio da Luz, Lisbon, 25 August 2013
Sosok anak muda yang gondrong namun tidak terlihat sangar karena postur tubuhnya yang kecil dan kurus ini tidak sedikitpun terlihat gentar saat dimasukkan menggantikan Eduardo Salvio, winger andalan Benfica pada menit 61. Sepuluh menit kemudian, Maxi Pereira, bek kanan Uruguay dan Benfica melakukan blunder, mungkin akibat kelelahan ataupun kehilangan fokus, dengan kesalahan mengontrol bola yang dimanfaatkan dengan baik oleh Diogo Viana yang berlari dari belakang untuk menyambar bola, seolah telah mengincar kesempatan ini, lalu menceploskan bola ke gawang dengan kaki kirinya. Sepertinya ini akan menjadi debut yang buruk bagi seorang anak muda yang baru masuk tersebut. 19 tahun, pertama kalinya pergi merantau meninggalkan zona amannya menuju negara baru dengan kultur, budaya dan gaya hidup yang berbeda. Menjalani debut dari bangku cadangan mungkin adalah pilihan yang dirasa cukup aman bagi pelatih Benfica, Jorge Jesus, untuk meringankan tekanan di bahu anak muda ini, walaupun sebenarnya anak muda ini sudah tidak asing dengan peran yang biasa dilakoninya dari bangku cadangan.

***

Tiga tahun yang lalu, Benfica sebagai salah satu klub dengan permainan menyerang yang paling menarik se-Eropa baru saja menjual pemain kuncinya Angel di Maria ke Real Madrid senilai 40 juta Euro dan menggantinya dengan winger lainnya asal Argentina juga, Nicola Gaitan. Pembelian tersebut kurang berjalan mulus, sehingga winger lain pun kembali didatangkan dengan status pinjaman di paruh musim bernama Eduardo Salvio dari Atletico Madrid. Walaupun permainan Benfica membaik terutama terbantu akan meningkatnya performa kedua pemain sayap tersebut, namun gelar juara liga masih menghindari mereka pada musim tersebut dan musim depannya. Dua kali Runner-Up jelas membuat frustasi para fans. Peran seorang Angel di Maria di sayap kiri dianggap masih belum bisa digantikan sehingga mendesak manajemen Benfica untuk terus mencari pemain sayap yang berbakat untuk mengisi peran tersebut.

Setahun berlalu. Sementara Benfica masih menaruh harapan kepada Nicola Gaitan dan mempermanenkan Eduardo Salvio yang dianggap telah matang karena sukses menjalani musim pertamanya di Lisbon, Partizan Belgrade, klub tersukses sepanjang masa di Serbia, mempromosikan remaja yang masih berusia 17 tahun bernama Lazar Markovic untuk bergabung bersama tim utama dan bahkan memberikannya tempat di bangku cadangan di laga tandang melawan Sloboda Uzice. Pada tanggal 29 Mei 2011, dengan keunggulan 2-0 untuk Partizan Belgrade, pelatih Partizan saat itu, Aleksandar Stanojević memberikan instruksi kepada anak muda tersebut untuk masuk menggantikan Joseph Kizito pada menit ke-72. Walaupun Sloboda Uzice berhasil mencetak gol penghibur di akhir pertandingan (pertandingan berakhir 1-2 untuk kemenangan Partizan Belgrade) namun permainan anak muda bernomor punggung 50 tersebut mengundang kekaguman dari supporter dan rekan se-timnya. Tidak lama setelah Partizan Belgrade memenangkan Superliga Serbia, Markovic pun menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan durasi 5 tahun sekaligus memberi semangat baru untuk menghadapi musim berikutnya. Musim pertamanya sebagai pemain Partizan juga berbuah manis, mencetak gol pertamanya bersama Partizan Belgrade, mempertahankan juara Superliga Serbia, sekaligus meraih Partizan's Player of the Year serta iklusi dalam 2011–12 SuperLiga Team of the Year selection. Pada musim berikutnya, dia melangkah lebih jauh lagi, mempertahankan inklusinya di tim terbaik liga (SuperLiga Team of the Year selection dua kali berturut-turut) sekaligus kembali mempertahankan gelar juara liga. Panggilan timnas Serbia juga tinggal menunggu waktu dan tidak tanggung-tanggung mencetak gol pada pertandingan keduanya saat laga persahabatan melawan Chile, diperkuat oleh Alexis Sanchez di Estadio Nacional de Chile yang berakhir 3-1 untuk kemenangan Serbia. Dan itu semua diraih pada usia 18 tahun.

Scout-scout dari klub Eropa terus berdatangan. Tentu saja hal ini sesuai dengan keinginan Partizan yang memang memiliki policy membentuk pemain-pemain muda kemudian menjualnya untuk profit klub. Sebagai salah satu remaja lulusan terbaik dari Partizan Youth Academy (Berdasarkan statistik UEFA pada tahun 2012, Partizan Youth Academy menempati posisi kedua dalam memproduksi pemain yang bermain di 31 liga-liga ternama di Eropa, di bawah Ajax Amsterdam, di atas La Masia Barcelona dan Sporting Lisbon Youth Academy) bersama dengan nama-nama lainnya seperti Adam Ljajic, Mateja Nastatic, dan Stevan Jovetic, tentunya menjadi incaran klub-klub Eropa. Penawaran dari Spartak Moskow yang baru saja kehujanan uang dari pemilik baru mereka saat itu ditolak mentah-mentah. Chelsea diyakini menjadi klub terdepan yang berhasil mengamankan tanda tangannya, diperkuat dengan keyakinan bahwa Lazza adalah penggemar Chelsea dan Gianfranco Zola, yang tidak mengherankan karena masa kecilnya yang diisi dengan masa-masa emas Gianfranco Zola di Chelsea (2002-2004).

Namun, deal dengan Chelsea saat itu tidak terjadi. Artikel dari Chris Bascombe menyatakan Lazar Markovic bahkan sudah menemui petinggi-petinggi Chelsea dan berkunjung ke Stamford Bridge, London hingga duduk dinner bersama pemain-pemain Chelsea kala itu. Tidak mengherankan karena saat itu agen dari Markovic berafilisasi dengan Pini Zahavi, yang notabene adalah teman dekat Peter Kenyon, mantan kepala eksekutif Chelsea. Ada kemungkinan Chelsea enggan melakukan transfer dengan Pini Zahavi mengingat rekor buruk Pini Zahavi yang mana saat itu sedang sibuk menangani kontroversi transfer Carlos Tevez dan Javier Mascherano yang kepemilikannya diwakili olehnya.

Dalam kerumitan dan ketidakjelasan transfer dan kepemilikan, akhirnya Partizan Belgrade menyetujui transfer Markovic ke Benfica (fee undisclosed), dengan kontrak lima tahun, mengikat Markovic hingga 2018. Keputusan yang sangat bijak, mengingat pola permainan Benfica yang hidup dari sayap-sayapnya dan sangat menyukai pemain muda dengan flair, teknik dan kecepatan yang bagus.

Kecepatan memang merupakan atribut utama dalam karakter permainan Markovic. Hal yang tidak mengherankan karena dia adalah lulusan sepakbola Partizan, yang mana menjadi sejarah bahwa permainan sepakbola Balkan (khususnya Partizan) memiliki karakter cepat namun sistematis. Selain itu, kecepatan memang mengalir dalam darah keluarganya. Sang ayah, Negoslav Markovic terkenal sebagai pemain yang cepat dan berteknik (Speedster) saat bermain sepakbola di Remont and Borac Cacak, klub lokal amatir di Serbia. Bagaikan buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, bakat dan cara bermain sang ayah tidak jauh-jauh diturunkan ke kedua anaknya, Filip dan Lazar yang setia menemani sang ayah berlatih. Dengan kelebihan terutama dalam hal kecepatan, tidak mengherankan mereka berdua ditempatkan di posisi sayap oleh pelatih Partizan di awal karir mereka.

Keputusannya transfer ke Benfica juga tidak dinilai terburu-buru karena Markovic memang ingin menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMA, di Partizan High School of Sport, terlebih dahulu. Edukasi memang adalah salah satu faktor utama dalam karir Markovic. Latar belakang sang Ayah yang berprofesi di bidang teknik sipil dan menjalankan perusahaannya sendiri dan sang Ibu yang merupakan seorang ahli hukum, membuatnya tidak bisa melupakan pendidikannya. Peran keluarga juga sangat berpengaruh dalam karir Markovic. Menjaga makanan dan minuman, istirahat yang baik serta jauh dari pengaruh alkohol dan kehidupan malam adalah berkat peran dari sang ibu yang sangat menjaga karir anak-anaknya. Ia juga dididik untuk tetap rendah hati dan sederhana. Ia tidak secara buta memfollow fashion (jelas tidak akan muncul gaya Blonde Markovic a la Dani Alves ataupun tattoo-tattoo ala David Beckham sejauh ini) dan gaya hidup "wah" dan metropolitan a la ibukota.

Bahkan sebelum bisa mengendarai mobil, ia kerap menumpang Filip ataupun naik taksi ataupun sarana transportasi publik lainnya. Somehow it is reminded me of Iker Casillas in his early years.

***

Dua puluh menit kemudian. Waktu menunjukkan 90 menit, dengan tambahan waktu 4 menit. Estadio da Luz ricuh dengan keluhan dan seruan fans agar Jorge Jesus mundur. Para reporter mungkin sudah bersiap-siap mengisi match report mereka dengan tajuk "Benfica kalah (lagi!)" ataupun "Benfica Bersiap Untuk Treble Kekalahan Lagi" untuk sekedar mempermudah pekerjaan mereka dalam mengabarkan hasil pertandingan ataupun memberi tekanan ekstra kepada Jorge Jesus, manajer Benfica yang baru saja diperpanjang kontraknya selama dua tahun, di mana Benfica saat itu baru saja mengalami treble kegagalan yang cukup tragis (Kalah di liga dari FC Porto, tumbang di final Piala Portugal dari Vitória de Guimarães dan tentu saja kalah di final Europa League karena sihir Rafael Benitez yang membuat Chelsea bisa membuat Fernando Torres mencetak gol). Namun tidak demikian pemikiran kontingen Serbia di Benfica saat itu. Apapun script yang ditulis oleh Gil Vicente, para kontingen Serbia tersebut jelas tidak membacanya. Diawali dari umpan terobosan Filip Djuricic kepada Lazar Markovic, yang dengan pintarnya memposisikan diri diantara bek tengah dan bek kanan Gli Vicente, Halisson dan Gabriel Moura, lalu menyentuhnya sedikit sehingga bola berada di posisi yang tepat sebelum menceploskannya ke gawang dengan kaki kirinya. Semenit kemudian, Markovic telah meliuk melewati dua pemain Gil Vicente dari sisi kiri, memotong ke tengah (Number 10 Position) sebelum mengoper bola ke Ezequiel Garay di sayap kanan, yang diteruskan ke pemain Serbia, Miralem Sulejmani yang kemudian memberikan umpan silang yang disundul penyerang depan Benfica, Lima dan berbuah gol. Estadio da Luz pun pecah. Jorge Jesus pun turut merayakan gol tersebut bersama pemain, staff dan fans. Dan debut anak muda dari Serbia tersebut pun segera berubah menjadi debut impian.

Seusai pertandingan, Jorge Jesus memuji kiprah anak asuhnya, walaupun seharusnya dia juga layak mendapatkan pujian karena kontingen Serbia yang ia gunakan (Filip Djuricic, Miralem Sulejmani dan Lazar Markovic adalah trio Serbia yang dimasukkan Jorge Jesus di babak kedua pada pertandingan melawan Gil Vicente). "Menang pertandingan dengan karakter seperti ini jelas memberi kita keyakinan lebih daripada menang dengan skor telak." ujarnya. Dan hal itu memang benar adanya, walaupun kita akan mengetahuinya di akhir musim. Benfica melalui salah satu musim terbaiknya sepanjang sejarah klub. Treble domestik (Liga, Piala Liga / Taça da Liga dan Piala Portugal / Taça de Portugal di mana mereka tidak pernah kejebolan sekalipun di Piala Portugal), tidak pernah kalah di Europa League (walaupun mereka gagal di final dalam adu pinalti melawan Sevilla) dan unbeaten di Estadio da Luz.

Musim ini juga menjadi musim yang sangat baik bagi Lazar Markovic, yang pada usia 19 tahun telah merasakan treble dan bermain untuk klub terbaik di Portugal di musim pertamanya. Performanya mungkin setara dengan tamatan winger Benfica sebelumnya, Angel di Maria yang mencatatkan 40 penampilan dengan 7 gol (di mana Markovic hanya mencatatkan 49 kali tampil dengan 7 gol) namun jika ditanyakan dalam segi gelar, dan usia, Markovic jelas lebih unggul (Ia saat itu berusia 19 tahun dibandingkan dengan Di Maria yang saat itu berusia 21-22 tahun). 

---

20 Tahun, 20 Juta Poundsterling

Melwood, Liverpool, 15 July 2014
Setelah merampungkan penjualan Luis Suarez senilai 75 juta Poundsterling ke FC Barcelona, Brendan Rodgers tidak menunggu lama untuk mendapatkan dossier dari scouting department Liverpool di bawah kinerja Dave Fallows dan Barry Hunter mengenai target mereka yang sesuai dengan karakter permainan Liverpool. Tidaklah mengherankan sebagai mantan scout Manchester City, mereka mengusulkan nama winger Serbia ini ke dalam report mereka mengingat rekor keberhasilan mereka mendatangkan pemain Serbia seperti Stevan Jovetic dan Mateja Nastatic di Manchester City. Melalui negosiasi yang berkepanjangan, akhirnya Lazar Markovic resmi berkostum Liverpool, dengan nilai transfer mendekati 20 juta Poundsterling. Kemungkinan transfer sedikit memakan waktu lama karena kerumitan untuk menyelesaikan transfer dengan pihak ketiga di mana federasi sepakbola Inggris tidak mengizinkan adanya campur tangan pihak selain klub pemilik dalam hal kepemilikan pemain.
Transfer Lazar Markovic ke Liverpool sebenarnya sangat menarik karena seolah saling melengkapi satu sama lain, jika melihat permainan Liverpool di musim sebelumnya yang sangat menyerang, mengandalkan kecepatan dan pemain muda di bawah asuhan Brendan Rodgers. Sangat membuat penasaran bagaimana sepak terjang Lazza bersama Liverpool musim depan.
I don't know if he already suited in Brendan's system but I think he would. He is like Raheem Sterling with long hair. Perbandingan terhadap Lionel Messi juga muncul di beberapa artikel yang saya baca. Based from what I see, I think he is mentally right to play in Liverpool. Interestnya dalam bidang pendidikan terutama karena mata pelajaran favoritnya yaitu Sejarah dan Matematika juga bisa menjadi pendorong baginya untuk dekat dengan sejarah klub (banter!) ataupun dekat dengan Glen Johnson, yang mana sedang berusaha menyelesaikan mata kuliahnya dalam meraih gelar Sarjana Matematika. Gayanya yang kalem dan membumi juga dinilai cocok dengan suasana kota Liverpool yang bergaya countryside. Lihat saja saat dia menjalani medical untuk Liverpool di Melwood. Ransel, topi diputar ke belakang, smartphone di kaos kaki. No fuss. Just a simple 20 years old guy worth £20m.


See that humble lad doing medical at Melwood? (Image: LFC)

“As long as he wants to trains properly, he could be a world beater.” ujar Nemanja Matic, rekan timnasnya di Serbia. Apakah Lazza searing mempermalukan seniornya ini saat latihan? Apakah dia adalah sosok joker in the team? Who knows? Tapi melihat fakta bahwa Jorge Jesus kerap memasukkan nama Markovic ke starting line-upnya saat di Benfica, mungkin opini Nemanja Matic mungkin hanya inside joke belaka.

Tapi apapun yang dia lakukan di sesi latihan, dipastikan Rodgers akan membuat Markovic menggapai level yang lebih tinggi lagi. Saya juga yakin bahwa Rodgers dan para staffnya akan melatih kemampuan fisiknya seperti yang mereka lakukan pada Raheem Sterling, Phillipe Coutinho dan Joe Allen (Body-checknya terhadap Yaya Toure yang membuat Yaya terbang menyingkir tidak akan pernah saya lupakan) dan juga akan membuatnya menjadi world-beater dalam setahun-dua tahun mendatang.




Surely he's not this guy (Image: RAWK)

Artikel ini ditulis oleh: @Sa5678
Read more ...

July 10, 2014

Adios, Liverpool FC



Dear Kopites,

Jujur, aku bukan seorang yang pandai dalam merangkai kata-kata, apalagi menulis sebuah surat untuk kalian semua. Emosi bercampur dengan air mata ketika akhirnya banyak barisan kaku kata tertutur lambat, di waktu yang mungkin tidak terlalu tepat. Sudah terlalu lama terdiam, aku, Luis Suarez, ingin memberikan pesan terakhir untuk kalian yang sudah memberikan jiwa, tenaga, cinta, dan rasa tulus yang sangat besar sejak aku mendarat di Anfield, 2011 lalu.

Pertama, aku ingin meminta maaf karena sudah terlalu banyak membuat masalah di Liverpool. Ya, tak mudah ternyata pindah ke lingkungan baru dengan tekanan media yang luar biasa besar. Pelbagai masalah aku buat disini. Dua tahun pertama bukan tahun yang mudah. Friksi dengan teman hitam di seberang menjadi contoh. Sungguh, aku tak bermaksud untuk rasialis. Tapi, mukanya memang jelek dan tingkahnya membuat kami kebakaran jenggot. Atau masalahku dengan seorang Eropa Timur berpantat semok. Aku yakinkan, gigitan itu bukan tanda frustrasi. Aku hanya gemas dan seketika seperti melihat marshmallow saat itu. Sayang, ternyata kulit dia tak sekenyal marshmallow normal.

Insiden tersebut jelas menjadi pelajaran. Kalian semua tentu melihat perubahan sikap dan performaku musim lalu setelah insiden yang membuatku absen 10 laga. Banyak perubahan terjadi. Dimulai dengan Sofia yang mendiamiku cukup lama dan hanya mau bercinta sebulan sekali, hingga media yang terus menyoroti meski aku tak ada di lapangan hijau. Beruntung, aku mampu memberikan musim terbaik dan membawa The Reds nyaris menjadi kampiun Liga Inggris.

Kopites yang sangat aku hormati dan cintai...

Air mataku saat menghadapi Crystal Palace sangat tulus. Aku mencintai tim ini seperti aku mencintai orang tua, istri, dan kedua anakku. 30 gol yang aku buat memang karena aku harus bermain maksimal dan memberikan yang terbaik untuk tim yang juga memberikanku harapan untuk menjadi manusia yang lebih beradab. Tapi maaf, jika akhirnya aku tetap harus meninggalkan kota indah ini.

Terima kasih atas cita, cinta, air mata, dan perjuangan kalian yang membuatku merasa dianggap sebagai seorang pemain sepak bola. Chant-chant indah yang dikumandangkan tiap laga, banner serta bendera bergambar sosok diri ini, hingga semua pembelaan semu atas semua masalah yang kubuat. Aku mengerti, sakit hati pasti mengetahui kenyataan ini. Sama seperti apa yang aku rasakan.

Tetapi, pada akhirnya aku adalah pesepak bola yang memiliki mimpi. Aku adalah kepala keluarga yang ingin memiliki anak-anak yang besar dengan nuansa yang memadai. Dan aku bukan sosok yang cukup sabar untuk menghadapi tekanan yang luar biasa besar.

Sejak dulu, aku memiliki mimpi bermain untuk Barcelona. Salah satu tim dengan sejarah dan prestasi luar biasa di eropa. Tidak, aku sama sekali tak bermaksud membandingkan mereka dengan Liverpool, yang aku tahu juga tak kalah besar. Tetapi, ini adalah mimpi. Bahkan mimpi sebelum aku berkostum The Reds. Pun dorongan dari Sofia dan ayahnya yang menginginkanku untuk menyebrang ke Catalan, membuat tekad ini semakin bulat.

Aku hanya bisa meminta maaf karena harus mengingkari janji untuk merasakan atmosfer luar biasa Anfield di Liga Champions. Aku harap kalian semua bisa mengerti dan tak menganggap aku seburuk pemain yang berkhianat di menit terakhir transfer itu. Setidaknya, aku memberikan waktu kalian untuk mengetahui fakta yang terjadi dan alasanku untuk pergi. Apa pernah si Pirang itu membuat surat seperti ini? Alasan dia pergi meninggalkan kalian saja masih tak jelas sampai detik ini.

Adalah sebuah kebanggaan besar pernah merasakan jersey merah yang melambangkan semangat tinggi. Steven Gerrard adalah kehidupan. Dia faktor kunci mengapa Liverpool masih memiliki identitas sebagai klub besar hingga saat ini. Tanpanya, mungkin aku akan hengkang lebih cepat.

Jika ada yang patut kalian syukuri, bukanlah sempat memilikiku. Namun, memiliki seorang manajer istimewa bernama Brendan Rodgers. Dia adalah sosok yang bisa membuat para pemain mengeluarkan kemampuan terbaik. Tanpanya, aku tak akan tampil seistimewa musim lalu. Tanpanya, Liverpool tak akan mampu jadi pesaing juara engan skuat seadanya. Tanpanya.... Jangan sampai "tanpanya" menjadi benar-benar terealisasi. Jika ada sosok yang harus kalian jaga, dia adalah B-Rod (Hati-hati karena aku mendengar kabar FA mulai muak dengan Roy Hodgson).

Akhir kata, selamat tinggal Kopites. Cinta memang jahat dan begitulah faktanya. Aku harus pergi menggapai cinta yang lain, tapi selayaknya cinta, pelakunya tak akan mampu melupakan kisah yang sudah terlewat. The Reds akan selalu ada dalam hati dan menjadi kenangan indah dalam perjalanan karier ini. Lupakan aku sebisa kalian. Pasti akan ada sosok yang tak kalah luar biasa dan menjadi pendamping Gerrard untuk mengangkat trofi Premier League nantinya. Adios, Liverpool FC.


                                                                                                                                Sincerely, Luis Alberto Suarez Diaz
Read more ...

July 6, 2014

Support Not Blame

Love, cinta atau apapun namanya dalam dunia ini pastilah indah walaupun kadang tak seindah kata Mario Teguh oleh sebagian orang yang dikhianati oleh cinta. Cinta akan selalu ada dibumi ini, tak jelas asal nya dari mana dan kapan datangnya, cinta akan selalu ada dikehidupan kalian.


Bagi yang pernah merasakan cinta pasti tau bagaimana rasanya. Indah, selalu ingin bertemu dan terkadang lupa akan semua yang terjadi, kadang logika macam pelajaran matematika pun tak bisa menjelaskan cinta.

Terlihat bodoh adalah salah satu efek dari cinta tersebut, logika logika hilang seketika tak mampu memberi penjelasan pasti mengapa diri ini jadi seperti ini. Dalam hal ini biasa disebut dengan nama "Cinta Buta" cinta yang bisa dikatakan cinta yang tak memandang apapun lagi dan berfikir hanya dia yang benar dan selalu ada (walaupun kadang fikiran itu salah).

Cinta banyak macam nya, dari cinta orang tua kepada anaknya, cinta nenek kepada cucunya,cinta kalian ke pacar atau cinta teman ke pacar kalian, ataupun cinta kepada klub sepak bola seperti Liverpool contohnya,

Cinta kepada klub mungkin akan menjalar ke sipemain yang bermain untuk klub kesayangan nya, begitu pun sebaliknya. Seberapa bagus nya dia, seberapa tak senonoh kelakuan nya kau akan memberikan pembela'an walaupun itu tak masuk akal karna dia melakukan kesalahan, tapi itulah Cinta Buta

Ketika kau mencintai seseorang dan dibutakan oleh orang tersebut, kesalahan seberapa besar apapun akan diterima karna kita mencintainya, kadang orang berfikir bahwa itu suatu kebodohan namun itulah efeknya cinta.

Salah adalah kata yang pas untuk deskripsi "Cinta Buta" tak bisa membedakan yang benar ataupun salah, tapi akibat terlalu sering nya disakiti dan dikhianati logika pun muncul, apalagi sekarang ada sosok akun akun motivator yang memberikan pencerahan layaknya nabi yang mendukung logika dikepala.

Logika bermain pasti, tak bisa diganggu gugat. Menurut logika jika pasanganmu tak menghubungi mu, berarti dia tak mencintaimu, sedangkan Cinta berkata mungkin dia sedang sibuk atau apalah. Bermacam hal dikepala bisa dimentahkan oleh Cinta dalam hati walaupun itu diluar nalar.

Saga transfer Suarez memasuki episode baru, FIFA sebagai otoritas sepak bola dunia menghukum Suarez 4 bulan tak boleh melakukan kegiatan sepak bola karna mengigit Chiellini, namun boleh melakukan kegiatan transfer dan cek medis. Hukum yang sangat indah dari FIFA untuk klub peminat Suarez dan hukum tak adil bagi Uruguay dan Liverpool.

Bagaimana bisa seorang pemain tak boleh ikut latihan diklub nya sendiri atau berfoto untuk skuad musim depan tapi boleh melakukan tes medis diklub lain? Gila? Ya bagi saya itu adalah gila.

Sudah berapa kali Suarez melakukan kesalahan, dari masalah rasisme ke sosok ganteng diklub sebelah, menggigit Ivanovic di EPL dan dihukum 10 pertandingan, apakah dimaafkan? Ya itu dima'afkan karna Suarez bisa menutupi kesalahan dengan goal serta assist nya. Cinta? Ya kita mencintainya karna perform nya dilapangan.

Bagi mereka yang mungkin percaya filosofi no one bigger than club mungkin merelakan Suarez pergi, namun bagi saya atau Kopites yang cinta akan Suarez tentu tak rela jika dia pergi, kenapa? Bukan masalah ketakutan tak ada sosok pengganti yang sepadan tapi saya sudah cukup kehilangan dari sosok Torres.

Cinta buta membuat saya berfikir Torres tidaklah akan pergi jika tak dijual oleh klub dan itu adalah kesalahan, sampai akhirnya teori cinta buta saya itu mentah ketika sang kapten Steven Gerrard membahasnya dibuku otobiografi nya. Torres ingin pergi dari klub karna ingin mendapatkan trofie, sakit? Tentu saja.

Saat kehilangan seorang yang dikagumi, datanglah dua orang pengganti dalam sosok Suarez ditemani seorang berambut poni kuda bernama Andy Carroll, dua sosok yang di proyeksikan menggantikan Torres. Suarez mampu menjadi idola baru, menggantikan sosok yang memakai jersey biru dan jadi bahan lelucon diakun akun lawak macam Footy Jokes dkk sedangkan Carroll?mungkin tak usah dibahas.

Pengganti sepadan dan lebih hebat dari sosok sebelum nya membuat pintu hati ini kembali terbuka dan menerima cinta baru walaupun kadang Suarez melakukan hal hal aneh dari rasis sampai menggigit. Tapi tetap sosok dia tak tergantikan dilini depan dan dihati para suporter.

Ketika Suarez melakukan rasisme kepada E**A para pemain Liverpool mensupport dengan memakai kaos bergambar Suarez sebelum laga. Support nyata dari para pemain untuk Suarez. Apakah Barca atau klub peminat Suarez akan melakukan itu andai kata Suarez kembali bermasalah? Entahlah,yang pasti Liverpool yang berfilosofi You'll Never Walk Alone membuktikan bahwa YNWA bukan cuma theme anthem atau hanya ukiran di Shankly Gates.

Layaknya seorang pecandu narkoba, Suarez tak seharusnya mendapat cacian ataupun hina'an karna kelakuan nya, atau hukuman yang sungguh tak adil, bukan membenarkan kelakuan nya tapi Suarez hanya butuh support dari para Kopites dan orang terdekat untuk berubah, percuma hukuman jika tak ada support, Suarez akan kembali menggigit lagi.

Dalam sebuah lagu The Beatles ada sebuah lirik No one you can save that can't be saved,
Nothing you can do but you can learn how to be you in time, It's easy, All you need is love. Jadi yang dibutuhkan Suarez hanyalah cinta, selama dia masih berseragam Liverpool patut bagi Kopites mendukungnya.

Stay with me Suarez cause you're all we need #YNWA

Ditulis oleh: @zaky_theredz
Read more ...

June 29, 2014

Persulangan Cinta dan Benci: Luis Suarez

Luis Alberto Suarez Diaz, familiar? Satu, apakah dia seorang pemain hebat dengan kemampuan mumpuni dalam mengolah si kulit bundar dan memiliki naluri gol mematikan ketika berada di depan jala lawan? Atau dua, seseorang yang  bergigi  berkemampuan menonjol asal Amerika Latin yang memiliki kebiasaan unik mencicipi rasa daging manusia laiknya Hannibal Lecter? Sayangnya kini poin kedua lebih merekat kepada citra seorang Luis Suarez. Saat ini dirinya lebih digembar-gemborkan sebagai tukang gigit orang ketimbang seorang pebola handal dengan skill kelas dunia. Terlebih skandal terbarunya kini juga tidak jauh-jauh dari masalah gigit-menggigit.  Setelah lumayan hit dengan episode cita rasa Maroko dan Serbia pada dua edisi sebelumnya, dalam episode terkini dari acara Wisata Kuliner bersama Luis Suarez, membahas soal rasa seorang Italia.

Sudah jelas memang bukan kali pertama Suarez menggigit orang dan FIFA atau siapapun itu yang berwenang atas kasusnya mungkin sampai jengah karena sang pemain  tak kunjung jera. Sampai dikeluarkan hukuman match-ban selama 4 bulan dalam segala aktivitas sepakbola. Baik level timnas, klub atau bahkan hanya sekedar melemaskan kaki di training ground saja haram hukumnya. Berlebihan? Iya.

Kita mencintai Luis Suarez sebagaimana kita terkadang juga “membencinya”, tidak peduli  berapa banyak ulah yang telah ia perbuat, disitulah LFC, sebagai klub yang memiliki jasanya berjuang mati-matian untuk membela superstarnya tersebut. Klub, yang kita tau, pasti akan membantunya (untuk kesekian kalinya). Saya tidak tahu jika sang pemain akan tetap berulah setelahnya sampai pada akhirnya mencapai titik jenuh untuk pihak klub, terutama. Tapi ayolah, tidak ada satu klub pun rela kehilangan salah satu bintang terhebatnya dengan cara apapun. Terlepas dari titah King Kenny Dalglish yang menyatakan bahwa “No one is bigger than the club”, tidak ada seorang pun yang bisa lebih besar dari klub. Tapi untuk seorang pemain yang bisa disejajarkan dengan nama2 tenar dunia seperti Messi, Ronaldo, Neymar dsb –no, King, not this time. Suarez sangat berarti, he’s indeed something to fight for. Meski wacana jual-jual-jual tetap akan menghiasi media dalam beberapa periode ke depan. Bahkan beberapa legenda seperti Phil Thompson, Robbie Fowler dan Didi Hamann sudah angkat bicara mengenai sang mega bintang, mereka menegaskan bahwa LFC sudah terlalu baik terhadap Luis dan sekarang saatnya bagi klub untuk bertindak tegas. Dijual? Ya itu salah satu langkah “tegas” yang dimaksud. Tapi saya bertaruh tidak ada se-Kopite pun yang dapat legowo melihat kepergian sang bintang (setidaknya sampai pemain sepadan didatangkan). Yes ,he’s a cunt…our beloved thundercunt.

Dalam sepakbola modern dewasa ini, yang sudah memiliki kesamaan laiknya guratan pena yang membentuk sebuah skenario drama. Dimana di situ ada peran protagonis dan antagonis. Sebagian besar berhasil menghadirkan kesan baik pada Lionel Andres Messi, sebagaimana mereka juga berhasil dalam menciptakan aura bad-boy pada Cristiano Ronaldo. Dan untuk Suarez, dia adalah penjahat, kriminal dan sumber dari segala yang buruk-buruk – yang konon menjadi kesekian setelah alkohol,pornografi, marijuana dan Grand Theft Auto. Niscaya akan nyaris sulit dipercaya jika ada seorang anak yang dengan polosnya  berkata ingin menjadi pesepakbola hebat seperti Luis Suarez. Mungkin akan memiliki konteks yang sama seperti “Saya ingin menjadi penjahat sejenius Joker” atau “Saya ingin menjadi pencuri sehebat Arsene Lupin” dsb.

Namun penjahat bagi suatu kaum adalah pahlawan bagi suatu kaum juga. Di kampung halamannya sana, Uruguay, terlepas dari bagaimana sebagian besar isi semesta mengutuk Suarez,  dukungan untuk sang bintang juga tak kalah deras mengalir dari publik tanah airnya. Hal yang dapat dicerminkan oleh dukungan dari rekan2 di timnas Celeste, federasi sepakbola negerinya, bahkan dari sang kepala negara.  Bintang sekaligus kapten timnas Ghana, Asamoah Gyan bahkan berkata bahwa ia siap untuk melakukan apapun demi tanah airnya  termasuk untuk menjadi bedebah kotor  laiknya Suarez. Jika itu memang perlu, kenapa tidak?

Dalam menghadapi suatu permasalahan, manusia sejatinya dibekali oleh Tuhan YME dua hal: Emosi perasaan dan Akal sehat logika. Maka untuk soal Luis Suarez, adalah emosi dan sentimental semata yang mengatakan bahwa Suarez adalah penjahat, disgrace, cheater, racist, thundercunt dan segala macam predikat buruk yang ada di seluruh muka bumi ini untuk dirinya. Sah-sah saja. Namun jika kita dan mereka mau memberi sedikit ruang untuk logika, adalah naïf jika anda tidak mau seorang Suarez berada di klub anda. Pesepakbola hebat dan juga seorang yang siap memberikan yang terbaik untuk setiap pihak yang ia bela (dengan cara apapun). Dia adalah seorang insan sepakbola yang brilian, terlepas dari kecintaannya terhadap skandal dan kontroversi.


Cinta dan benci umumnya adalah dua hal yang tidak bisa menyatu. Namun jikalau ada dan perlu suatu hal yang dapat menyatukan mereka di satu meja sembari beradu gelas bersulang, pastilah hal tersebut mengandung: Luis Suarez. 

Artikel ini ditulis oleh: @demas_sasongko
Read more ...

June 16, 2014

"Kita Dipaksa Menonton Timnas Inggris"



Tak ada yang lebih indah ketimbang menjadi fans netral pada Piala Dunia kali ini. Tak bermaksud untuk menjadi sombong dengan tak memiliki tim jagoan dan berkata bahwa negara yang kami dukung hanya Timnas Indonesia, tetapi ketika anda menjadi sosok netral, akan banyak titik menarik yang bisa ditelisik. Entah titik negatif maupun positif.

Entah mengapa, saya tak terlalu tertarik dengan timnas Jerman pada kompetisi ini. Ya, saya menyukai cara Jerman dalam mengembangkan kompetisi, pemain muda, hingga teknologi sepak bola mereka, dan memutuskan menjadi pendukung mereka sejak 2010 lalu (Fuckin Glory Hunter, Yes I'm), tetapi entah. Untuk saat ini, tak ada satu tim pun yang memaksa saya untuk harus menontonnya, termasuk Jerman.

Terperangkap dalam fanatisme tak selalu menyenangkan. Sudah merasakan hal ini pada level klub, menjadi objektif pada level internasional dirasa menjadi pilihan yang paling bijak. Namun, bolehkah saya berkata bahwa fanatisme kepada Liverpool membuat kami terpaksa untuk mengikuti sebuah negara yang Overrated di Piala Dunia?

Ketika Piala Dunia atau Piala Eropa bergulir, banyak fan sebuah klub terpecah untuk membela negara-negara tertentu. Khusus The Reds, cukup banyak fan yang memilih untuk menjadi penggila The Three Lions. Bukan tanpa alasan memang, ketika Inggris membawa enam pemain Liverpool ke Brasil pada perhelatan ini. Tak terbatas pada tahun ini saja, membela sebuah tim dari negara tertentu membuat kita lebih memilih negara apa yang kita dukung dalam kompetisi sepak bola seperti ini. Tinggal ikuti negara dari klub yang kita dukung.

Tetapi, ada mereka yang memang memiliki antusiasme luas akan sepak bola dan memilih negara-negara di luar klub favorit. Bahkan, memilih negara dimana tak ada pemain dari klub favorit mereka di dalamnya. Fan The Reds yang membela pelbagai negara pun cukup beragam, terpecah secara teratur.

Anda acap menghina timnas Inggris. Wajar melihat negara yang berisikan banyak pemain bintang ini tak mampu berbuat banyak pada kompetisi internasional pada sepak bola modern. Prestasi terakhir mereka terjadi 1966. Sudah cukup lama. Fabio Capello, pelatih kelas dunia sudah mencoba memimpin tim ini tapi tak juga berhasil. Saat ini, pelatih paling berpengalaman tanpa prestasi yang memadai mencoba peruntungannya. Timnas Inggris mencoba meraih sesuatu bersama Roy Hodgson.

Tapi, akan terjadi perbedaan signifikan pada Piala Dunia kali ini. Menilik dari laga pertama Inggris vs Italia, yang saya yakin ditonton oleh semua fan Liverpool, rasanya Inggris akan memaksa Kopites untuk mengikuti mereka di ajang ini.

Timnas Inggris saat ini tak bisa dimungkiri sangat terpengaruh oleh Liverpool. Memanggil Steven Gerrard, Glen Johnson, Jordan Henderson, Daniel Sturridge, Raheem Sterling, hingga pemain anyar Rickie Lambert, menjadi bukti sahih. Itu belum termasuk Jon Flanagan yang berada di skuat tunggu sebelumnya dan psychiatrist seperti Steve Peters yang ikut membantu The Three Lions.

Pengaruh Brendan Rodgers yang berhasil memberikan efek signifikan atas kemajuan Liverpool musim lalu membuat Hodgson tak memiliki pilihan. Rodgers membuktikan bahwa pemain-pemain Inggris memiliki kemampuan taktikal yang mumpuni, tak seperti pandangan kebanyakan orang yang menganggap pemain Inggris hanya bermain seadanya dengan Kick and Rush kuno.

Inggris asuhan Hodgson tak akan mampu menyamai filosofi Liverpool di tangan Rodgers. Namun, setidaknya The Owl bisa memasukkan sedikit unsur The Reds di timnya kali ini. Terlihat saat laga melawan Italia. Meski Gerrard tak terlalu maksimal, Henderson terbilang melakoni perannya dengan sangat baik dalam menyeimbangkan lini tengah. Menempatkan Sterling sebagai trequartista juga pilihan jitu melihat sang pemain menjadi sosok paling berbahaya di skuat Inggris saat itu.

Daniel Sturridge? Terlihat sang pemain menjadi sosok yang paling berupaya keras menembus Catenaccio Italia yang akhirnya terlihat pada laga tersebut. Gol semata wayang Inggris pun datang dari striker Liverpool itu. Sayang, Sturridge mengalami cedera dan harus ditarik keluar. Sterling kehabisan tenaga pada babak kedua. Dan Glen Johnson, ya Glenjo tetap menjadi Glenjo seperti biasa, tak ada gunanya.

Banyak pundit dalam negeri maupun luar berkata bahwa Inggris memerlihatkan permainan atraktif yang tak pernah mereka lakukan sejak 2002. Meski takluk, Inggris takluk dengan mengesankan, walau bagi saya kalah adalah kalah. Terlepas dari permainan tim tersebut cantik atau buruk.

Ketika Anda melihat starter The Three Lions didominasi pemain Liverpool dan Everton, dan hanya ada satu pemain Manchester City, Chelsea, dan Manchester United di dalamnya, Anda sebagai fan Merseyside Red pun tak memiliki pilihan untuk melewatkannya. Meski minat anda bukan di Timnas Inggris, tapi Anda terpaksa untuk menonton dan mengintip performa penggawa The Reds di level timnas.

Anda akan mudah meledek Woy karena kebodohan-kebodohannya dalam mengambil putusan. Atau karena dinamika ekspresi dia berada satu tingkat di atas David Moyes. Tetapi, Anda tak bisa memungkiri bahwa cara Moyes mentranformasi tim yang berisikan banyak pemain Liverpool dan pemain muda menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak.


Kita semua bebas menghina Hodgson, timnas Inggris, Wayne Rooney hingga Danny Welbeck. Tetapi, jangan pernah menyangkal seburuk apapun tim ini, mereka akan memaksa kita untuk menonton tiap kiprahnya di Piala Dunia. Dan ada sedikit doa untuk Steven Gerrard mengangkat piala yang paling sulit diangkat ini.
Read more ...