October 21, 2014

Real Madrid Tak Sesempurna Itu, Kok

Anfield akan menjadi saksi laga klasik antara Liverpool dan Real Madrid hari Kamis ini, dan bagi kalian yang biasanya malas untuk mencari keterangan di Livescore; pertandingan itu akan dimainkan pada pukul 01:45 WIB Live di SCTV.



Sebagai pandit abal-abal yang menyamakan West Ham dengan Stewart Downing-nya sebagai Los Blancos dan Cristiano Ronaldo, saya enggan menganalisis mengapa SCTV nyaris selalu menyiarkan laga Barcelona dan Real Madrid di Liga Champions. Benarkah cuma dua tim itu yang paling diminati di ajang tertinggi Eropa? Permasalahannya terlalu pelik sehingga pandit abal-abal seperti saya tidak mampu menganalisisnya, banyak yang lebih kompeten dan cerdas untuk membahas hal tersebut.

Sedangkan saya akan lebih mencari satu sampai dua poin mengapa The Reds tak sepantasnya menundukan kepala melawan si Putih yang begitu digdaya di kompetisi domestiknya hingga Eropa. Meski harus jungkir-balik 'hanya' melawan Queens Park Rangers dan segudang PR di lini belakang serta bola-bola mati.

Sebelum laga dimulai saya ingin menjelaskan bahwa Real Madrid tidaklah asing bagi saya pribadi. Setelah menembatkan hati kepada rival sekota Liverpool di Merseyside pada akhir 90an, godaan untuk tidak mendukung tim yang dihuni oleh Luis Figo, Zinedine Zidane, Raul, Iker Casillas, Roberto Carlos hingga Guti Hernandez terlalu sulit untuk ditolak. Singkat cerita, since then, I could easily be a part-time Madridismo.

Maka dari itu, menarik melihat beberapa orang yang berkata bahwa Galacticos saat dibantai Liverpool di Anfield pada 2009 lalu masih terbilang cupu. Menurut saya, apa yang dikatakan orang itu benar. Gabriel Heinze, Arjen Robben, Wesley Sneijder, Fabio Cannavaro yang sudah tua dan Rafael van Der Vaart bukanlah nama-nama beken buat Madrid, saat itu mereka berada di masa transisi pasca dipecatnya Brend Schuster dan mengangkat Juande Ramos yang gagal total di Tottenham Hotspur sebagai penggantinya. Sungguh, wajar jika El Real dibuat tunduk di Anfield.

Tanpa bermaksud meremehkan tim lawan, apa yang dilakukan oleh Cristiano Ronaldo dalam delapan laga terakhirnya di mana ia melesakan 15 gol tak bisa dipandang sebelah mata. Terakhir meski tanpa Gareth Bale, pemain terbaik dunia 2013 itu mampu mencetak dua gol ke gawang Levante. Tapi Levante bukan Liverpool, meski keduanya punya mempunyai nama yang sama-sama berawalan dengan huruf 'L'. Apa yang dilakukan Ronaldo itu sudah pasti membuat beberapa orang ketar-ketir, benar, jika merujuk pada performanya dalam sebulan terakhir.

Akan tetapi, tahukah Anda jika sang pemain terbaik dunia yang gemar bersolek dan bersedekah ini gagal mencetak gol di lima laga terakhirnya di Anfield sebagai pemain Manchester United? Dan tahukah Anda bahwa kombinasi dengan Bale menghasilkan 47 persen dari semua gol Ronaldo di musim ini? Dan satu-satunya tim Inggris yang mempunyai rekor 100 persen kemenangan atas Real Madrid adalah hanya cuma Liverpool di tiga laga terakhir kedua tim di mana tiga pertemuan itu semua dilalui dengan clean sheets.

Ya, semua memang masa lalu -- tapi kata orang bijak berkata: 'sejarah pasti berulang'. Dan melalui data-data di atas, maka, tak semestinya Liverpool terlalu membungkuk tanpa perlawanan di tangan sang jawara Eropa pemilik 10 gelar Liga Champions itu.

Sebelum pengkotakan memuakan antara si optimis dan si pesimis kembali memanas, izinkan saya untuk memberikan sedikit analisa tak berkompeten mengapa Liverpool hari ini seharusnya mampu memberikan pertandingan seru kepada Real Madrid, meski dihadapi banyaknya problema di lini depan, tengah dan belakang.

1. Idealisme? Tiga poin lebih penting

Seorang politikus yang baik adalah ia yang memperjuangkan masyarakat yang mempunyai idealisme yang sama dengannya di parlemen ataupun dalam pemerintahan, sedangkan seorang pelatih yang 'agak' keras kepala tak peduli di situasi apapun akan menggunakan pola yang begitu idelis.

Arsene Wenger melakukan taktikal blunder di Anfield dan Stamford Bridge musim lalu, Pep Guardiola dengan keras kepala menolak untuk menurunkan harga diri serta garis lini belakangnya agar tidak dieksploitasi oleh serangan balik Real Madrid yang menyambar nyaris secepat halilintar.

Kita semua, baik yang mengganggap dirinya pintar ataupun hanya menempatkan diri sebagai suporter atau ia yang sibuk dengan gadgetnya menjadi analisator, tahu bahwa Real Madrid sangat menakutkan bukan saat mereka memegang bola, melainkan saat ia punya satu kesempatan untuk melakukan fast break.

Maksud saya, meskipun Brendan Rodgers sudah mulai melunak dengan menggunakan serangan balik juga sebagai senjata Liverpool, bermain api menggunakan pola high defensive line dan berlama-lama melakukan ball possesion, mungkin, bukan pilihan bijak.

Terutama untuk lawan yang bisa melakukan serangan balik sukses dengan hitungan 20 detik.

Idelisme dan prinsip penting bagi seorang laki-laki, tapi prioritas tentu harus diutamakan.

2. Iker Casillas bukan lagi Iker yang suci

Perdebatan antara pantas atau tidaknya Iker Casillas berada di bawah mistar gawang Real Madrid dan Spanyol terus diperdebatan akibat satu blunder kelainnya. Ia bukan lagi 'Santo' dan itu bisa dijadikan acuan.

Masih segar di ingatan bagaimana Casillas gagal mengantisipasi tendangan pemain Slovakia yang menuju lurus ke batang hidungnya. Saat seperti ini, Glen Johnson yang suka melakukan tendangan spekulasi bakal jauh lebih berguna ketimbang memainkan Javier Manquillo yang belum berpengalaman dan main aman.

We knew that our defending is bad so far, then why should we worry not to attack with Johnson as an extra winger on the right.

3. Absennya Gareth Bale


Carlo Ancelotti sudah memastikan bahwa pemain termahal dunia dalam diri Bale tidak akan bermain. Ini bisa dijadikan sebagai titik balik. Pertama karena ia punya rekor bagus mencetak gol di Anfield bersama Tottenham, kedua karena ia adalah mesin penggerak Los Merengues di lini serang sekaligus pelayan Cristiano Ronaldo.

Tanpanya, Isco dan James Rodriguez bakal bermain, akan tetapi kedua pemain ini tak berada di level yang sama dengan Bale. Satu sorakan di Anfield akan meluluhlantakan mental mereka, percayalah. Setidaknya sebelum laga dimulai nanti.

Dan absennya orang ini akan lebih kentara terlihat dibanding absennya Sergio Ramos di belakang.

4. Saatnya tunjukan taji, GlenJo


Mungkin saya adalah satu-satunya orang di planet Bumi yang masih mendukung Glen Johnson untuk bersinar di setahun terakhir kontraknya di Merseyside. Seperti layaknya mereka yang masih mendukung Mario Balotelli, saya pun menolak untuk putus asa pada bek kanan satu ini.

Paska sembuh dari cedera kontra Manchester City, saya melihat ada penaikan performa dari bek utama The Three Lions ini. Terlalu dini memang, tapi penampilan impresif Manquillo tampaknya punya andil bagaimana ia bisa cukup tampil baik West Brom (sebagai pengganti) ataupun kontra QPR.

Terlebih lagi Marcelo sebagai bek kiri gemar melakukan overlapping, dan Ronaldo yang tak punya beban bertahan. Dijaga Isco, yang secara fisik lemah, seharusnya bisa membuatnya sesekali melakukan cut inside dan melakukan percobaan tendangan jarak jauh dan berharap Casillas melakukan blunder.

5. Lubang peninggalan Xabi Alonso, berkah bagi Gerrard


Saya terlibat dalam debat bahwa Real Madrid kehilangan Alonso sebagai penyeimbang lini tengah Los Blancos bersama seorang kawan. Sami Khedira adalah seorang pemain box-to-box bukan destroyer murni, Alonso-lah orang yang menjaga kedalaman lini tengah Madrid.

Posisinya digantikan secara bergantian dengan Toni Kroos dan Luka Modric. Akan tetapi, tak ada satupun dari mereka yang merupakan seorang 'tukang tekel' di tengah. Mengekploitasinya dengan Steven Gerrard sebagai No.10 akan jadi pilihan bijak, mengingat menjadikannya sebagai No.4 akan membuatnya menjadi liabilitas.

Kenapa bukan Philippe Coutinho yang dimainkan di situ? Tunggu, saya bahkan tak menyarankan Rodgers untuk memainkan si Brasil dari peluit awal, melainkan jadi pemain alternatif di babak kedua. Ya, sekitar menit 60-an lah.

Alasannya sederhana, dalam dua laga kontra Everton dan QPR jelas ia adalah pembeda walaupun baru masuk di pertengahan babak kedua. Kedua, Real Madrid tak akan memainkan high defensive line yang bisa dijadikan 'mainan' oleh Coutinho. Contoh kasusnya adalah Newcastle dua musim silam dan Arsenal musim lalu. Jika tim lawan melakukan lini belakang dan dalam, maka, jurus tendangan mabuk akan dilakukannya. Mohon maaf buat penggemar Coutinho di luar sana, tapi membayangkannya saja sudah bikin frustrasi.

Memainkan Gerrard sebagai No.10 tidak akan jadi masalah kecuali stamina sang kapten. Akan tetapi, satu link-up play bersama Balotelli dan satu tendangan yang nyaris membuahkan gol di laga akhir pekan lalu, bisa dijadikan ajang 'pemanasan' sebelum mengeksplotasi borok peninggalan kawan baiknya itu. Big player made for a big game, have you ever heard that quote?

6. El Clasico

Laga akhir pekan ini akan mempertemukan Real Madrid dan Barcelona. Kurang lebih agaknya mereka pasti memecah dua konsentrasi ke laga super prestisius bagi mereka itu.

Dan, tanpa bermaksud untuk menggurui Brendan Rodgers sang juru latih, saya sebagai orang awam yang bahkan menjadi pelatih liga tarkam saja tidak pernah sekiranya membedah beberapa poin di atas, bukan untuk sang manajer. Namun agar setidaknya Steven Gerrard dkk bisa masuk lapangan dengan bangga dan menutup laga, menang ataupun kalah, dengan kepala tegak.

***



Ditulis tanpa paksaan dan tekanan oleh @MahendraSatya
Read more ...

Mario Oh Mario



Pada suatu hari, saya sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Berkumpul dengan para sahabat untuk melepas kepenatan hidup menjadi pilihan saat itu. Namun, momen yang direncanakan ceria malah terjun bebas secara tiba-tiba. Saat dimana sebuah berita yang sudah diprediksi menjadi fakta yang membuat sakit hati. Bukan lewat Twitter, tetapi melalui akun ofisial Line Barcelona lah, sahabat saya membuat pernyataan "Zi, Suarez Resmi!!"

Ya, kabar yang sebelumnya sudah beredar itu akhirnya menjadi kenyataan. Pemain andalan Liverpool musim 2013-14, yang mencetak 31 gol dan menjadi pemain terbaik Premier League pada musim yang sama itu, memilih menyebrang ke klub yang dia idamkan sejak kecil, Barcelona.

No. Big No. Sudah bosan membahas pemain brilian dari Planet Namec tersebut. Biarlah dia bahagia bersama Tim Catalan tersebut. Sebuah harapan ketika The Reds akhirnya mendatangkan nama besar. Ya, setidaknya nama ini dikenal oleh awam sepak bola sekalipun. Sesosok yang kasat mata adalah pengganti Suarez, padahal tidak, Mario Balotelli.

Perjudian. Satu kata beribu makna terkait Super Mario yang bergabung dengan Liverpool. Hari itu, seluruh jurnalis Internasional maupun nasional bahu membahu membuat karya editorial dan menganalisa tentang sang pemain. Memberikan prediksi sotoy mereka apakah Balotelli mampu bangkit di The Reds.

Tak mau kalah, saya pun ikutan sotoy dan menganggap Balotelli adalah Marquee Signing sesungguhnya The Reds. Keyakinan bahwa Balotelli bisa menjadi pilar penting (meski tak bisa dibandingkan dengan Suarez) membumbung tinggi. Balotelli bisa memberikan dimensi dan opsi berbeda dari filosofi Liverpool, itu yang ada di benak saya.

Benar saja. Balotelli memberikan sesuatu yang berbeda untuk Kopites....di luar lapangan. Postingan jenaka sang pemain di Twitter dan Instagram acap membuat perut teraduk. Tak pernah ada pemain yang memiliki tingkat komedi selevel Balo di Anfield pada era modern.

Namun....

Performa Balotelli di lapangan hijau masih jauh dari kata memuaskan. Striker berwajah tampan ini baru mencetak satu gol di semua kompetisi musim ini. Itu pun gol ke gawang klub dari dunia lain, Ludogorets. Membuat 41 tembakan dimana 12 diantaranya berhasil mengenai target dari sembilan laga di semua kompetisi yang dijalani Liverpool, tak ada hasil signifikan alias nihil.

Balotelli yang emosional dan kontroversial memang tak terlihat di Liverpool. Pemain Italia ini mengaku dirinya tak bisa menjadi pemain yang bandel di bawah asuhan Brendan Rodgers. Sikap kalem dan tenang memang menghiasi sang pemain di lapangan. Sayang, hal itu berbanding terbalik dengan performanya. Menjadi andalan tunggal di lini depan, Balotelli seperti dalam tekanan besar.

Delapan laga liga sudah berjalan. Liverpool masih bermain ogah-ogahan. Semua rekan terlihat bertumpu kepada Balotelli sebagai striker tunggal andalan sejauh ini, tapi tak ada yang dihasilkan. Tekanan mental pasti mendatangi dia.

The Reds tak bermain seperti musim lalu. Umpan-umpan pendek nan terukur, umpan terobosan ajaib yang memanjakan mata, serta segitiga antar pemain yang indah, tak terlihat musim ini. Umpan lambung amat sering dilakukan. Crossing-crossing yang langsung menuju Balotelli sudah tak terhitung jumlahnya.

Balotelli pun dibandingkan dengan striker Italia lain yang sedang menonjol di Southampton, Graziano Pelle, yang sejauh ini tampil sangat impresif dengan enam gol serta membawa The Saints bercokol di papan atas klasemen.

Dianggap pesakitan dan gagal, tekanan dari pelbagai sisi mendatanginya. Tekanan di lapangan hijau ketika dibandingkan dengan Luis Suarez. Tekanan untuk mencapai performa terbaik dengan filosofi yang cukup baru. Tak lupa tekanan mental yang datang dari media Inggris. Itu belum termasuk dibandingkan dengan rekan striker yang belum bergabung dengan tim oleh B-Rod.

Tak mudah menjadi Balotelli saat ini. Kopites sudah mulai jengah dengan performanya yang tak cukup baik. Tapi, tak adil jika kita langsung memberikan pressure besar kepada sang pemain. Ingat, Balotelli baru berusia 24 tahun. Pencarian jati diri itu terus berjalan. Memerbaiki attitude bagi manusia tidaklah mudah, dan sejauh ini dia berhasil. Performa?

Anda membutuhkan pendamping hebat untuk berubah menjadi luar biasa. Hal itu sudah terlihat pada laga melawan Queens Park Rangers akhir pekan lalu. Meski dianggap sebagai pemain dengan performa terburuk, Rodgers tetap percaya memainkannya hingga 90 menit. Rekan-rekan pun tak takut untuk terus memberikan key pass kepada Balotelli demi gol perdananya di liga.

Kepercayaan itu terus dipupuk. Kepercayaan yang jelas mampu memotivasi sang pemain. Seperti sebuah hubungan cinta, kepercayaan adalah kunci segalanya. Jikalau Anda sudah tak percaya akan sesuatu, maka sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi.

Balotelli memang sebuah perjudian. Dia bisa menjadi seperti Andy Carroll atau Peter Crouch. Tetapi potensi untuk selevel Fernando Torres (edisi Liverpool) masih terbuka lebar. Semua tergantung dari daya juang dan semangat pantang menyerahnya.


Bersama Liverpool, Balotelli akan mendapat dukungan terbesar di luar batas logika dari para fans. Namun, secara bersamaan juga akan mendapat cercaan paling menyakitkan hati selama karier. Waktunya memilih, Mario!
Read more ...

September 25, 2014

Right Man in The Right Time


Tak ada yang abadi di dunia. Manusia tak selalu berada di titik istimewa. Pun tak mungkin dibiarkan terus sengsara oleh sang pencipta. Selalu ada fase dimana kita sebagai manusia, beristirahat dari rutinitas dan mencari udara segar. Memaksakan kehendak dan melawan jalan Tuhan jelas bukan hal yang lumrah.

Steven Gerrard. Siapa yang tidak tahu dia. Sesosok legenda klub sekaligus legenda kota Liverpool. Lahir di Liverpool. Besar di Liverpool. Berada di klub sepak bola ini sejak berusia tujuh tahun. Kemudian berhasil menjadi andalan tim utama hingga akhirnya menjadi kapten. Mimpi yang menjadi kenyataan untuk bocah kelahiran Whiston, Merseyside tersebut.



Jika berbicara trofi, Gerrard telah mengangkat semua trofi pada level klub. Iya, iya, hanya tinggal trofi Premier League yang belum dia cicipi. Sebenarnya bisa saja dia meraih trofi tersebut lebih cepat jika mengikuti jejak Robin van Persie hingga Samir Nasri, tapi bukan Gerrard namanya jika memilih untuk pergi dari sesuatu yang paling dia cintai.

Loyalitas tanpa batas yang dimiliki sang pemain menjadi faktor utama. Pada akhirnya, Gerrard sudah tak memikirkan apakah dia mampu menyempurnakan kariernya dengan trofi Premier League atau tidak. Dia hanya ingin mengarungi samudera sepak bola bersama Liverpool yang dicintainya.

Namun, kembali ke masalah utama. Kapten Fantastik sudah 16 tahun berkiprah bersama The Reds. Umurnya pun sudah 34 tahun. Sudah tak ada lagi tembakan-tembakan jarak jauh keras nan akurat itu. Pun dia sudah tak mampu bermain di beberapa posisi dalam satu laga.

Sudah terlalu lama The Reds mengandalkan kemampuan sang pemain. Beban moral, mental, hingga teknis jelas ada di pundaknya. Jika bukan karena Brendan Rodgers, mungkin Gerrard tak akan bisa tampil luar biasa musim lalu. The Reds tak akan memakai formasi Diamond jika bukan demi Gerrard. Bermain luar biasa sebagai Deep Lying Playmaker dengan stats yang mentereng, ditambah menjadi eksekutor bola mati yang hebat, Gerrard selamat musim lalu.

Sayang, hal itu tidak bertahan lama. Musim ini, Gerrard gagal memberikan performa yang baik dan menjadi salah satu masalah di skuat Liverpool. Sang pemain dirasa tak cukup baik dalam mengcover back four. Pun tak cukup istimewa dalam mengatur alur permainan. Dua tugas yang harusnya bisa dijalani dengan baik olehnya. Entah berapa kali sang kapten Out of Possession. Kalah sprint, hingga memaksakan Hollywood Pass.



Tanpa mengurangi rasa hormat kepada legenda, ini adalah waktu paling tepat bagi Rodgers mencari solusi pada skuatnya. Mencari Starting XI terbaik tanpa Gerrard didalamnya. Liverpool sendiri memang memiliki nama-nama yang dirasa mampu mengisi pos Gerrard atau mengubah formasi dan kembali mengandalkan double pivot jikalau sang ikon tak tampil.

Jordan Henderson dan Joe Allen bisa dibilang sebagai Box to Box terbaik The Reds saat ini. Gelandang bertahan? Lucas Leiva dan Emre Can bisa menjadi pilihan. Nama terakhir bahkan mampu bermain di semua posisi gelandang.

Secara teknik, keempat pemain di atas bisa dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan Gerrard. Tanpa memikirkan kondisi Allen dan Can yang masih terkapar cedera saat ini. Namun, tak ada yang secara kultural mampu menggantikan Gerrard pada empat pemain di atas. Sebelum akhirnya muncul sesosok harapan. Right Man in The Right Time.

Jordan Rossiter. Siapa dia? Jika Anda mengikuti Liverpool U-18 dan U-21 berkiprah, nama Rossiter sudah tak asing lagi. Sang pemain sudah berada di Liverpool sejak usia enam tahun. Pun berasal dari kota Liverpool sama dengan Gerrard.



Jika dilihat sekilas, Rossiter terlihat seperti bocah ingusan yang menunggu bocah-bocah nakal untuk membullynya. Tubuhnya kecil. Potongan rambutnya cepak. Wajahnya pun manis, sehingga jika dia berambut panjang, mungkin Anda akan mengiranya sebagai perempuan. Membandingkannya dengan Gerrard? Mungkin dia harus membesarkan badannya dulu jika ingin disandingkan dengan sang legenda.

But wait.... Kalian kenal Marco Verratti? Atau Mateo Kovacic? Dua gelandang yang namanya sedang melambung tinggi di dunia sepak bola modern. Tubuh mereka juga tak besar-besar amat bukan? Tetapi kinerjanya di lapangan sangat luar biasa. Rossiter memiliki kapasitas teknik itu. Ditambah darah lokalnya, Rossiter datang ke tim senior Liverpool di waktu yang sangat tepat.

Sang pemain biasa berduet dengan Jordan Lussey di Tim U-21 sebagai Double Pivot. Rossiter memang lebih defensif, tapi mampu mengatur alur permainan dan lini tengah. Karena itu, Rossiter rasanya sangat cocok jika dimainkan di pos Gerrard sebagai Deep Lying Playmaker, jikalau Liverpool bermain dengan formasi Diamond.

Tak hanya itu, bocah 17 tahun ini juga acap melakukan overlap jika dibutuhkan menjadi Box to Box. Ini terjadi jika dia berduet dengan Regista Muda berbakat The Reds lain, Pedro Chirivella. Itu yang membuat Rossiter bermain sangat nyaman bersama Lucas pada debutnya di tim senior melawan Middlesbrough.



Melihat performanya yang sangat pe-de dan tenang, Rodgers jelas harus mulai memikirkan Rossiter sebagai salah satu opsi pengisi pos lini tengah Liverpool. Sudah waktunya akamsi yang berpengalaman memberikan tempatnya sesaat untuk akamsi muda berbakat bukan?

Memang Rossiter masih 17 tahun dan memiliki banyak waktu untuk berkembang. Terburu-buru juga tak baik untuk perkembangannya. Itu yang sang pemain sadari. Dia mengerti bahwa usianya masih sangat muda dan berbahaya jika terperangkap kejemawaan.

"I know personally that this is just the start, I've got to keep my feet on the ground. The manager just told me that I had done well. I need to keep on improving and to stay in and around the first team, while improving for the U21s week in, week out. I'm still a long way away from being in the first team. I'm still only 17," Begitu ucap Rossiter.

Namun, tak ada yang salah terkait memercayai talenta muda di tim utama dengan cepat. Cesc Fabregas sudah menjadi langganan tim utama Arsenal sejak usia 17-18 tahun. Raheem Sterling pun demikian. Kondisi tim senior saat ini yang membuat Rossiter sangat masuk akal untuk menjadi bagian di dalamnya.

Semua putusan ada di tangan B-Rod. Apakah dia mau membawa The Reds ke level yang semestinya dan kembali ke perburuan gelar. Atau, bersikeras memainkan Gerrard tanpa memikirkan daya tahan sang pemain yang jelas tidak semaksimal dulu lagi.


Pada akhirnya, ini bukan masalah gelar apa yang diangkat Liverpool akhir musim, tetapi apakah The Reds mampu memertahankan identitas sebagai klub tradisional dengan kultur lokal yang dimiliki. Ini adalah waktunya perubahan. Jordan Rossiter is The Right Man in The Right Time.


Written By: @redzi_id
Read more ...

September 22, 2014

Y.N.W.A


Akhir pekan lalu, Sabtu (20/9), Liverpool menyambangi Santiago Bernabeu di ajang lanjutan Liga Champions, yang tentu saja adalah markas besar Real Madrid. Jika ditilik dari rekor pertemuan, The Reds yang datang sebagai tim tamu disebut punya modal kuat untuk mencuri poin di ibukota.

Di pertemuan terakhir saja, dengan Iker Casillas sedang berada di puncak penampilan tak bisa menghadang Steven Gerrard dan kawan-kawan memberendel gol. Apalagi seperti sekarang di mana mereka saja harus kalah dua kali di kandang sendiri di awal musim.

Seperti layaknya partai-partai besar lainnya, Brendan Rodgers sebelum laga menyampaikan dalam konfrensi pers bahwa Liverpool tidak punya masalah dengan mengantisipasi bola-bola mati. Itu berarti masalah kebobolan dengan cara yang aneh melawan Aston Villa bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan.

Tentu saya manggut-manggut setuju. Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo tidak akan pernah mengancam karena Liverpool punya Javier Manquillo, yang dulunya bermain untuk Atletico Madrid B, dan Alberto Moreno, yang ikut membawa Sevilla ke tangga juara Europa League bersama Sevilla, tampil menawan di laga-laga sebelumnya.

Apa lacur, laga di Santiago Bernabeu itu berakhir tak seperti yang diperkirakan. Belum apa-apa berawal dari bola mati, tuan rumah berhasil mencetak gol lewat aksi Sergio Ramos yang tak terkawal di depan gawang.

Saat itu saya berpikir, mungkin salah menerjemahkan komentar Brendan Rodgers di awal laga tadi. Mungkin sebenarnya ia khawatir dengan kemampuan anak asuhannya bertahan dari situasi set piece. Ya, mungkin saya yang salah.

Tapi kemudian Cristiano Ronaldo menceploskan bola dengan cara yang luar biasa. Entah apa yang dimaksudkannya pertama kali, tapi ia berhasil melob bola di dalam kotak penalti ke tiang jauh gawang Simon Mignolet.

Berusaha menemukan alasan logis, saya berpikir namanya juga peraih Ballon d'Or -- pemain terbaik dunia, apa yang tak bisa dilakukannya dengan bola. Gol-gol seperti itu sering dilakukannya, saya saja yang payah tak pernah menontonnya berlaga sebelum-sebelumnya.

Lucas Leiva yang saya kagumi, malam itu gagal bersaing dengan trio gelandang Real Madrid yang dipenuhi bintang hingga akhirnya diganti. Toni Kroos, Luka Modric dan James Rodriguez menjelajahi lapangan semau mereka. Steven Gerrard yang berperan sebagai gelandang bertahan sampai gagal melakukan umpan terobosan, tidak melakukan tembakan, dan gagal memenangi tekel.

Jika melihat mewahnya tiga gelandang yang digunakan Carlo Ancelotti, nampaknya wajar jika dua pemain Liverpool di atas gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya. Wajar, dong. Namanya juga lawan Real Madrid.

Paruh babak kedua dimulai, Adam Lallana menggantikan Lucas. Pasti karena alasan ia lebih tampan dari pemain asal Brasil itu. Tapi hasilnya terbukti lebih baik, Liverpool mendominasi laga. Terbukti terjadi peningkatan dibanding laga kontra Aston Villa di mana hanya ada satu tendangan yang mengarah ke gawang dibanding enam saat berhadapan dengan Los Blancos.

Saat The Reds begitu dekat dengan gol penyama kedudukan ditambah Don Carletto sudah menggunakan semua pergantian pemainnya, sedangkan Toni Kroos yang mengenakan nomor punggung 8 dan berbaju ungu terlihat terpincang-pincang -- secara menakjubkan Gareth Bale yang pernah mengakhiri musim dengan torehan 0 gol dan 0 assist bersama tim yang tidak tau apa itu memberikan umpan yang ciamik kepada pemain pengganti Javier Hernandez.

Tentu kekalahan di Bernabeu ini akan jadi lecutan sebelum laga yang diprediksi akan biasa-biasa saja di Boleyn Ground markas West Ham United. Ya, tak masalah meski akhir-akhir ini Diafra Sakho dan Stewart Downing sedang senang sekali membobardir gawang lawan-lawan antah berantah mereka itu.

8-2? Ah, kalau melihat kemungkinan Glen Johnson bisa kembali pulih fit total dalam kurun waktu sepekan lagi, Downing dan Sakho yang biasa bertukar posisi harus ketar-ketir menghadapi sang bek paling tangguh di tanah Britania itu. Dan siapalah itu, Mark Noble, Cheikhou Kouyate dan Alex Song, yang cuma jadi cadangan di Barcelona.

Belum lagi ditambah semakin kompaknya Dejan Lovren dan Mamadou Sakho yang akan membuktikan diri kebenaran ucapan Rodgers bahwa mereka bisa melakukan man-to-man marking dan tidak akan menyundul bola ke arah Gareth Bale seperti akhir pekan lalu. Ya, pasti kedua pemain yang ditotal seharga 36 juta pounds ini pasti bisa menggantikan peran Daniel Agger yang sudah pulang kampung.

Dengan begitu, keoptimisan meraih tiga poin bukan hanya di pikiran belaka, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa apalah anak muda tanpa berpikir positif. Tentu saja, saya optimis menang, toh lawannya cuma West Ham United.

Y.N.W.A

Ditulis dengan khidmat oleh: @MahendraSatya
Read more ...

September 18, 2014

Balotelli, Anak Bandel yang Butuh Perhatian


Fabio Borini diminta untuk bersiap di tepi lapangan oleh Brendan Rodgers, sang pelatih yang hampir saja membawa Liverpool juara Liga Inggris musim lalu itu sepertinya mulai gerah dengan kebuntuan yang dialami timnya dalam laga debut Liga Champions musim ini. Saat itu saya mengira mungkin Borini masuk untuk menggantikan Mario Balotelli. Dalam dua laga Premier League yang dimainkan Balotelli sebelumnya, si anak baru dari Italia ini selalu tampil sebagai starter, namun di dua laga itu juga Balotelli tidak bermain penuh 90 menit. Mengingat catatan tersebut, ternyata dugaan saya salah, 'Super Mario' tidak ditarik keluar.

Bermain di hadapan pendukung timnya sendiri, ini merupakan kesempatan terbesar bagi Balotelli untuk membungkam keraguan dari para fans terhadap dirinya. Mungkin anda salah satu fans Liverpool yang geregetan melihat performa Balotelli di lapangan, stereotip penyerang malas sudah begitu melekat di dirinya. Perasaan tersebut sangat wajar, saya sebagai fans Azzurri juga sangat kesal melihat performa Balotelli bersama Italia yang kerap kali lebih banyak berjalan kaki sembari sekali-kali melontarkan kekesalan terhadap wasit secara berlebihan. Namun Brendan Rodgers tentu memiliki pandangan lain, yang mana memang dirinya memiliki angle pengamatan yang jauh lebih baik daripada kita yang hanya menyaksikan Balotelli melalui layar kaca, atau jika lebih beruntung seperti para fans Liverpool yang duduk di tribun Anfield bagian belakang gawang Borjan kiper FC Ludogorets.

Awal kembalinya Balotelli ke Premier League musim ini pun banyak menghiasi headline berbagai media, namun bukan gol-golnya yang menghiasi media, berbagai tingkah nyelenehnya saat latihan bersama Liverpool-lah yang memenuhi media. 'Berulah' seperti sudah menjadi ciri khas dirinya, Balotelli seolah-olah memiliki magnet yang dapat selalu mengundang perhatian. Belum lagi ia pernah membakar rumahnya karena bermain kembang api di kamar mandi saat ia masih berseragam biru muda.

Tapi rasanya tidak adil jika mengatakan Balotelli hanya menjadi perhatian melalui ulahnya di luar lapangan, Balotelli juga bisa mengundang perhatian melalui aksinya di lapangan. Sebuah tendangan mendatar ke pojok gawang Manchester United adalah salah satu aksi Balotelli yang paling menyita perhatian dunia saat dirinya membela Manchester City, bukan golnya yang ramai dibahas, tetapi tulisan 'Why Always Me?' yang ia pamerkan saat melakukan selebrasi. Berkat aksi tersebut, apparel asal Inggris Umbro yang saat itu menjadi sponsor City ketiban rezeki besar, Umbro memproduksi lebih banyak kaos bertulisan 'Why Always Me?' karena kebanjiran pesanan.


Perlu diakui, Balotelli juga ada di sana, di jajaran penyerang tengah terkuat dunia saat ini. Postur tinggi besarnya merupakan keunggulan yang disukai Rodgers. Dua bek Ludogorets mencoba menganggu dan merebut mainan si bengal, namun si anak bandel ini pun tidak mau menyerahkan mainannya. "Ia setinggi enam kaki tiga inchi dan unggul di udara. Saat crossing itu datang, ia menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa, sebuah sentuhan, lalu menyelesaikannya dengan brilian. Ia menggunakan teknik hebat menggunakan kaki bagian luar. Gol itu akan memberinya kepercayaan diri yang besar," ujar Brendan Rodgers.

Mungkin anda familiar dengan pernyataan Balotelli yang tidak begitu suka merayakan golnya dengan mengatakan "Mencetak gol adalah pekerjaanku, apakah tukang pos melakukan perayaan ketika mengantarkan suratnya?," jika memang demikian, maka tadi malam Balotelli sedang menjadi tukang pos yang berhasil mengantarkan surat setelah berjam-jam kesasar dan akhirnya menemukan alamat yang dituju. Balotelli begitu meledak-ledak merayakan gol yang ia sarangkan ke gawang Ludogorets, fans Liverpool di Anfield pun sontak melompat kegirangan.

Sebagai sedikit perbandingan dengan gol yang ia cetak ke gawang Ludogorets, mungkin anda perlu mengetik di kolom pencarian Youtube "Balotelli goal vs Mexico", silahkan anda lihat, kurang lebih Balotelli mencetak gol dengan gaya yang mirip yaitu mengontrol, menjaga keseimbangan tubuhnya yang besar, sebelum mengeksekusinya ke gawang Ochoa di ajang Piala Konfederasi 2013. Hal ini jugalah yang membuat saya berpikir jika Balotelli adalah salah satu penyerang tengah terkuat (bukan terbaik) di dunia.

Dengan demikian rumitnya tingkah laku pemuda Italia ini mengapa Rodgers mau merekrut pemain bengal ini dengan mahar 16 juta euro? Sekali lagi saya ingin mengatakan ada detil metode Rodgers dalam menangani pemain yang kita tidak tahu persis. Apakah anda ingat musim lalu Raheem Sterling tidak begitu menyita perhatian di paruh pertama kompetisi Premier League? Bahkan pemain yang dianggap sebagai pemain langka di Inggris ini sempat mendapat kritik keras dari pelatihnya di bulan September 2013, Rodgers mengatakan bahwa Sterling perlu membuat hidupnya lebih stabil terkait penyerangan yang ia lakukan yang membuatnya sempat berurusan dengan pengadilan.

Respon dari Sterling atas kritikan tersebut sangat mengesankan, Sterling menunjukkan pengingkatan signifikan baik dari segi fisik maupun permainan. Jalur karir Sterling semakin lurus. Pemuda 19 tahun juga mengungkapkan bahwa kepercayaan dirinya semakin meningkat. Ada cara pendekatan Rodgers yang baik di sini, detilnya saya tidak tahu persis. Merekrut Balotelli juga sudah pasti ia pertimbangkan resikonya, dan tentu ia memiliki keyakinan bahwa dirinya dapat menangani si bengal dari Italia ini dengan baik.

Lagi pula anak bengal biasanya hanya perlu sedikit perhatian lebih dari ayahnya, dari efek positif yang ditunjukkan Sterling, rasanya Rodgers juga bisa menjadi 'ayah' yang baik bagi Balotelli. Rodgers jelas memiliki keyakinan terhadap Balotelli.

Ditulis oleh: @zicostian
Read more ...