September 22, 2014

Y.N.W.A


Akhir pekan lalu, Sabtu (20/9), Liverpool menyambangi Santiago Bernabeu di ajang lanjutan Liga Champions, yang tentu saja adalah markas besar Real Madrid. Jika ditilik dari rekor pertemuan, The Reds yang datang sebagai tim tamu disebut punya modal kuat untuk mencuri poin di ibukota.

Di pertemuan terakhir saja, dengan Iker Casillas sedang berada di puncak penampilan tak bisa menghadang Steven Gerrard dan kawan-kawan memberendel gol. Apalagi seperti sekarang di mana mereka saja harus kalah dua kali di kandang sendiri di awal musim.

Seperti layaknya partai-partai besar lainnya, Brendan Rodgers sebelum laga menyampaikan dalam konfrensi pers bahwa Liverpool tidak punya masalah dengan mengantisipasi bola-bola mati. Itu berarti masalah kebobolan dengan cara yang aneh melawan Aston Villa bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan.

Tentu saya manggut-manggut setuju. Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo tidak akan pernah mengancam karena Liverpool punya Javier Manquillo, yang dulunya bermain untuk Atletico Madrid B, dan Alberto Moreno, yang ikut membawa Sevilla ke tangga juara Europa League bersama Sevilla, tampil menawan di laga-laga sebelumnya.

Apa lacur, laga di Santiago Bernabeu itu berakhir tak seperti yang diperkirakan. Belum apa-apa berawal dari bola mati, tuan rumah berhasil mencetak gol lewat aksi Sergio Ramos yang tak terkawal di depan gawang.

Saat itu saya berpikir, mungkin salah menerjemahkan komentar Brendan Rodgers di awal laga tadi. Mungkin sebenarnya ia khawatir dengan kemampuan anak asuhannya bertahan dari situasi set piece. Ya, mungkin saya yang salah.

Tapi kemudian Cristiano Ronaldo menceploskan bola dengan cara yang luar biasa. Entah apa yang dimaksudkannya pertama kali, tapi ia berhasil melob bola di dalam kotak penalti ke tiang jauh gawang Simon Mignolet.

Berusaha menemukan alasan logis, saya berpikir namanya juga peraih Ballon d'Or -- pemain terbaik dunia, apa yang tak bisa dilakukannya dengan bola. Gol-gol seperti itu sering dilakukannya, saya saja yang payah tak pernah menontonnya berlaga sebelum-sebelumnya.

Lucas Leiva yang saya kagumi, malam itu gagal bersaing dengan trio gelandang Real Madrid yang dipenuhi bintang hingga akhirnya diganti. Toni Kroos, Luka Modric dan James Rodriguez menjelajahi lapangan semau mereka. Steven Gerrard yang berperan sebagai gelandang bertahan sampai gagal melakukan umpan terobosan, tidak melakukan tembakan, dan gagal memenangi tekel.

Jika melihat mewahnya tiga gelandang yang digunakan Carlo Ancelotti, nampaknya wajar jika dua pemain Liverpool di atas gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya. Wajar, dong. Namanya juga lawan Real Madrid.

Paruh babak kedua dimulai, Adam Lallana menggantikan Lucas. Pasti karena alasan ia lebih tampan dari pemain asal Brasil itu. Tapi hasilnya terbukti lebih baik, Liverpool mendominasi laga. Terbukti terjadi peningkatan dibanding laga kontra Aston Villa di mana hanya ada satu tendangan yang mengarah ke gawang dibanding enam saat berhadapan dengan Los Blancos.

Saat The Reds begitu dekat dengan gol penyama kedudukan ditambah Don Carletto sudah menggunakan semua pergantian pemainnya, sedangkan Toni Kroos yang mengenakan nomor punggung 8 dan berbaju ungu terlihat terpincang-pincang -- secara menakjubkan Gareth Bale yang pernah mengakhiri musim dengan torehan 0 gol dan 0 assist bersama tim yang tidak tau apa itu memberikan umpan yang ciamik kepada pemain pengganti Javier Hernandez.

Tentu kekalahan di Bernabeu ini akan jadi lecutan sebelum laga yang diprediksi akan biasa-biasa saja di Boleyn Ground markas West Ham United. Ya, tak masalah meski akhir-akhir ini Diafra Sakho dan Stewart Downing sedang senang sekali membobardir gawang lawan-lawan antah berantah mereka itu.

8-2? Ah, kalau melihat kemungkinan Glen Johnson bisa kembali pulih fit total dalam kurun waktu sepekan lagi, Downing dan Sakho yang biasa bertukar posisi harus ketar-ketir menghadapi sang bek paling tangguh di tanah Britania itu. Dan siapalah itu, Mark Noble, Cheikhou Kouyate dan Alex Song, yang cuma jadi cadangan di Barcelona.

Belum lagi ditambah semakin kompaknya Dejan Lovren dan Mamadou Sakho yang akan membuktikan diri kebenaran ucapan Rodgers bahwa mereka bisa melakukan man-to-man marking dan tidak akan menyundul bola ke arah Gareth Bale seperti akhir pekan lalu. Ya, pasti kedua pemain yang ditotal seharga 36 juta pounds ini pasti bisa menggantikan peran Daniel Agger yang sudah pulang kampung.

Dengan begitu, keoptimisan meraih tiga poin bukan hanya di pikiran belaka, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa apalah anak muda tanpa berpikir positif. Tentu saja, saya optimis menang, toh lawannya cuma West Ham United.

Y.N.W.A

Ditulis dengan khidmat oleh: @MahendraSatya
Read more ...

September 18, 2014

Balotelli, Anak Bandel yang Butuh Perhatian


Fabio Borini diminta untuk bersiap di tepi lapangan oleh Brendan Rodgers, sang pelatih yang hampir saja membawa Liverpool juara Liga Inggris musim lalu itu sepertinya mulai gerah dengan kebuntuan yang dialami timnya dalam laga debut Liga Champions musim ini. Saat itu saya mengira mungkin Borini masuk untuk menggantikan Mario Balotelli. Dalam dua laga Premier League yang dimainkan Balotelli sebelumnya, si anak baru dari Italia ini selalu tampil sebagai starter, namun di dua laga itu juga Balotelli tidak bermain penuh 90 menit. Mengingat catatan tersebut, ternyata dugaan saya salah, 'Super Mario' tidak ditarik keluar.

Bermain di hadapan pendukung timnya sendiri, ini merupakan kesempatan terbesar bagi Balotelli untuk membungkam keraguan dari para fans terhadap dirinya. Mungkin anda salah satu fans Liverpool yang geregetan melihat performa Balotelli di lapangan, stereotip penyerang malas sudah begitu melekat di dirinya. Perasaan tersebut sangat wajar, saya sebagai fans Azzurri juga sangat kesal melihat performa Balotelli bersama Italia yang kerap kali lebih banyak berjalan kaki sembari sekali-kali melontarkan kekesalan terhadap wasit secara berlebihan. Namun Brendan Rodgers tentu memiliki pandangan lain, yang mana memang dirinya memiliki angle pengamatan yang jauh lebih baik daripada kita yang hanya menyaksikan Balotelli melalui layar kaca, atau jika lebih beruntung seperti para fans Liverpool yang duduk di tribun Anfield bagian belakang gawang Borjan kiper FC Ludogorets.

Awal kembalinya Balotelli ke Premier League musim ini pun banyak menghiasi headline berbagai media, namun bukan gol-golnya yang menghiasi media, berbagai tingkah nyelenehnya saat latihan bersama Liverpool-lah yang memenuhi media. 'Berulah' seperti sudah menjadi ciri khas dirinya, Balotelli seolah-olah memiliki magnet yang dapat selalu mengundang perhatian. Belum lagi ia pernah membakar rumahnya karena bermain kembang api di kamar mandi saat ia masih berseragam biru muda.

Tapi rasanya tidak adil jika mengatakan Balotelli hanya menjadi perhatian melalui ulahnya di luar lapangan, Balotelli juga bisa mengundang perhatian melalui aksinya di lapangan. Sebuah tendangan mendatar ke pojok gawang Manchester United adalah salah satu aksi Balotelli yang paling menyita perhatian dunia saat dirinya membela Manchester City, bukan golnya yang ramai dibahas, tetapi tulisan 'Why Always Me?' yang ia pamerkan saat melakukan selebrasi. Berkat aksi tersebut, apparel asal Inggris Umbro yang saat itu menjadi sponsor City ketiban rezeki besar, Umbro memproduksi lebih banyak kaos bertulisan 'Why Always Me?' karena kebanjiran pesanan.


Perlu diakui, Balotelli juga ada di sana, di jajaran penyerang tengah terkuat dunia saat ini. Postur tinggi besarnya merupakan keunggulan yang disukai Rodgers. Dua bek Ludogorets mencoba menganggu dan merebut mainan si bengal, namun si anak bandel ini pun tidak mau menyerahkan mainannya. "Ia setinggi enam kaki tiga inchi dan unggul di udara. Saat crossing itu datang, ia menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa, sebuah sentuhan, lalu menyelesaikannya dengan brilian. Ia menggunakan teknik hebat menggunakan kaki bagian luar. Gol itu akan memberinya kepercayaan diri yang besar," ujar Brendan Rodgers.

Mungkin anda familiar dengan pernyataan Balotelli yang tidak begitu suka merayakan golnya dengan mengatakan "Mencetak gol adalah pekerjaanku, apakah tukang pos melakukan perayaan ketika mengantarkan suratnya?," jika memang demikian, maka tadi malam Balotelli sedang menjadi tukang pos yang berhasil mengantarkan surat setelah berjam-jam kesasar dan akhirnya menemukan alamat yang dituju. Balotelli begitu meledak-ledak merayakan gol yang ia sarangkan ke gawang Ludogorets, fans Liverpool di Anfield pun sontak melompat kegirangan.

Sebagai sedikit perbandingan dengan gol yang ia cetak ke gawang Ludogorets, mungkin anda perlu mengetik di kolom pencarian Youtube "Balotelli goal vs Mexico", silahkan anda lihat, kurang lebih Balotelli mencetak gol dengan gaya yang mirip yaitu mengontrol, menjaga keseimbangan tubuhnya yang besar, sebelum mengeksekusinya ke gawang Ochoa di ajang Piala Konfederasi 2013. Hal ini jugalah yang membuat saya berpikir jika Balotelli adalah salah satu penyerang tengah terkuat (bukan terbaik) di dunia.

Dengan demikian rumitnya tingkah laku pemuda Italia ini mengapa Rodgers mau merekrut pemain bengal ini dengan mahar 16 juta euro? Sekali lagi saya ingin mengatakan ada detil metode Rodgers dalam menangani pemain yang kita tidak tahu persis. Apakah anda ingat musim lalu Raheem Sterling tidak begitu menyita perhatian di paruh pertama kompetisi Premier League? Bahkan pemain yang dianggap sebagai pemain langka di Inggris ini sempat mendapat kritik keras dari pelatihnya di bulan September 2013, Rodgers mengatakan bahwa Sterling perlu membuat hidupnya lebih stabil terkait penyerangan yang ia lakukan yang membuatnya sempat berurusan dengan pengadilan.

Respon dari Sterling atas kritikan tersebut sangat mengesankan, Sterling menunjukkan pengingkatan signifikan baik dari segi fisik maupun permainan. Jalur karir Sterling semakin lurus. Pemuda 19 tahun juga mengungkapkan bahwa kepercayaan dirinya semakin meningkat. Ada cara pendekatan Rodgers yang baik di sini, detilnya saya tidak tahu persis. Merekrut Balotelli juga sudah pasti ia pertimbangkan resikonya, dan tentu ia memiliki keyakinan bahwa dirinya dapat menangani si bengal dari Italia ini dengan baik.

Lagi pula anak bengal biasanya hanya perlu sedikit perhatian lebih dari ayahnya, dari efek positif yang ditunjukkan Sterling, rasanya Rodgers juga bisa menjadi 'ayah' yang baik bagi Balotelli. Rodgers jelas memiliki keyakinan terhadap Balotelli.

Ditulis oleh: @zicostian
Read more ...

September 2, 2014

"Kamu Terlalu Baik Buat Aku.."


Cinta menjadi sesuatu yang sangat indah di dunia. Cinta membuat kita semua merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ketika sedang jatuh cinta, kita bisa lupa dengan segala hal yang ada dikeliling. Pekerjaan, pendidikan, uang, dan segalanya. Cinta menjadi sihir tersendiri dan membuat kita abai.

Namun, tak jarang cinta berubah dan memiliki tanduk. Kemudian membunuh hati para penikmatnya dengan sayatan-sayatan pelan di lubuk hati terdalam. Para korban yang berjatuhan pun beragam. Ada yang tak bisa melupakan pada jangka waktu yang panjang. Bahkan ada yang nekad mengakhiri hidup hanya karena tak bisa kehilangan.

Cinta oh Cinta. Selalu ada drama yang mampu membuat penikmatnya pusing bukan kepalang. Rasa sedih dan bahagia menjadi satu dengan indahnya dan menjelajah dari ujung hati sampai akar pikiran. Cinta, bisa buta bisa terlalu menyala.

Karena itu, izinkan saya untuk sedikit bercerita tentang kisah cinta sepasang yang bertolak belakang tapi mampu berhubungan. Danny dan Poli.

Pada 2006, keduanya memulai hubungan yang tak diprediksi. Danny adalah pria tampan yang menjadi pentolan di salah satu sudut kota tempat dia tinggal. Acap menjadi pemimpin di sudut-sudut gang, memiliki banyak tato di sekujur badan, sekaligus bekerja magang sebagai artis tato, ditambah wajah tampannya, semua wanita pasti akan luluh hatinya oleh dia.

Berbeda dengan Poli. Dia adalah gadis sederhana yang memilih untuk membaca buku di gramedia tanpa membelinya. Poli tak mengenal rokok dan alkohol, sesuatu yang menjadi keseharian Danny. Poli acap memakai gaun sederhana berwarna merah, kacamuka jadul dan mengikat rambutnya dengan ikatan kuncir kuda.

Keduanya bertemu tak sengaja ketika Danny sedang mencari sebotol Carlsberg di supermarket. Tak diduga Poli juga sedang belanja sayur-sayuran untuk keperluan rumah. Danny yang terkenal blak-blakan tertarik dengan Poli dari pandangan pertama. Tak lama setelah itu, mereka berdua meresmikan hubungan dan menjadi kekasih.

Kelebihan Danny jelas menjadi sorotan juga untuk Poli yang selama hidup jarang mendapatkan seseorang yang spesial dari luar dan dalam. Hubungan keduanya berjalan romantis. Meski memiliki tampilan luar garang, ternyata Danny adalah sosok yang sangat terpuji. Dia sopan, penyayang, dan tak jahat jika bersama orang-orang yang disayang.

Bahkan, Danny adalah orang yang sangat pengasih kepada pengamen jalanan. Hampir tiap hari dia memberikan sedikit uang jika menemukan anak-anak tidak mampu. Tak jarang juga dia memberikan tato gratis bagi orang-orang tak mampu yang ingin memiliki tato.

Danny mencintai Poli apa adanya. Dia tak pernah menuntut apapun. Poli pun sangat mencintai Danny. Hingga hubungan berjalan delapan tahun lamanya.

Memang delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Namun, selama delapan tahun itu, Tulus belum menjadi penyanyi dan belum ada lagu "Jangan Cintai Aku Apa Adanya". Poli merasa hubungan mereka semakin monoton. Pasangan ini memang jarang bertengkar.

Bahkan Danny memerlihatkan rasa cinta yang luar biasa besar hingga membuat tato nama Poli di jemarinya. Namun, rasa tak pernah salah. Cinta pun tak pernah bohong. Jika ada masalah, pasti terlihat ke sang pasangan.

Kesetiaan Danny selama ini dianggap sesuatu yang membosankan oleh Poli. Sedikitnya masalah, tak ada konflik nyata, dan datarnya hubungan menjadi sesuatu yang salah bagi gadis berkacamuka tersebut. Apalagi, Danny terkadang tidak peka akan hal ini. Pun membuat lelaki bertato itu tak mengubah sikapnya karena tak tahu juga apa yang diinginkan Poli.

Poli sendiri tak memberikan kode kepada Danny terkait hal-hal yang janggal pada hubungan mereka. Alhasil, semakin hari hubungan itu semakin tak jelas dan sangat monoton. Hingga suatu hari, Poli menemukan sesosok yang tak disangka di gramedia.

Dejan. Dejan tak kalah tampan dengan Danny. Pun memiliki hobi yang sama dengan Poli yaitu membaca. Sehingga obrolan mereka langsung padu saat pertama kali bertemu. Belum lagi Dejan adalah tipe pria yang humoris dan pintar membaca situasi. Poli jatuh hati kepada Dejan.

Mencoba menyembunyikan hubungan rahasianya dengan Dejan dari Danny, Poli tak ingin menyakiti hati Danny si Baik Hati. Namun, Danny menyadari ada yang aneh setelah melihat tingkah polah Poli yang semakin cuek dalam beberapa waktu terakhir. Merasa hubungannya semakin janggal. Danny pun langsung bertanya kepada Poli.

Poli tak mampu berbohong lagi. Dia jujur berkata sangat mencintai Dejan dan rasanya kepada Danny berkurang signifikan. "Kamu terlalu baik buat aku.. Aku membutuhkan sosok yang bisa membuat hidup aku lebih berwarna dengan segala macam cirinya. Engkau pasti bisa mendapatkan sesosok yang lebih baik Dan.. Hubungan kita rasanya berakhir sampai disini."

Betapa hancur hati Danny. Tapi, sikap baik dan bijak membuat Danny sama sekali tidak marah mendengar itu. Senyuman tulus malah muncul di wajahnya.

Rasa sakit itu tak diperlihatkan oleh sang setia. Satu yang pasti, Danny ingin melihat Poli bahagia dan turut mendoakan Poli dan Dejan agar menjadi pasangan paling bahagia di dunia.

Terlalu baik. Terlalu baik. Terlalu baik. Cuma itu yang ada dipikiran Danny sepanjang jalan pulang. “Apakah indikator baik itu? Apakah wanita menginkan pria nakal secara menyeluruh sehingga hidup dia di dunia ini semakin menarik?” Ucap Danny dalam hati.

Poli & Dejan memulai hubungan yang diharap bisa berjalan lancar dan panjang. Sedangkan Danny, memilih pulang ke kampungnya dan membuat Studio Tato terkemuka bersama sahabatnya dari Amerika Serikat, Amy.


Yaa, meski ada kebingungan di benak Danny. Tapi satu yang pasti, cintanya ke Poli tak akan pernah mati. Dan doanya untuk sang gadis berkacamuka akan selalu terpatri. 
Read more ...

August 27, 2014

Cepat ‘Sembuh’ Glen7o!



"He's one of the best full-back in the world. Glen is the type of player [without whom] you don’t realise what you’re missing until he is not in the team. It will be great when we get him back. He’s got the cast off his foot now." Sebuah pernyataan dari Brendan Rodgers, Manajer yang berhasil membuat Liverpool kembali menjadi pesaing juara musim lalu dan memberikan identitas pada filosofi tim.

Jika sesosok yang sangat dihormati, dipuja, dan telah membuktikan kapasitasnya memberikan sebuah pernyataan seperti itu, maukah Anda membantahnya? "Rodgers pasti punya rencana untuk Glenjo. Dia tahu apa yang dia lakukan. Lihat Jordan Henderson dan Raheem Sterling!"

Glen Johnson adalah bek kanan lokal paling berpengalaman di Liga paling mahsyur di Eropa, begitu kata banyak orang. Pengalamannya di tanah Britania bisa dibilang sangat banyak. Besar di akademi West Ham United, bek kanan tampan penuh tato ini melanjutkan kariernya di Chelsea kemudian Portsmouth.

Pada usia matang sebagai pesepak bola, 25 tahun, Glen memilih Liverpool sebagai persinggahan. The Reds menjadikan Glenjo sebagai bek termahal mereka dengan menggelontorkan dana 17,5 juta pounds. Benar saja, dia berhasil mencapai 143 caps setelah lima tahun bersama The Reds dan selalu menjadi pilihan utama manajer yang melatih.

Kemampuan pemain ini memang terbilang unik. Meski berposisi sebagai bek kanan, tetapi hasrat dan kemampuan menyerangnya sangat baik. Tak jarang dia melakukan step over bahkan melewati dua hingga tiga pemain lawan. Bahkan ada beberapa fans yang akhirnya menjuluki sang pemain dengan panggilan "Glenjinho", saking stylishnya.

Kemampuannya menusuk ke dalam kotak penalti lawan, melakukan cut inside di luar batas kewajaran, dan sangat versatile, membuat Johnson bahkan sulit tergantikan di timnas Inggris.

Sayang,,,, Masa itu telah berlalu...

Entah terlalu lama berada di tempat nyaman atau kembung karena kebanyakan Bir Hitam, Sang Mulia Glen kini tak ubahnya sosok pesakitan di Liverpool. Jikalau dulu ketampanannya menjadi bahan gosip para selir yang biasa mengamati, kini Sang Mulia harus merajah tubuhnya lebih banyak lagi untuk mencari perhatian, perhatian yang tak kunjung datang.

Setiap Sang Mulia berjalan berkeliling kota pelabuhan, yang datang adalah tatapan sinis tanpa harapan. Setiap dia tampil dan memeragakan ciri khasnya, yang ada gelak tawa tanda merendahkan. Singgasana "kanan" yang sudah lima tahun dia tempati hampir dilengserkan.

Jika ada seseorang yang masih sangat percaya kepada Glen, dia adalah Raja Brendan. Meski telah mendatangkan dua sosok muda istimewa dari Spanyol, Javi Manquillo dan Alberto Moreno, Glen tetap dijadikan pilihan utama pada dua pertarungan awal musim ini.

Performanya buruk. Sangat buruk. Tak ada target dan hasrat dari mata dan gaya dia bertarung. Ling-Lung, satu kata paling tepat untuk Glenjo saat ini. Posisinya pun semakin terpojok. Mungkin, tahtanya hanya bertahan paling lama kurang dari satu tahun lagi.

Mari kita sedikit memandang ke seberang Manchester. Disana ada sosok istimewa yang menempati pos persis dengan Glen. Dia adalah Pablo Zabaleta. Sosok Argentina ini bisa dibilang salah satu yang terbaik di sektornya di ranah Britania. Hebat dalam menyerang, kuat saat bertahan. Anda menganggap saya terlalu jahat membandingkan Glen dengan Pablo?

FYI, untuk kalian yang menganggap kemampuan Glen telah habis karena usianya yang sudah 30 tahun, Pablo hanya satu tahun lebih muda dari Glen. So, umur tidak menjadi faktor kacaunya penampilan Si Hitam Manis tersebut.

Hal yang paling menyakitkan datang beberapa hari lalu. Saat Glen berjuang pada medan perang dan terkena tusukan, hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit, sebagian besar pendukung malah merayakan itu laiknya sebuah kemenangan. Bahkan ada video yang memerlihatkan seorang pendukung merayakan cedera Glen dengan sangat liar laiknya seseorang yang baru saja bercinta dengan Scarlett Johansson. Miris.

Tak baik rasanya mendoakan Glen Johnson untuk tak kunjung pulih. Namun, jikalau dia pulih maka beberapa bulan ke depan adalah kesempatan terakhir untuk menunjukkan kemampuan aslinya sebagai salah satu full back terbaik di dunia. Apakah B-Rod harus memberikannya nomor punggung #7 sebagai motivasi? Jika memang itu yang engkau inginkan, ambil dan jadilah Glen7o! 

Get Well Soon Glen7o. Doa terbaik telah kami haturkan demi kesembuhanmu. Dan berikan 200 persen kemampuan di lapangan. Karena tak ada yang perlu engkau bingungkan. Target Liverpool adalah tampil maksimal pada tiap laga dan mengangkat sesuatu yang indah di akhir musim nanti.


Namun, jika performa, kelakuan, dan hasrat Tempe itu tetap bertahan. Mungkin, ini adalah waktunya Sang Mulia Glen untuk pulang, pulang ke Pangeran Harry yang membesarkannya di London.
Read more ...

August 16, 2014

A Brief History of Lazar Markovic


Benfica V Gil Vicente
Primeira Liga / Liga Zon Sagres, Estadio da Luz, Lisbon, 25 August 2013
Sosok anak muda yang gondrong namun tidak terlihat sangar karena postur tubuhnya yang kecil dan kurus ini tidak sedikitpun terlihat gentar saat dimasukkan menggantikan Eduardo Salvio, winger andalan Benfica pada menit 61. Sepuluh menit kemudian, Maxi Pereira, bek kanan Uruguay dan Benfica melakukan blunder, mungkin akibat kelelahan ataupun kehilangan fokus, dengan kesalahan mengontrol bola yang dimanfaatkan dengan baik oleh Diogo Viana yang berlari dari belakang untuk menyambar bola, seolah telah mengincar kesempatan ini, lalu menceploskan bola ke gawang dengan kaki kirinya. Sepertinya ini akan menjadi debut yang buruk bagi seorang anak muda yang baru masuk tersebut. 19 tahun, pertama kalinya pergi merantau meninggalkan zona amannya menuju negara baru dengan kultur, budaya dan gaya hidup yang berbeda. Menjalani debut dari bangku cadangan mungkin adalah pilihan yang dirasa cukup aman bagi pelatih Benfica, Jorge Jesus, untuk meringankan tekanan di bahu anak muda ini, walaupun sebenarnya anak muda ini sudah tidak asing dengan peran yang biasa dilakoninya dari bangku cadangan.

***

Tiga tahun yang lalu, Benfica sebagai salah satu klub dengan permainan menyerang yang paling menarik se-Eropa baru saja menjual pemain kuncinya Angel di Maria ke Real Madrid senilai 40 juta Euro dan menggantinya dengan winger lainnya asal Argentina juga, Nicola Gaitan. Pembelian tersebut kurang berjalan mulus, sehingga winger lain pun kembali didatangkan dengan status pinjaman di paruh musim bernama Eduardo Salvio dari Atletico Madrid. Walaupun permainan Benfica membaik terutama terbantu akan meningkatnya performa kedua pemain sayap tersebut, namun gelar juara liga masih menghindari mereka pada musim tersebut dan musim depannya. Dua kali Runner-Up jelas membuat frustasi para fans. Peran seorang Angel di Maria di sayap kiri dianggap masih belum bisa digantikan sehingga mendesak manajemen Benfica untuk terus mencari pemain sayap yang berbakat untuk mengisi peran tersebut.

Setahun berlalu. Sementara Benfica masih menaruh harapan kepada Nicola Gaitan dan mempermanenkan Eduardo Salvio yang dianggap telah matang karena sukses menjalani musim pertamanya di Lisbon, Partizan Belgrade, klub tersukses sepanjang masa di Serbia, mempromosikan remaja yang masih berusia 17 tahun bernama Lazar Markovic untuk bergabung bersama tim utama dan bahkan memberikannya tempat di bangku cadangan di laga tandang melawan Sloboda Uzice. Pada tanggal 29 Mei 2011, dengan keunggulan 2-0 untuk Partizan Belgrade, pelatih Partizan saat itu, Aleksandar Stanojević memberikan instruksi kepada anak muda tersebut untuk masuk menggantikan Joseph Kizito pada menit ke-72. Walaupun Sloboda Uzice berhasil mencetak gol penghibur di akhir pertandingan (pertandingan berakhir 1-2 untuk kemenangan Partizan Belgrade) namun permainan anak muda bernomor punggung 50 tersebut mengundang kekaguman dari supporter dan rekan se-timnya. Tidak lama setelah Partizan Belgrade memenangkan Superliga Serbia, Markovic pun menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan durasi 5 tahun sekaligus memberi semangat baru untuk menghadapi musim berikutnya. Musim pertamanya sebagai pemain Partizan juga berbuah manis, mencetak gol pertamanya bersama Partizan Belgrade, mempertahankan juara Superliga Serbia, sekaligus meraih Partizan's Player of the Year serta iklusi dalam 2011–12 SuperLiga Team of the Year selection. Pada musim berikutnya, dia melangkah lebih jauh lagi, mempertahankan inklusinya di tim terbaik liga (SuperLiga Team of the Year selection dua kali berturut-turut) sekaligus kembali mempertahankan gelar juara liga. Panggilan timnas Serbia juga tinggal menunggu waktu dan tidak tanggung-tanggung mencetak gol pada pertandingan keduanya saat laga persahabatan melawan Chile, diperkuat oleh Alexis Sanchez di Estadio Nacional de Chile yang berakhir 3-1 untuk kemenangan Serbia. Dan itu semua diraih pada usia 18 tahun.

Scout-scout dari klub Eropa terus berdatangan. Tentu saja hal ini sesuai dengan keinginan Partizan yang memang memiliki policy membentuk pemain-pemain muda kemudian menjualnya untuk profit klub. Sebagai salah satu remaja lulusan terbaik dari Partizan Youth Academy (Berdasarkan statistik UEFA pada tahun 2012, Partizan Youth Academy menempati posisi kedua dalam memproduksi pemain yang bermain di 31 liga-liga ternama di Eropa, di bawah Ajax Amsterdam, di atas La Masia Barcelona dan Sporting Lisbon Youth Academy) bersama dengan nama-nama lainnya seperti Adam Ljajic, Mateja Nastatic, dan Stevan Jovetic, tentunya menjadi incaran klub-klub Eropa. Penawaran dari Spartak Moskow yang baru saja kehujanan uang dari pemilik baru mereka saat itu ditolak mentah-mentah. Chelsea diyakini menjadi klub terdepan yang berhasil mengamankan tanda tangannya, diperkuat dengan keyakinan bahwa Lazza adalah penggemar Chelsea dan Gianfranco Zola, yang tidak mengherankan karena masa kecilnya yang diisi dengan masa-masa emas Gianfranco Zola di Chelsea (2002-2004).

Namun, deal dengan Chelsea saat itu tidak terjadi. Artikel dari Chris Bascombe menyatakan Lazar Markovic bahkan sudah menemui petinggi-petinggi Chelsea dan berkunjung ke Stamford Bridge, London hingga duduk dinner bersama pemain-pemain Chelsea kala itu. Tidak mengherankan karena saat itu agen dari Markovic berafilisasi dengan Pini Zahavi, yang notabene adalah teman dekat Peter Kenyon, mantan kepala eksekutif Chelsea. Ada kemungkinan Chelsea enggan melakukan transfer dengan Pini Zahavi mengingat rekor buruk Pini Zahavi yang mana saat itu sedang sibuk menangani kontroversi transfer Carlos Tevez dan Javier Mascherano yang kepemilikannya diwakili olehnya.

Dalam kerumitan dan ketidakjelasan transfer dan kepemilikan, akhirnya Partizan Belgrade menyetujui transfer Markovic ke Benfica (fee undisclosed), dengan kontrak lima tahun, mengikat Markovic hingga 2018. Keputusan yang sangat bijak, mengingat pola permainan Benfica yang hidup dari sayap-sayapnya dan sangat menyukai pemain muda dengan flair, teknik dan kecepatan yang bagus.

Kecepatan memang merupakan atribut utama dalam karakter permainan Markovic. Hal yang tidak mengherankan karena dia adalah lulusan sepakbola Partizan, yang mana menjadi sejarah bahwa permainan sepakbola Balkan (khususnya Partizan) memiliki karakter cepat namun sistematis. Selain itu, kecepatan memang mengalir dalam darah keluarganya. Sang ayah, Negoslav Markovic terkenal sebagai pemain yang cepat dan berteknik (Speedster) saat bermain sepakbola di Remont and Borac Cacak, klub lokal amatir di Serbia. Bagaikan buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, bakat dan cara bermain sang ayah tidak jauh-jauh diturunkan ke kedua anaknya, Filip dan Lazar yang setia menemani sang ayah berlatih. Dengan kelebihan terutama dalam hal kecepatan, tidak mengherankan mereka berdua ditempatkan di posisi sayap oleh pelatih Partizan di awal karir mereka.

Keputusannya transfer ke Benfica juga tidak dinilai terburu-buru karena Markovic memang ingin menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMA, di Partizan High School of Sport, terlebih dahulu. Edukasi memang adalah salah satu faktor utama dalam karir Markovic. Latar belakang sang Ayah yang berprofesi di bidang teknik sipil dan menjalankan perusahaannya sendiri dan sang Ibu yang merupakan seorang ahli hukum, membuatnya tidak bisa melupakan pendidikannya. Peran keluarga juga sangat berpengaruh dalam karir Markovic. Menjaga makanan dan minuman, istirahat yang baik serta jauh dari pengaruh alkohol dan kehidupan malam adalah berkat peran dari sang ibu yang sangat menjaga karir anak-anaknya. Ia juga dididik untuk tetap rendah hati dan sederhana. Ia tidak secara buta memfollow fashion (jelas tidak akan muncul gaya Blonde Markovic a la Dani Alves ataupun tattoo-tattoo ala David Beckham sejauh ini) dan gaya hidup "wah" dan metropolitan a la ibukota.

Bahkan sebelum bisa mengendarai mobil, ia kerap menumpang Filip ataupun naik taksi ataupun sarana transportasi publik lainnya. Somehow it is reminded me of Iker Casillas in his early years.

***

Dua puluh menit kemudian. Waktu menunjukkan 90 menit, dengan tambahan waktu 4 menit. Estadio da Luz ricuh dengan keluhan dan seruan fans agar Jorge Jesus mundur. Para reporter mungkin sudah bersiap-siap mengisi match report mereka dengan tajuk "Benfica kalah (lagi!)" ataupun "Benfica Bersiap Untuk Treble Kekalahan Lagi" untuk sekedar mempermudah pekerjaan mereka dalam mengabarkan hasil pertandingan ataupun memberi tekanan ekstra kepada Jorge Jesus, manajer Benfica yang baru saja diperpanjang kontraknya selama dua tahun, di mana Benfica saat itu baru saja mengalami treble kegagalan yang cukup tragis (Kalah di liga dari FC Porto, tumbang di final Piala Portugal dari Vitória de Guimarães dan tentu saja kalah di final Europa League karena sihir Rafael Benitez yang membuat Chelsea bisa membuat Fernando Torres mencetak gol). Namun tidak demikian pemikiran kontingen Serbia di Benfica saat itu. Apapun script yang ditulis oleh Gil Vicente, para kontingen Serbia tersebut jelas tidak membacanya. Diawali dari umpan terobosan Filip Djuricic kepada Lazar Markovic, yang dengan pintarnya memposisikan diri diantara bek tengah dan bek kanan Gli Vicente, Halisson dan Gabriel Moura, lalu menyentuhnya sedikit sehingga bola berada di posisi yang tepat sebelum menceploskannya ke gawang dengan kaki kirinya. Semenit kemudian, Markovic telah meliuk melewati dua pemain Gil Vicente dari sisi kiri, memotong ke tengah (Number 10 Position) sebelum mengoper bola ke Ezequiel Garay di sayap kanan, yang diteruskan ke pemain Serbia, Miralem Sulejmani yang kemudian memberikan umpan silang yang disundul penyerang depan Benfica, Lima dan berbuah gol. Estadio da Luz pun pecah. Jorge Jesus pun turut merayakan gol tersebut bersama pemain, staff dan fans. Dan debut anak muda dari Serbia tersebut pun segera berubah menjadi debut impian.

Seusai pertandingan, Jorge Jesus memuji kiprah anak asuhnya, walaupun seharusnya dia juga layak mendapatkan pujian karena kontingen Serbia yang ia gunakan (Filip Djuricic, Miralem Sulejmani dan Lazar Markovic adalah trio Serbia yang dimasukkan Jorge Jesus di babak kedua pada pertandingan melawan Gil Vicente). "Menang pertandingan dengan karakter seperti ini jelas memberi kita keyakinan lebih daripada menang dengan skor telak." ujarnya. Dan hal itu memang benar adanya, walaupun kita akan mengetahuinya di akhir musim. Benfica melalui salah satu musim terbaiknya sepanjang sejarah klub. Treble domestik (Liga, Piala Liga / Taça da Liga dan Piala Portugal / Taça de Portugal di mana mereka tidak pernah kejebolan sekalipun di Piala Portugal), tidak pernah kalah di Europa League (walaupun mereka gagal di final dalam adu pinalti melawan Sevilla) dan unbeaten di Estadio da Luz.

Musim ini juga menjadi musim yang sangat baik bagi Lazar Markovic, yang pada usia 19 tahun telah merasakan treble dan bermain untuk klub terbaik di Portugal di musim pertamanya. Performanya mungkin setara dengan tamatan winger Benfica sebelumnya, Angel di Maria yang mencatatkan 40 penampilan dengan 7 gol (di mana Markovic hanya mencatatkan 49 kali tampil dengan 7 gol) namun jika ditanyakan dalam segi gelar, dan usia, Markovic jelas lebih unggul (Ia saat itu berusia 19 tahun dibandingkan dengan Di Maria yang saat itu berusia 21-22 tahun). 

---

20 Tahun, 20 Juta Poundsterling

Melwood, Liverpool, 15 July 2014
Setelah merampungkan penjualan Luis Suarez senilai 75 juta Poundsterling ke FC Barcelona, Brendan Rodgers tidak menunggu lama untuk mendapatkan dossier dari scouting department Liverpool di bawah kinerja Dave Fallows dan Barry Hunter mengenai target mereka yang sesuai dengan karakter permainan Liverpool. Tidaklah mengherankan sebagai mantan scout Manchester City, mereka mengusulkan nama winger Serbia ini ke dalam report mereka mengingat rekor keberhasilan mereka mendatangkan pemain Serbia seperti Stevan Jovetic dan Mateja Nastatic di Manchester City. Melalui negosiasi yang berkepanjangan, akhirnya Lazar Markovic resmi berkostum Liverpool, dengan nilai transfer mendekati 20 juta Poundsterling. Kemungkinan transfer sedikit memakan waktu lama karena kerumitan untuk menyelesaikan transfer dengan pihak ketiga di mana federasi sepakbola Inggris tidak mengizinkan adanya campur tangan pihak selain klub pemilik dalam hal kepemilikan pemain.
Transfer Lazar Markovic ke Liverpool sebenarnya sangat menarik karena seolah saling melengkapi satu sama lain, jika melihat permainan Liverpool di musim sebelumnya yang sangat menyerang, mengandalkan kecepatan dan pemain muda di bawah asuhan Brendan Rodgers. Sangat membuat penasaran bagaimana sepak terjang Lazza bersama Liverpool musim depan.
I don't know if he already suited in Brendan's system but I think he would. He is like Raheem Sterling with long hair. Perbandingan terhadap Lionel Messi juga muncul di beberapa artikel yang saya baca. Based from what I see, I think he is mentally right to play in Liverpool. Interestnya dalam bidang pendidikan terutama karena mata pelajaran favoritnya yaitu Sejarah dan Matematika juga bisa menjadi pendorong baginya untuk dekat dengan sejarah klub (banter!) ataupun dekat dengan Glen Johnson, yang mana sedang berusaha menyelesaikan mata kuliahnya dalam meraih gelar Sarjana Matematika. Gayanya yang kalem dan membumi juga dinilai cocok dengan suasana kota Liverpool yang bergaya countryside. Lihat saja saat dia menjalani medical untuk Liverpool di Melwood. Ransel, topi diputar ke belakang, smartphone di kaos kaki. No fuss. Just a simple 20 years old guy worth £20m.


See that humble lad doing medical at Melwood? (Image: LFC)

“As long as he wants to trains properly, he could be a world beater.” ujar Nemanja Matic, rekan timnasnya di Serbia. Apakah Lazza searing mempermalukan seniornya ini saat latihan? Apakah dia adalah sosok joker in the team? Who knows? Tapi melihat fakta bahwa Jorge Jesus kerap memasukkan nama Markovic ke starting line-upnya saat di Benfica, mungkin opini Nemanja Matic mungkin hanya inside joke belaka.

Tapi apapun yang dia lakukan di sesi latihan, dipastikan Rodgers akan membuat Markovic menggapai level yang lebih tinggi lagi. Saya juga yakin bahwa Rodgers dan para staffnya akan melatih kemampuan fisiknya seperti yang mereka lakukan pada Raheem Sterling, Phillipe Coutinho dan Joe Allen (Body-checknya terhadap Yaya Toure yang membuat Yaya terbang menyingkir tidak akan pernah saya lupakan) dan juga akan membuatnya menjadi world-beater dalam setahun-dua tahun mendatang.




Surely he's not this guy (Image: RAWK)

Artikel ini ditulis oleh: @Sa5678
Read more ...