21 October 2014

Real Madrid Tak Sesempurna Itu, Kok

Anfield akan menjadi saksi laga klasik antara Liverpool dan Real Madrid hari Kamis ini, dan bagi kalian yang biasanya malas untuk mencari keterangan di Livescore; pertandingan itu akan dimainkan pada pukul 01:45 WIB Live di SCTV.



Sebagai pandit abal-abal yang menyamakan West Ham dengan Stewart Downing-nya sebagai Los Blancos dan Cristiano Ronaldo, saya enggan menganalisis mengapa SCTV nyaris selalu menyiarkan laga Barcelona dan Real Madrid di Liga Champions. Benarkah cuma dua tim itu yang paling diminati di ajang tertinggi Eropa? Permasalahannya terlalu pelik sehingga pandit abal-abal seperti saya tidak mampu menganalisisnya, banyak yang lebih kompeten dan cerdas untuk membahas hal tersebut.

Sedangkan saya akan lebih mencari satu sampai dua poin mengapa The Reds tak sepantasnya menundukan kepala melawan si Putih yang begitu digdaya di kompetisi domestiknya hingga Eropa. Meski harus jungkir-balik 'hanya' melawan Queens Park Rangers dan segudang PR di lini belakang serta bola-bola mati.

Sebelum laga dimulai saya ingin menjelaskan bahwa Real Madrid tidaklah asing bagi saya pribadi. Setelah menembatkan hati kepada rival sekota Liverpool di Merseyside pada akhir 90an, godaan untuk tidak mendukung tim yang dihuni oleh Luis Figo, Zinedine Zidane, Raul, Iker Casillas, Roberto Carlos hingga Guti Hernandez terlalu sulit untuk ditolak. Singkat cerita, since then, I could easily be a part-time Madridismo.

Maka dari itu, menarik melihat beberapa orang yang berkata bahwa Galacticos saat dibantai Liverpool di Anfield pada 2009 lalu masih terbilang cupu. Menurut saya, apa yang dikatakan orang itu benar. Gabriel Heinze, Arjen Robben, Wesley Sneijder, Fabio Cannavaro yang sudah tua dan Rafael van Der Vaart bukanlah nama-nama beken buat Madrid, saat itu mereka berada di masa transisi pasca dipecatnya Brend Schuster dan mengangkat Juande Ramos yang gagal total di Tottenham Hotspur sebagai penggantinya. Sungguh, wajar jika El Real dibuat tunduk di Anfield.

Tanpa bermaksud meremehkan tim lawan, apa yang dilakukan oleh Cristiano Ronaldo dalam delapan laga terakhirnya di mana ia melesakan 15 gol tak bisa dipandang sebelah mata. Terakhir meski tanpa Gareth Bale, pemain terbaik dunia 2013 itu mampu mencetak dua gol ke gawang Levante. Tapi Levante bukan Liverpool, meski keduanya punya mempunyai nama yang sama-sama berawalan dengan huruf 'L'. Apa yang dilakukan Ronaldo itu sudah pasti membuat beberapa orang ketar-ketir, benar, jika merujuk pada performanya dalam sebulan terakhir.

Akan tetapi, tahukah Anda jika sang pemain terbaik dunia yang gemar bersolek dan bersedekah ini gagal mencetak gol di lima laga terakhirnya di Anfield sebagai pemain Manchester United? Dan tahukah Anda bahwa kombinasi dengan Bale menghasilkan 47 persen dari semua gol Ronaldo di musim ini? Dan satu-satunya tim Inggris yang mempunyai rekor 100 persen kemenangan atas Real Madrid adalah hanya cuma Liverpool di tiga laga terakhir kedua tim di mana tiga pertemuan itu semua dilalui dengan clean sheets.

Ya, semua memang masa lalu -- tapi kata orang bijak berkata: 'sejarah pasti berulang'. Dan melalui data-data di atas, maka, tak semestinya Liverpool terlalu membungkuk tanpa perlawanan di tangan sang jawara Eropa pemilik 10 gelar Liga Champions itu.

Sebelum pengkotakan memuakan antara si optimis dan si pesimis kembali memanas, izinkan saya untuk memberikan sedikit analisa tak berkompeten mengapa Liverpool hari ini seharusnya mampu memberikan pertandingan seru kepada Real Madrid, meski dihadapi banyaknya problema di lini depan, tengah dan belakang.

1. Idealisme? Tiga poin lebih penting

Seorang politikus yang baik adalah ia yang memperjuangkan masyarakat yang mempunyai idealisme yang sama dengannya di parlemen ataupun dalam pemerintahan, sedangkan seorang pelatih yang 'agak' keras kepala tak peduli di situasi apapun akan menggunakan pola yang begitu idelis.

Arsene Wenger melakukan taktikal blunder di Anfield dan Stamford Bridge musim lalu, Pep Guardiola dengan keras kepala menolak untuk menurunkan harga diri serta garis lini belakangnya agar tidak dieksploitasi oleh serangan balik Real Madrid yang menyambar nyaris secepat halilintar.

Kita semua, baik yang mengganggap dirinya pintar ataupun hanya menempatkan diri sebagai suporter atau ia yang sibuk dengan gadgetnya menjadi analisator, tahu bahwa Real Madrid sangat menakutkan bukan saat mereka memegang bola, melainkan saat ia punya satu kesempatan untuk melakukan fast break.

Maksud saya, meskipun Brendan Rodgers sudah mulai melunak dengan menggunakan serangan balik juga sebagai senjata Liverpool, bermain api menggunakan pola high defensive line dan berlama-lama melakukan ball possesion, mungkin, bukan pilihan bijak.

Terutama untuk lawan yang bisa melakukan serangan balik sukses dengan hitungan 20 detik.

Idelisme dan prinsip penting bagi seorang laki-laki, tapi prioritas tentu harus diutamakan.

2. Iker Casillas bukan lagi Iker yang suci

Perdebatan antara pantas atau tidaknya Iker Casillas berada di bawah mistar gawang Real Madrid dan Spanyol terus diperdebatan akibat satu blunder kelainnya. Ia bukan lagi 'Santo' dan itu bisa dijadikan acuan.

Masih segar di ingatan bagaimana Casillas gagal mengantisipasi tendangan pemain Slovakia yang menuju lurus ke batang hidungnya. Saat seperti ini, Glen Johnson yang suka melakukan tendangan spekulasi bakal jauh lebih berguna ketimbang memainkan Javier Manquillo yang belum berpengalaman dan main aman.

We knew that our defending is bad so far, then why should we worry not to attack with Johnson as an extra winger on the right.

3. Absennya Gareth Bale


Carlo Ancelotti sudah memastikan bahwa pemain termahal dunia dalam diri Bale tidak akan bermain. Ini bisa dijadikan sebagai titik balik. Pertama karena ia punya rekor bagus mencetak gol di Anfield bersama Tottenham, kedua karena ia adalah mesin penggerak Los Merengues di lini serang sekaligus pelayan Cristiano Ronaldo.

Tanpanya, Isco dan James Rodriguez bakal bermain, akan tetapi kedua pemain ini tak berada di level yang sama dengan Bale. Satu sorakan di Anfield akan meluluhlantakan mental mereka, percayalah. Setidaknya sebelum laga dimulai nanti.

Dan absennya orang ini akan lebih kentara terlihat dibanding absennya Sergio Ramos di belakang.

4. Saatnya tunjukan taji, GlenJo


Mungkin saya adalah satu-satunya orang di planet Bumi yang masih mendukung Glen Johnson untuk bersinar di setahun terakhir kontraknya di Merseyside. Seperti layaknya mereka yang masih mendukung Mario Balotelli, saya pun menolak untuk putus asa pada bek kanan satu ini.

Paska sembuh dari cedera kontra Manchester City, saya melihat ada penaikan performa dari bek utama The Three Lions ini. Terlalu dini memang, tapi penampilan impresif Manquillo tampaknya punya andil bagaimana ia bisa cukup tampil baik West Brom (sebagai pengganti) ataupun kontra QPR.

Terlebih lagi Marcelo sebagai bek kiri gemar melakukan overlapping, dan Ronaldo yang tak punya beban bertahan. Dijaga Isco, yang secara fisik lemah, seharusnya bisa membuatnya sesekali melakukan cut inside dan melakukan percobaan tendangan jarak jauh dan berharap Casillas melakukan blunder.

5. Lubang peninggalan Xabi Alonso, berkah bagi Gerrard


Saya terlibat dalam debat bahwa Real Madrid kehilangan Alonso sebagai penyeimbang lini tengah Los Blancos bersama seorang kawan. Sami Khedira adalah seorang pemain box-to-box bukan destroyer murni, Alonso-lah orang yang menjaga kedalaman lini tengah Madrid.

Posisinya digantikan secara bergantian dengan Toni Kroos dan Luka Modric. Akan tetapi, tak ada satupun dari mereka yang merupakan seorang 'tukang tekel' di tengah. Mengekploitasinya dengan Steven Gerrard sebagai No.10 akan jadi pilihan bijak, mengingat menjadikannya sebagai No.4 akan membuatnya menjadi liabilitas.

Kenapa bukan Philippe Coutinho yang dimainkan di situ? Tunggu, saya bahkan tak menyarankan Rodgers untuk memainkan si Brasil dari peluit awal, melainkan jadi pemain alternatif di babak kedua. Ya, sekitar menit 60-an lah.

Alasannya sederhana, dalam dua laga kontra Everton dan QPR jelas ia adalah pembeda walaupun baru masuk di pertengahan babak kedua. Kedua, Real Madrid tak akan memainkan high defensive line yang bisa dijadikan 'mainan' oleh Coutinho. Contoh kasusnya adalah Newcastle dua musim silam dan Arsenal musim lalu. Jika tim lawan melakukan lini belakang dan dalam, maka, jurus tendangan mabuk akan dilakukannya. Mohon maaf buat penggemar Coutinho di luar sana, tapi membayangkannya saja sudah bikin frustrasi.

Memainkan Gerrard sebagai No.10 tidak akan jadi masalah kecuali stamina sang kapten. Akan tetapi, satu link-up play bersama Balotelli dan satu tendangan yang nyaris membuahkan gol di laga akhir pekan lalu, bisa dijadikan ajang 'pemanasan' sebelum mengeksplotasi borok peninggalan kawan baiknya itu. Big player made for a big game, have you ever heard that quote?

6. El Clasico

Laga akhir pekan ini akan mempertemukan Real Madrid dan Barcelona. Kurang lebih agaknya mereka pasti memecah dua konsentrasi ke laga super prestisius bagi mereka itu.

Dan, tanpa bermaksud untuk menggurui Brendan Rodgers sang juru latih, saya sebagai orang awam yang bahkan menjadi pelatih liga tarkam saja tidak pernah sekiranya membedah beberapa poin di atas, bukan untuk sang manajer. Namun agar setidaknya Steven Gerrard dkk bisa masuk lapangan dengan bangga dan menutup laga, menang ataupun kalah, dengan kepala tegak.

***



Ditulis tanpa paksaan dan tekanan oleh @MahendraSatya
Read more ...

22 September 2014

Y.N.W.A


Akhir pekan lalu, Sabtu (20/9), Liverpool menyambangi Santiago Bernabeu di ajang lanjutan Liga Champions, yang tentu saja adalah markas besar Real Madrid. Jika ditilik dari rekor pertemuan, The Reds yang datang sebagai tim tamu disebut punya modal kuat untuk mencuri poin di ibukota.

Di pertemuan terakhir saja, dengan Iker Casillas sedang berada di puncak penampilan tak bisa menghadang Steven Gerrard dan kawan-kawan memberendel gol. Apalagi seperti sekarang di mana mereka saja harus kalah dua kali di kandang sendiri di awal musim.

Seperti layaknya partai-partai besar lainnya, Brendan Rodgers sebelum laga menyampaikan dalam konfrensi pers bahwa Liverpool tidak punya masalah dengan mengantisipasi bola-bola mati. Itu berarti masalah kebobolan dengan cara yang aneh melawan Aston Villa bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan.

Tentu saya manggut-manggut setuju. Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo tidak akan pernah mengancam karena Liverpool punya Javier Manquillo, yang dulunya bermain untuk Atletico Madrid B, dan Alberto Moreno, yang ikut membawa Sevilla ke tangga juara Europa League bersama Sevilla, tampil menawan di laga-laga sebelumnya.

Apa lacur, laga di Santiago Bernabeu itu berakhir tak seperti yang diperkirakan. Belum apa-apa berawal dari bola mati, tuan rumah berhasil mencetak gol lewat aksi Sergio Ramos yang tak terkawal di depan gawang.

Saat itu saya berpikir, mungkin salah menerjemahkan komentar Brendan Rodgers di awal laga tadi. Mungkin sebenarnya ia khawatir dengan kemampuan anak asuhannya bertahan dari situasi set piece. Ya, mungkin saya yang salah.

Tapi kemudian Cristiano Ronaldo menceploskan bola dengan cara yang luar biasa. Entah apa yang dimaksudkannya pertama kali, tapi ia berhasil melob bola di dalam kotak penalti ke tiang jauh gawang Simon Mignolet.

Berusaha menemukan alasan logis, saya berpikir namanya juga peraih Ballon d'Or -- pemain terbaik dunia, apa yang tak bisa dilakukannya dengan bola. Gol-gol seperti itu sering dilakukannya, saya saja yang payah tak pernah menontonnya berlaga sebelum-sebelumnya.

Lucas Leiva yang saya kagumi, malam itu gagal bersaing dengan trio gelandang Real Madrid yang dipenuhi bintang hingga akhirnya diganti. Toni Kroos, Luka Modric dan James Rodriguez menjelajahi lapangan semau mereka. Steven Gerrard yang berperan sebagai gelandang bertahan sampai gagal melakukan umpan terobosan, tidak melakukan tembakan, dan gagal memenangi tekel.

Jika melihat mewahnya tiga gelandang yang digunakan Carlo Ancelotti, nampaknya wajar jika dua pemain Liverpool di atas gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya. Wajar, dong. Namanya juga lawan Real Madrid.

Paruh babak kedua dimulai, Adam Lallana menggantikan Lucas. Pasti karena alasan ia lebih tampan dari pemain asal Brasil itu. Tapi hasilnya terbukti lebih baik, Liverpool mendominasi laga. Terbukti terjadi peningkatan dibanding laga kontra Aston Villa di mana hanya ada satu tendangan yang mengarah ke gawang dibanding enam saat berhadapan dengan Los Blancos.

Saat The Reds begitu dekat dengan gol penyama kedudukan ditambah Don Carletto sudah menggunakan semua pergantian pemainnya, sedangkan Toni Kroos yang mengenakan nomor punggung 8 dan berbaju ungu terlihat terpincang-pincang -- secara menakjubkan Gareth Bale yang pernah mengakhiri musim dengan torehan 0 gol dan 0 assist bersama tim yang tidak tau apa itu memberikan umpan yang ciamik kepada pemain pengganti Javier Hernandez.

Tentu kekalahan di Bernabeu ini akan jadi lecutan sebelum laga yang diprediksi akan biasa-biasa saja di Boleyn Ground markas West Ham United. Ya, tak masalah meski akhir-akhir ini Diafra Sakho dan Stewart Downing sedang senang sekali membobardir gawang lawan-lawan antah berantah mereka itu.

8-2? Ah, kalau melihat kemungkinan Glen Johnson bisa kembali pulih fit total dalam kurun waktu sepekan lagi, Downing dan Sakho yang biasa bertukar posisi harus ketar-ketir menghadapi sang bek paling tangguh di tanah Britania itu. Dan siapalah itu, Mark Noble, Cheikhou Kouyate dan Alex Song, yang cuma jadi cadangan di Barcelona.

Belum lagi ditambah semakin kompaknya Dejan Lovren dan Mamadou Sakho yang akan membuktikan diri kebenaran ucapan Rodgers bahwa mereka bisa melakukan man-to-man marking dan tidak akan menyundul bola ke arah Gareth Bale seperti akhir pekan lalu. Ya, pasti kedua pemain yang ditotal seharga 36 juta pounds ini pasti bisa menggantikan peran Daniel Agger yang sudah pulang kampung.

Dengan begitu, keoptimisan meraih tiga poin bukan hanya di pikiran belaka, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa apalah anak muda tanpa berpikir positif. Tentu saja, saya optimis menang, toh lawannya cuma West Ham United.

Y.N.W.A

Ditulis dengan khidmat oleh: @MahendraSatya
Read more ...

23 May 2014

Melawan Birokrasi Berbelit

Musim 2013/14 adalah musim yang indah untuk sebagian besar pendukung tim asal Merseyside; tak hanya untuk tim yang berseragam merah-merah, namun juga bagi pendukung tim berbalut warna biru.


Tanyakan pernyataan di atas kepada fans Liverpool maupun Everton, maka niscaya mereka tak akan membantahnya. Kendati kedua tim asal kota kota pelabuhan itu nir gelar di akhir musim, perjalanan dua tim itu menjanjikan suatu perjuangan yang lebih indah lagi musim depan.

Khusus fans the Reds, perbaikan mendalam mengenai pembenahan skuat yang kelewat tipis perlu dilakukan. Tak cukup hanya melakukan tambal sulam pemain yang hampir dipastikan kembali ke klub asalnya seperti pemain pinjaman Victor Moses yang kembali ke Chelsea maupun Aly Cissokho yang pulang ke Valencia.

Mengharapkan magis duet SAS sudah pasti akan dilakukan. Daniel Sturridge dan Luis Suarez tetap akan dijadikan ujung tombak berlapis emas, sedangkan Brendan Rodgers sebagai orang yang memainkan tombak itu sudah cukup menjanjikan. Namun, memperbaiki serta memperkuat badan tombak harus dilakukan.

Ekspektasi adalah kata yang akan tercantum di benak setiap pemain Liverpool musim depan. Tentu lebih mudah bermain sepak bola tanpa ekspektasi berlebih seperti musim ini. Tampil sebagai underdog - anak-anak Rodgers hanya dibebani kewajiban untuk masuk empat besar, alih-alih menjalankan peran sebagai salahsatu calon kuat peraih gelar Premier League layaknya yang mereka lakukan delapan bulan terakhir.

Tak ada yag memperhitungkan Liverpool yang finis di posisi tujuh musim sebelumnya melejit ke posisi dua musim ini dengan skuat tipis yang bahkan kalah mewah dibanding tim yang mengakhiri musim di posisi tujuh. Gairah besar untuk mengembalikan the Reds ke tempat mereka seharusnya berada adalah modal utama yang pada akhirnya bisa dimaksimalkan sepanjang musim, tapi dengan naiknya ekspektasi musim depan - gairah saja tak akan cukup.

Tantangan bagi manajemen Liverpool untuk menjawab tantangan tersebut. Memperkuat tim dan membangun skuat yang tak hanya dirancang untuk meraih empat besar tapi juga gelar juara merupakan hal mendasar yang wajib dilakukan. Jika, memang ada ambisi besar dalam manajemen.

Menurut rilis resmi dari Premier League mengenai pembagian TV rights beberapa hari lalu, Liverpool adalah tim yang memperoleh jumlah uang tersebar sebesar 99 juta pounds lebih. Tentu perolehan ini ditambahkan oleh angka yang didapat dari perburuan sponsor di bursa transfers musim dingin Januari silam. Lewat Garuda Indonesia, Vauxhall dan Dunkin' Donuts yang baru mengikat diri dengan tim dari Anfield, angka sensasional dari pembagian hak siar TV itu potensial bertambah besar.

Namun yang terjadi di Januari benar-benar anti klimaks. Tak kurang Mohamed Salah yang akhirnya pindah ke Chelsea dan Yevhen Konoplyanka dari Dnipro gagal diboyong ke Merseyside.

Agen Salah pernah berkata sebelum kliennya resmi pindah ke Chelsea bahwa negoisasi yang dilakukan oleh pihak Liverpool terlalu berlarut-larut dan memakan waktu nyaris selama dua bulan. Akhirnya pemain asal Mesir itu pindah ke klub rival di London dan sasaran berikutnya adalah pemain Ukraina Konoplyanka, tapi dengan tenggat waktu yang tak sampai dua pekan, dan kecenderuangan Ian Ayre sang negosiator untuk berhati-hati maka kegagalan transfer tak mendatangkan siapapun pada bursa transfer musim dingin itu sudah dapat ditebak.

Berbicara mengenai proses transfer milik Liverpool berarti kita berbicara mengenai sebuah proses birokrasi yang tak kalah rumit dengan birokrasi di Indonesia. Ada unsur politis dalam proses transfer tersebut yang hanya bisa diterka-terka kebenarannya.

Memang terasa mengada-ada, tapi jika Anda mengacu pada kebijakan transfer sejak Rodgers mengambil alih tim dari Kenny Dalglish maka terjalinlah sebuah garis lurus untuk dijadikan acuan.

Kedatangan Iago Aspas, Luis Alberto dan Simon Mignolet di awal musim sebenarnya cukup impresif. Ada keinginan untuk menambah kualitas tim meski tak semuanya berakhir dengan baik. Aspas dinyatakan gagal, Alberto adalah pemain untuk masa depan sedangkan kedatangan Mignolet (yang menurut saya bagus sebagai shot stopper bukan sebagai sweeper goalkeeper) mengandung pembahasan bahwa Pepe Reina memiliki gaji yang terlalu besar sehingga 'dialihkan' ke Napoli.

Proses transfer dalam diri Liverpool terbagi atas beberapa tahap. Sangat mendetail sehingga cukup mengebiri peran Rodgers sendiri sebagai juru taktik.

Hal ini wajar dilakukan mengingat apa yang terjadi beberapa tahun lalu saat Damien Comolli masih menjabat sebagai Direktur Sepak Bola. FSG sebagai pemilik enggan menggelontorkan Dollar mereka jika yang diraih pada ujungnya transfer tersebut gagal. Oleh sebab itu, pengencangan sabuk serta mengembangkan dewan transfer dibuat oleh mereka dalam struktur.

Barry Hunter dan Dave Fallows adalah dua orang yang paling mempunyai peran dalam dewan transfer itu. Rodgers terlibat, tapi menurut hemat saya ia hanya akan memberikan detail-detail pemain seperti apa yang ia butuhkan; bukan menyebutkan secara spesifik nama pemain yang ia butuhkan. Lalu lewat pertimbangan dewan transfer mereka akan menggodok nama-nama paling relevan untuk mengisi kebutuhan strategi Rodgers. Sebelum akhirnya dewan transfer mengajukan nama ke Ian Ayre yang akan mengurus negoisasi transfer hingga kontrak sang pemain - tentunya dengan kehati-hatinya.

Ambil contoh Oussama Assaidi. Pasti Anda bertanya untuk apa membeli Assaidi jika akhirnya mendapat kesempatan untuk bermain pun sangat terbatas? Atau marquee singing di musim panas dalam diri Mamadou Sakho.

Sakho adalah pemain muda berpengaruh di Paris St Germain. Di usianya yang masih sangat muda ia menjabat sebagai kapten tim metropolis itu, tentu pembeliannya harus dibarengi dengan pujian pada dewan transfer. Rodgers saya rasa mengerti akan kebutuhan kualitas di lini belakang setelah performa Martin Skrtel merosot tajam musim lalu. Tapi benarkah Sakho orang yang diinginkan Rodgers? Belum tentu, mengapa demikian? Bukti bahwa di saat pertahanan yang selalu dirotasi itu tak pernah memunculkan duet Agger-Sakho sebagai bek tengah merupakan fakta yang memunculkan pertanyaan. Benarkah Sakho orang yang diinginkan Rodgers? Jika perpaduan bek tengah kidal-kidal rawan dimainkan, lalu mengapa membeli bek berkaki kidal?

Pembelian pemain dengan kualitas seperti Aspas sudah pasti bisa diminimalisir karena Liverpool masuk ke Liga Champions musim depan yang berarti memungkinkan pemain bintang tertarik merumput di Anfield. Tapi yang tak kalah penting adalah pemain yang nantinya akan didatangkan haruslah pemain yang diinginkan Rodgers secara spesifik.

Hal ini adalah tantangan besar untuk manajemen agar mengambil resiko yang lebih besar untuk memberikan ruang yang lebih besar kepada manajer yang membawa segenap suporter Liverpool bermimpi indah musim ini dan mengurangi proses birokrasi berbelit tersebut. Karena semua semata-mata untuk masa depan yang lebih baik.

Bukan begitu?

Ditulis oleh: @MahendraSatya
Read more ...

1 May 2014

Namaku Kipo....

Perkenalkan teman saya yang bernama Kipo. Sudah pasti nama samaran. Ketika saya tanya secara random kira-kira jika bisa menyamarkan nama, nama apa yang akan ia pilih. Lalu, ia sendiri yang meminta untuk disamarkan menjadi Kipo. 


Percakapan ini terjadi sehari setelah Liverpool takluk di Anfield oleh Chelsea. Lokasi obrolan kami adalah di sebuah cafe pojokan kota Hujan yang entah berapa hari lagi akan ditutup karena sepi pengunjung.

Seperti sedang membicarakan ideologi terlarang di negeri ini, kami memilih untuk ngobrol berdua di tempat yang jauh dari kata mainstream bagi mereka yang menyandang predikat anak gaul Bogor.

Ia menolak untuk disebut namanya dan meminta obrolan sepak bola kami disamarkan. Dan setelah mencari ide ke sana-sini akhirnya tulisan ini berhasil dibuat.

***

Hai, perkenalkan namaku Kipo. Aku tak pandai pun tak cerdas. Aku hanya suka mengamati dan menilai hal dari sudut pandangku sendiri. Kau mungkin tak suka tapi apalah aku yang bisa menuntut ini-itu darimu.
Namaku Kipo. Aku pun tak begitu mengerti sepak bola, kau yang lebih mengerti, aku tahu. Aku sendiri baru tahu sepak bola tepat di saat teman-temanku mulai suka berpergian ke kampus menggunakan atribut - kalian menyebutnya jersey - tim-tim Eropa. Ah, bahkan aku baru tahu bahwa ibukota Romania adalah Bucharest setelah menyukai sepak bola.

Aku sudah diperkenalkan bahwa namaku Kipo. Aku tak paham benar sepak bola, jangan engkau salahkan aku. Entah siapa yang hendak kau salahkan, tapi jangan salahkan aku. 
Kipo namaku dan aku suka Liverpool. Tak seperti orang di depanku yang tak jelas suka Liverpool atau tim sekotanya. Apa namanya yang bajunya biru-biru itu? Iya, iya, itu. Maaf, kan aku sudah bilang kalau aku tak begitu suka sepak bola.

Aku Kipo, dan aku baru suka sepak bola, seperti yang aku bilang tadi. Jangan tanya dari kapan aku suka tim yang pakai baju merah-merah itu karena kata orang depanku - yang akhirnya menulis ini - 'tak penting dari kapan yang penting sampai kapan'. Cih, sok filosofis sekali dia. Aku tak begitu menyukainya, ia suka berdebat dan memaksa.

Kipo namaku dan aku adalah teman orang yang tulisannya sedang kalian baca saat ini. Sikapnya yang menyebalkan terus memaksaku untuk memberitahunya apa yang ada di pikiranku soal Liverpool lawan tim yang juga mengenakan kostum biru-biru itu. Chelsea. Teman-temanku di kampus banyak yang memakai jersey biru-biru. Tapi aku tak suka warna biru. Merah lebih bagus. Ah, kok malah melantur.

Mudah-mudahan orang yang di depanku ini tak menulis soal kebiasaanku melantur ya? Semoga. Bisa malu kalau sampai ketahuan aku suka bicara melantur, padahal aku sudah ja'im.

Seperti yang aku bilang, aku baru suka sepak bola. Alasannya sederhana, Liverpool yang aku suka ini main bolanya bagus. Aku biasa mengkambing-hitamkan sepak bola sebagai alasan propaganda para elit politik di negeri ini. Tapi Liverpool ini mengubah pandanganku. Mainnya keren, karena sering mencetak gol yang keren-keren. Luis Suarez, walaupun mukanya gak ganteng tapi aku menyukainya. Mungkin karena ia sering mencetak gol ya?

Ah kan, orang di depanku mulai lagi. Aku sudah bilang ia suka berdebat. Setiap kali aku bilang pemain favoritku Suarez dia bicara aku semestinya lebih suka pada Andy Carroll. Akhirnya aku tahu siapa Carroll. Ia yang memukul kepala kiper ganteng Liverpool hingga kebobolan itu kan? Huh, tak ada ganteng-gantengnya.

Orang di depanku ini bebal. Asal kau tahu. Liverpool setahuku memang selalu bermain menyerang seperti ini. Tapi ia berkata ada saat Liverpool pun bermain bertahan seperti Chelsea malam itu. Aneh, ia pun sempat menyebut nama Roy Hodgson. Siapa itu? Aku tak tahu.

Maaf, maaf aku melantur lagi. Seharusnya aku bicara soal Chelsea yang orang ini tanyakan.
 Aku Kipo, dan banyak orang, termasuk orang yang sedang menulis ini bilang, kalau aku sok tahu. Aku pun bingung kenapa ia masih ingin berteman denganku. Mungkin karen kadar kesotoyan kami sama-sama tinggi. Padahal menurutku apa yang dilakukan Chelsea saat itu wajar-wajar saja.

Beberapa tahun lalu aku pernah sengaja menonton Inter lawan Barcelona. Saat itu aku dipaksa bangun pagi-pagi buta menemani mantan pacarku yang suka Barcelona. Kata mantanku itu, apa yang dilakukan Inter seperti bencong dan Barcelona seharusnya menang, saat itu aku berpikir, apa mungkin Barcelona yang berputar-putar terus menyerang membuatku ngantuk dan bosan setengah mati itu sebenarnya menang? Tapi kok kata mantanku akhirnya yang juara Inter? Aku bingung, benar-benar bingung.

Dan saat menyaksikan laga tim kesayanganku itu bertanding lawan Chelsea, aku teringat sesuatu. Aku kenal pelatih lawan berambut silver itu. Tingkahnya sama saat menang lawan Barcelona dikalahkannya, Jose Mourinho. Ya! Ya! Orang yang sama!

Hei, ingat, aku tak mengerti sepak bola. Paling tidak aku tak terlalu mengerti sepak bola seperti kalian. Tapi aku rasa Liverpool tak ubahnya Barcelona yang tak menemukan cela untuk mencetak gol. Bahkan pemain favoritku yang baru jadi pemenang Pemain Terbaik tak bisa membongkarnya.

Mourinho, menurutku, begitu jumawa menepuk dadanya di layar tivi yang aku tonton. Padahal kemenangannya seperti dihadiahi oleh kapten timku. Aku kesal, sih. Tapi kata orang menyebalkan di hadapanku ini, kalau aku kesal pada Gerrard lebih baik disimpan saja karena itu tak ubahnya menyanyikan lagu Genjer-Genjer di masa Orde Baru. Hih ngeri, pikirku.

Tapi aku jadi paham satu hal. Bahwa tak peduli seperti apa tim sepak bola bertanding, bertahan atau menyerang, toh siapapun yang mencetak gol lebih banyak dari lawannya akan menang. Nyatanya, aku sudah dua kali jadi saksi kalau tim yang bertahan total seperti Chelsea dan Inter - waktu itu - pada akhirnya lebih banyak tersenyum dari yang menyerang sepanjang pertandingan pada akhirnya. Istilah yang berhasil aku dapatkan sepintas di otakku adalah, banyak jalan menuju Roma. Lalu, kalau memang banyak kenapa harus mempersalahkan keputusan seseorang untuk mengambil jalan yang berbeda dengan kita.

Duh, aku jadi semakin bingung. Aku terlalu filosofis seperti orang di depanku ini. He did not put 'annoying bastard' on his Twitter for nothing, did he?

Namaku Kipo, itu yang aku tahu. Karena aku tak tahu apa mantanku masih suka Barcelona sampai sekarang karena aku tahu timnya sekarang tak seberapa bagus, padahal masih punya Messi. Ya biarlah, itu tak penting. Dan meskipun kata temanku yang annoying di depanku peluang Liverpool tipis untuk menjadi juara, aku masih percaya sampai secara matematis sudah diputuskan gagal. Gapapa ya?

Seperti apa yang aku katakan sebelumnya jangan salahkan aku dan opiniku yang tak bisa dibandingkan dengan dirimu. Salahkan temanku yang memaksa untuk memasukan opiniku dalam tulisannya.
Iya, lain kali aku bakal memaksanya untuk jadi penulis zodiak saja. Itu lebih cocok untuknya yang sok tahu.
 
***

Written by: @MahendraSatya
Read more ...

27 February 2014

Versi Upgrade Brad Jones

Tak ayal Simon Mignolet punya andil besar membawa the Reds terlihat perkasa musim ini tanpa bantuan viagra. Tanpa kemampuannya memblok bola yang mengarah ke gawang tim Merseyside itu sudah pasti tiga kemenangan beruntun di awal musim beserta clean sheet tak bisa diraih.


Yang saya coba tekankan adalah improvement yang terjadi setelahnya. Liverpool yang sebelumnya cuma 'hidup' di babak pertama kini terlihat sama berbahayanya di paruh kedua pertandingan. Tanpa andil pria yang menguasai lima bahasa ini di bawah mistar anak-anak Brendan Rodgers akan kehilangan banyak poin seperti yang sudah-sudah.

Tapi efek samping dari plan A Rodgers yang menuntut kesempurnaan perlahan-lahan mulai terlihat. Tanpa kehadiran Jamie Carragher yang suka berteriak memberikan komando, lini belakang Liverpool mulai terlihat limpung.

Sebutlah Daniel Agger yang musim ini menjadi wakil kapten tim dan juga kapten dari tim nasional Denmark mempunyai jiwa pemimpin, atau Kolo Toure yang di tim sebelumnya memang berperan sebagai kapten. Kehadiran mereka di lini belakang tak bisa menggantikan peran Carra.

Hasilnya buruk. Sungguh tak diduga jika masa sebelum pensiun, Carragher yang tak pernah menjadi salah satu bek tengah terbaik oleh para pundit, malah sangat berpengaruh besar ke Liverpool. Karena statistik tak bisa disangkal, maka bukti sahih dari borok lini belakang itu adalah jumlah error leading to shot or goal yang diraih tim berkostum merah-merah itu menjadi yang tertinggi di Premier League.

Media punya peranan memblow-up betapa buruknya performa lini belakang the Reds, tapi tanpa bantuan mereka pun dengan mata telanjang kita bisa melihat bawah ada borok di posisi yang kerap diotak-atik Rodgers itu dan gagal diselamatkan oleh Mignolet.

Sistem rotasi, absennya pemain-pemain belakang semacam Mamadou Sakho atau Jose Enrique atau performa buruk Glen Johnson dan Aly Cissokho yang cuma bagus dijadikan bahan lawakan kerap dijadikan alasan. Tapi sebetulnya jika kita membicarakan koordinasi maka ada hal yang lebih penting.

Kenyamanan adalah kata yang hilang dari lini belakang the Reds setelah pensiunnya mantan pengguna No.23 itu. Dan karena saya termasuk orang yang suka berprasangka baik, mungkin musim depan kenyamanan dan koordinasi yang muncul setelahnya bisa terlihat.

Kiper Liverpool sebelumnya bernama Pepe Reina, ia dipinjamkan Liverpool ke Napoli awal musim ini. Ia jelas tidak akan kembali karena hadirnya sosok bernama Xavi Valero dan Rafa Benitez di Naples. Tapi mungkin, sosok senior sepertinya di belakang adalah solusi dari pembenahan lini belakang.

Tidak, saya bukan merindukan blunder-blundernya - karena Iker Casillas dan Gigi Buffon pun tak bisa dipisahkan dari kata blunder, yang saya rindukan adalah kemampuannya berperan sebagai sweeper goalkeeper dan sosok seniornya sebagai kapten ketiga tim musim lalu.

Sebagai penganut filosofi penguasaan bola, Rodgers menuntut 11 pemain mampu memainkan bola di kakinya. Membangun serang dari lini terdalam. Yap, peran yang akan dijalani oleh Reina dengan baik.

Dalam keadaan normal, Rodgers akan dengan senang hati memilih tipe kiper seperti Reina yang nyaman memainkan bola di kakinya. Mungkin ada misi mengganti pemain yang berkepala tiga, bergaji tinggi dan suka blunder dengan yang lebih muda dan lebih murah, saya tidak tahu.

Biasanya, jika pemilik No.25 itu tak bermain maka kiper asal Australia yang akan bermain. Mantan kiper Middlesborough bernama Brad Jones. Tak teruji tapi terkadang cukup bagus dalam positioning, dan tampak kikuk seperti Penguin yang berjalan di darat jika lama-lama memegang bola. Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, Jones bukan tipe kiper yang cocok untuk dijadikan sweeper keeper ia bertipe shot stopper.

Nama Pepe Reina sudah menjadi masa lalu. Bahkan sekalipun Napoli enggan mempermanenkannya ia sudah dipastikan hengkang. Dan walaupun saya bukan penggemar beratnya, kurangnya kemampuan koordinasi sang kiper baru dari Belgia dan kikuknya ia dengan bola membuat kenyamanan itu hilang. Saya tak tahu dengan Anda, tapi melihat Mignolet mencoba mengumpan ke Skrtel atau Toure di depannya terlihat sangat mengerikan.

Coba lihat situasi di White Hart Lane beberapa waktu lalu. Kikuknya kiper berusia 25 tahun itu dengan bola berhasil diserobot oleh Roberto Soldado yang untungnya dianulir karena dianggap sudah melanggar terlebih dahulu, walaupun saya tidak tahu di mana elemen pelanggarannya.

Mignolet masih punya banyak waktu untuk memperbaiki semua kekurangannya dengan semakin bertambahnya usia, pengalaman, serta seberapa lama ia bertahan di klub dan menjadi sosok senior; karena mengubah tipe permainan seorang pemain terlebih di posisi kiper sangat tidak mudah, dan seperti halnya memohon Jose Enrique diberhaki otak Fabio Aurelio - meminta kepada Tuhan agar Mignolet yang punya refleks jempolan khas seorang kiper tradisional diberkahi kaki selincah milik Reina tanpa proses terlebih dahulu kecil kemungkinannya.

Tapi jika tak buru-buru dibenahi, buat saya Simon Mignolet cuma versi upgrade yang lebih baik dari Brad Jones, seorang shot stopper handal tapi tidak dengan kakinya.

Ditulis oleh: @MahendraSatya
Read more ...

25 December 2013

Mission: Being Lions

I almost never lose my cool even when Liverpool got beaten by small teams, at least on my very own Twitter account. I usually put all of my moans on the journals that luckily had been given to me.



Since being a proud supporter when Liverpool in 2008-09 season, when the Reds finished the Premier League at second position at the end of that season, all I know since then were just inconsistency, the star players gone one by one and defeats.

The anomaly came again last time when the Red Merseyside beat the-almost-unbeaten-at-home for Liverpool by a sensational score, Tottenham Hotspur, 5-0. The anomaly just won't stop there, Liverpool are finally at the top of the league. I even can't remember how it feels like to be a supporter of a winning team.

17 wins, maybe that's why I lost my almost all resources to search any bad thing that probably can be found in a win. Normally, there will always something for me, any bad things would not be missed.

Standing applause for Brendan Rodgers who makes the team like this. The team that I always heard for sometime, the team that back in 80s conquered England and Europe. After that win against Spurs, I feel over the moon not only by the score but with how the team won that game as well. It was just very impressive. It feels like Liverpool can beat anyone in the league, the feelings that I haven't felt for like four or five years.

Being at the top of the table is nice, but the league won't stop tonight. There are new challenges, the first one of two big games at the end of the beautiful 2013. Manchester City who beat all the away teams, and then Chelsea who never got beaten at Stamford Bridge under Jose Mourinho.

Let's take one by one. Firstly, Manchester City.

Because I think all of us has known what's bad and good in Liverpool team, then, let's talk about how good the Man City's sides are.

The partner in Every Pos

A friend of mine told me last week that Pellegrini always build a team around duets in every line of his formation.

At the back they got Kompany-Lescott, with two brilliant wing-backs in Kolarov (DR) and Clichy (DL) as their back four.

In midfield there are a partnership between Yaya Toure and Fernandinho. Navas on the right that has a speed of light partnering with Silva or Nasri on the other flank. With Negredo and Dzeko or anyone else, that could step up for Kun Aguero and I bet the player will as dangerous as the Argentinian, up front.

Etihad That Means Goals Galore

How many goals scored in De Gea's net when United were away at Etihad? I know the Devils got beaten there, but there were also 6 in Tottenham's and Arsenal's. Just as you know that, before left Eastland with that result, the Gunners held the best defensive record. And they still got beaten by 6 goals.

But Man City are fragile at the back. I don't care what Luis Suarez produced the other nights, the 200,000 million pounds per week man must produce the same action later. Henderson, Allen, Lucas are all impressive, but before the mighty captain Gerrard make his return they must do anything they can to stop all the goal-scoring midfielders from the Citizen. It's the only way make Gerrard being Carra-ed and they can play week in and out.

8 Wins Out of 8 Matches at Home

After last season when Rodgers can't find the way to beat any top six teams, now he turn everything around, with a good record.

With the likely injured Flanagan will not play, who will replace him? I don't know who but Rodgers knows best, so whether it'll be Johnson on the left, Kelly, Agger, Sakho, or the highly rated young Brad Smith, or even if Rodgers decides to play 3 CBs, it'll be no effect as long as the full point gained at Etihad.

***

These two matches could probably the game that Liverpool really looking forward to. If a match after got beaten by Southampton they can go back to the winning ways, and Hull, and Arsenal, because the teams that came along the way are not as good as them. A defeat against City will make a Liverpool in bad position because Chelsea are waiting patiently in the corner.

But only if Liverpool can take all the 6 points available, I will start to dream about the English Premier League title. And just that.

Rodgers knows best which they are up against this week, an away game to the cage full of Lions. But Rodgers and all of us knows, to beat Lions at their home, Liverpool need to become Lions once again, just like what they did at White Hart Lane.

Written by: @MahendraSatya
Read more ...

11 November 2013

Is SAS Really That Good? Don't Think So

Liverpool are currently flying high, leave all the mediocrity that has been there since 3 or 4 seasons ago. Red Merseyside have returned to the place they belong at the half-top of the table and sitting just behind Arsenal by two points who just lost to Manchester United last night.




It'll be good if we look at their response on the defeat against The Gunners who looks unbeatable last week. Brendan Rodgers used 3-5-2 at the start to accommodate the double figures that exaggerated as the main reason why Liverpool seen as a team that can beat any team in Europe. And for some Liverpool fans they think Barcelona and Real Madrid, yes, because of that unstoppable partner in front, Daniel Sturridge and Luis Suarez.

But both the on fire goal machines just powerless to break The Gunners' defence, the most expected partner they failed to find the net, most desperately they look like a duet that never played together before. Reds went home to the river side city with nil point on hand and a bunch of new issues that came up not only on that match in London but at Anfield when they trashed The Cottagers with dominant scoreline 4-0.

There was a big difference between what happened before Anfield's match three weeks earlier where The Uruguayan scored his superlative hat-trick seen by The Kop and Sturridge added a goal with a beauty lob over Boaz Myhill's reach, with ones that shown at Emirates and last Saturday night. Because I noticed this at first when they beat WBA and when Suarez got his hat-trick, Sturridge was just force himself until that lob finally came. Where I imagining that Sturridge was thinking, "My partner has scored trice in the game and I got nothing yet."

The official Liverpool's website is a boring thing. Because they prohibited to give you anything but a good thing and only that, they don't educate people as well. Since the Joker Suarez return on the pitch, everybody was thinking that they'll form a perfect partnership. Sturridge is a all-around type forwarder that willing to come deeper to get the ball but also an excellent left-footed goal poacher, and so does Suarez. It makes them a better partnership than Carroll-Suarez who has a very different type of duet - an English target man and world class player, it just didn't work. And yes, in the first three matches when they firstly formed none was complaining, they were great.

The problem is it seems that no ego appears between the two, between The Englishman and The Uruguayan. However, the face shown when Sturridge just kicked the ball to no where at Emirates followed by that straight face spoke nothing but bad feelings felt by him for didn't get the ball even though he was in a better position when Suarez picked to shoot the ball out wide Wojciech Szczęsny's goal.

Every strikers need to be egoistic, it's an essential point of being a good striker especially when the manager using a lone striker up front. Instead, when the manager uses two main strikers then it would be a different thing on the pitch. The two needs to work together. The SAS now, at least in the last three matches, can't show the togetherness like what they always say that being a partner of the other is a gift and fantastic etc. How stupid.

It's continuing, I can't remember when Sturridge tried to find a better position Suarez in the last three matches. Sturridge chose to run with the ball more often that in the end will forced him to shoot the ball by his weeker foot. On the other side, Suarez once or twice tried to find Sturridge, but only happen if he has score goal or two. Let alone Sturridge if he has not score yet, it's like saying "Don't you dare to even think you'll get my ball if I haven't score goals".

Sturridge seems like need to be the center of attention, he ambitiously wants to prove himself now a better player etc - you name it, but in fact, he plays more effective and clinical as a lone striker when he became a hero in Liverpool's triple 1-0 win at the beginning of the season where he took away all the headlines. As I remember, I thought he has recovered from an illness that long embedded. He's a selfish striker from Manchester City to Chelsea and I think the disease was not cured at all.  But who cares of him? Jealousy is enveloping, Suarez The Hero scores and everybody's happy bar his own forgotten partner that only can find the target once at Anfield last weekend and failed to score two matches in row. He's prestige has been declining.

The SAS probably stroke the opponents net 16 times in total since Suarez return, but ever since do they really can work together or just possibly an enemy in disguise? The time bomb is ticking for the "Calon Juara Musim Ini" to deal with.

Written by: @MahendraSatya
Read more ...

21 October 2013

3-4-1-2 Tidak Sejelek Itu, Kok

Tidak semua kegagalan meraih kemenangan berarti negatif. Setidaknya itu yang ditunjukan di St James Park, di kandang Newcastle untuk pertama kalinya musim ini Liverpool menunjukan performa yang baik di babak kedua.


Tujuh pertandingan awal di Premier League mungkin baru satu-dua kali saya tidak olahraga jantung di babak kedua melihat The Reds membuka pintu untuk lawan agar menyerang mereka dengan tangan terbuka dan sukarela. Pada awal musim Daniel Sturridge dan Simon Mignolet bergantian selalu keluar sebagai pahlawan yang menghindarkan Liverpool dari kekalahan serta hasil seri serta kekalahan yang tidak sepantasnya didapatkan dengan susah payah.

Entah apa yang terjadi di ruang ganti dan apa yang diteriakan Brendan Rodgers di pinggir lapangan, performa Liverpool jarang terlihat bagus di babak kedua. Dibutuhkan enam laga sampai akhirnya telur itu pecah, gol Luis Suarez di babak kedua melawan Sunderland menjadi bukti betapa tim Merseyside lebih berkehendak untuk menunjukan ketangguhan lini belakangnya dan mencari gol-gol iseng berhadiah dengan serangan balik.

Semua startegi pada dasarnya baik, dan bagi mereka yang berada di posisi bukan manajer dan pemain tidak berhak berbicara, penonton hanya butuh mengetahui hasil akhir, seperti itulah panduan di buku yang saya baca. Tapi melakukan senam jantung hampir setiap weekend bukanlah hal yang baik, apalagi jika Anda dituntut rasa insecure serupa sepanjang minggu.

Liverpool punya kebiasaan aneh yang suka muncul tiba-tiba, contoh konkrit adalah laga di kandang Newcastle United. Newcastle adalah tim yang sama saat dibantai rata dengan tanah di kandang mereka musim lalu 6-0. Tapi penyakit lama memang suka kambuh. Liverpool harus ketinggalan lebih dulu sebelum akhirnya bermain lebih baik untuk mengejar ketinggalan. Tentunya teori ini tidak berlaku saat mereka berhadapan dengan Southampton di Anfield.

Sejak invansi di lini belakang seperti Kolo Toure, Aly Cissokho, Tiago Ilori dan Mamadou Sakho, yang disebut oleh Ian Ayre - sang managing director - sebagai marquee signing musim ini, Rodgers mempunyai stok bek berlimpah. Saya sempat berpikir mungkin jika Premier League memperbolehkan tujuh pergantian pemain di setiap laga, mungkin Liverpool akan menurunkan delapan bek sekaligus menggantikan semua pemain bertipe menyerang. Puji syukur hal itu tidak terjadi.

Dengan teori mendasar bahwa tidak mungkin marquee signing tidak dimainkan, maka Rodgers memutuskan bermain dengan formasi 3-4-1-2 di laga-laga terakhir sejak Agustus. Terlihat kokoh walaupun setiap pemain sesungguhnya membutuhkan buku yang akan mudah disediakan di Gramedia terdekat 'defending from set-pieces for dummies' jika ada.

Gol dari seorang Geordie Paul Dummett akhir pekan lalu, lagi-lagi membuktikan mereka butuh buku itu untuk dijadikan pedoman setiap menghadapi set-piece lawan. Newcastle bermain sangat baik dengan menurunkan Hatem Ben Arfa sebagai false nine dalam formasi 4-3-3 yang diturunkan Alan Pardew, meninggalkan Loic Remy di sisi kiri yang diharapkan mampu mengeksploitasi kegemaran Glen Johnson merengsek maju ke kotak penalti lawan.

Tapi Remy tidak tampak sepanjang laga, Newcastle, yang bermain baik saat bertahan dan efektif saat menyerang, dipaksa bertahan sepanjang babak kedua karena game plan berjalan lancar. Kolo Toure mampu menutup posisi yang ditinggalkan Johnson untuk membuat Remy yang sedang berada di puncak performa tetap berada di kantongnya sepajang laga karena bermain di sisi kanan dalam formasi tiga bek. Hal ini memungkinkan Johnson bermain sebagai false winger yang terlihat bermain bahkan terkadang bermain lebih maju daripada Sturridge maupun Suarez yang harus bergantian meminta bola ke bawah karena Victor Moses tidak lebih baik dari Stewart Downing musim lalu di St James Park.

Ketinggalan gol seperti itu seperti menampar wajah pemain Liverpool bahwa mereka harus mengejar ketertinggalan melawan Newcastle yang menutup rapat pertahanan mereka karena bermain lebih sedikit satu pemain sepanjang babak kedua. Saya tidak berkata bahwa Liverpool dapat menyerang dengan baik di babak kedua saat lawan harus bermain dengan 10 pemain, atau harus tertinggal lebih dulu karena hal tersebut tidak baik untuk kesehatan jantung.

Tapi setidaknya hal positif bisa dipetik bahwa formasi tiga bek belum usang dan tidak jelek-jelek amat, kok. Asalkan lawannya bermain dengan 10 orang dan selalu melawan Newcastle yang juga gak bagus-bagus amat.

Karena sayangnya gak bisa, jadi siap-siap tiap pertandingan senam jantung, ya?

@MahendraSatya
Read more ...

19 September 2013

Siapa pengganti peran The Number 10 Role?

Ada kepanikan yang melanda saat Philippe Coutinho dipastikan harus menepi hingga akhir Oktober nanti, seperti dilansir oleh website resmi club. Betapa tidak sejak kedatangannya ke Anfield, kedua kakinya seperti selalu siap untuk memperlihatkan sihir.


Wajar sebenarnya, melihat apa yang terjadi setelah musim lalu saat Liverpool terpuruk, kedatangannya bagai seorang suci yang datang memberikan air minum di tengah padang gurun kepada para musafir yang berjalan jauh dan kehabisan persediaan air.

Gambaran yang diberikan di atas bukan tanpa alasan. Sebelum bermain pragmatis pada setiap babak kedua dalam lima laga Liverpool di awal musim ini, Brendan Rodgers mencoba mati-matian untuk membuat sistem umpan-umpan pendek yang bedasar pada penguasaan bola nyetel di skuat yang dihuni oleh pemain-pemain seperti Charlie Adam, Stewart Downing atau bahkan Steven Gerrard.

Hasilnya buruk. Terlebih melihat serangkaian lawan yang harus dihadapi oleh the Reds di awal musim lalu, saat tim semenjana yang berada di posisi delapan dua musim lalu mestinya di-derby-kan bersama tim-tim yang selevel seperti Southampton, Newcastle, Sunderland, West Brom, West Ham dll. Alih-alih seperti itu, Premier League membuat jadwal berurutan bertajuk Bigmatch yang saya masih bingung di mana sisi ke-Bigmatch-nya, apalagi super jeger.

Lalu datanglah Coutinho dan Daniel Sturridge - mereka adalah missing piece yang dicari oleh sistem baru di klub. Laiknya seorang menteri pendidikan baru yang mengubah kurikulum dan sebagian muridnya kebingungan dan kepayahan, Stu dan Cou adalah murid-murid bawaan sang manajer agar anak-anak sekolah Liverpool-nya tidak terlalu lama beradaptasi karena jika tidak mungkin mereka akan tinggal kelas.

Keduanya missing piece karena Sturridge menawarkan alternatif finisher di depan gawang lawan karena terlalu bergantungnya Liverpool pada Luis Suarez pada musim lalu, ia pun termasuk kategori pemain versatile yang dapat dimainkan di sisi manapun di lini depan, ditambah kemampuannya untuk membuka ruang serta dribble bola yang menurut saya masih lebih baik ketimbang Downing.

Sedangkan Coutinho datang di saat yang tepat. Dia adalah contoh seseorang yang datang di waktu yang tepat dan kebetulan dia adalah orang yang tepat. Walaupun masih muda, dia memiliki kemampuan sebagai seseorang yang lahir dari Brasil. Bukan sosok langka seperti Lucas.

Defence spitting-passes atau agar lebih gampang saya menyebutnya umpan terobosan pembelah pertahanan adalah satu hal yang paling penting dalam penyelesaian dari pengusaan bola di lini tengah. Liverpool kekurangan seseorang yang dapat melakukan hal ini bahkan mungkin sebelum kehadirannya tidak ada pemain yang mampu melakukan umpan ini.

Umpah lebih banyak dari kaki-ke-kaki yang akhirnya sampai di pemain sayap yang pasti kejadiannya akan melakukan crossing atau mencoba menembus masuk. Ini akan terbaca lama kelamaan dan untungnya Coutinho dapat melakukan hal ini dengan sempurna.

Saat ia melakukan aksi solo dan pemain lawan tertarik untuk menjaganya lebih dari seorang maka akan  ada satu pemain yang berdiri bebas di final third dan contoh paling nyata dari kejadian ini adalah laga lawan Newcastle di St. James Park.

Musim 2013-14 berjalan nyaris sempurna untuk Liverpool namun Coutinho sejujurnya belum kembali menjadi Coutinho di paruh kedua musim lalu. Kemungkinan dimainkannya dia di sisi kiri bisa menjadi alasan tapi sejujurnya apa yang dia lakukan sejauh ini masih kalah menonjol dari Iago Aspas.

Coutinho hingga empat laga sama sekali belum memberikan assist - kecuali dummy brilliannya saat gol Sturridge di Villa Park -, dibandingkan dengan Aspas yang sudah mengoleksi satu assist nyata. Total key pass dari pemain asal Brasil ini pun kalah dari Aspas. Sebagai perbandingan Aspas membuat 1.8 key passes per game di mana total dari empat laga adalah tujuh key passes; sedangkan Cou membuat enam key passes dengan rataan 1.5 per game. Yang menonjol adalah dribble pemain no.10 yang mencapai angka 8 kali melewati pemain lawan dengan rataan 2 dribble per game dibandingkan dengan aspas yang hanya 0.3 per game.

Tanpa dirinya di skuat seperti hidup tanpa didampingi olehnya yang tersayang, dan Coutinho sebagai magician sebenarnya tidak tergantikan di skuat Liverpool yang kekurangan flair ini.

Tapi Rodgers mau-tidak-mau harus melakukannya hingga akhir Oktober nanti. Berikut adalah calon-calon pengisi posisi The Number 10 Role:

1. Steven Gerrard

Gerrard menjalani ini pada musim 2007-08, 2008-09, 2009-10 dan sebagian kecil di musim selanjutnya saat Roy Hodgson dan Kenny Dalglish menjabat. Faktor umur, fisiknya yang sudah menurun drastis, cedera, serta kecakapannya menjalani deep playmaker role dengan total key passes tertinggi di Liverpool musim ini dengan total sembilan atau sama dengan 2.3 key passes per game - akan lebih bijak menempatkannya di posisi yang membuatnya lebih kalem dan mampu bermain sepanjang musim di posisi yang lebih dalam ini.

2. Jordan Henderson

Henderson mengalami kemajuan yang super pesat dari sejak sakit perut dan memaksakan bermain saat bertandang ke Loftus Road markas QPR musim lalu. Dia adalah pekerja keras, dia tidak berhenti berlari - ada kabar bahwa dia masih mengelilingi Anfield selama 24 jam setelah menang lawan Manchester United (bagi yang percaya kata-kata ini, Anda membuat saya speechless).

Dia bisa menjalani peran sebagai CAM tapi dia kekurangan setuhan magic. Dia dapat menjalani peran sebagai pengunci lawan yang mempunyai deep playmaker hebat dalam diri Michael Carrick tapi untuk menyerang saya tidak akan memilih dirinya di posisi ini.

3. Joe Allen

Allen is a decent player, tapi dia bisa lebih baik lagi jika dimainkan di posisi Lucas atau Gerrard. Bukan sebagai CAM. Saya tidak tahu bagaimana dia di Swansea fasih bermain di posisi ini atau tidak karena dia berubah menjadi mimpi buruk bermain di posisi ini.

Sebagai reference yang cukup revelan coba ingat-ingat saat dia bermain melawan United.

Potensinya mengalirkan bola sebagai deep playmaker akan terlihat lebih menonjol.

4. Luis Alberto

Dia mencetak hattrick lawan Sunderland U21 semalam, namun Premier League adalah sesuatu yang berbeda, walau tidak ada salahnya mencoba dia adalah salah satu calon terkuat di posisi ini.

5. Luis Suarez

Menempatkannya yang akan kembali pada laga di Piala Liga bisa saja terjadi. Tapi bayang-bayang menempatkan seorang penyerang di posisi ini membuat saya kembali ke laga Piala FA saat dihancurkan oleh Oldham.

Keengganannya untuk datang menyambut umpan lebih dalam dan lebih banyak berkutat di depan menjadikannya lebih sering out of position. Akan lebih baik jika dia bertukar posisi dengan Sturridge di depan, atau malah menjadi striker tengah dan membiarkan Sturridge untuk beristirahat.

Ada banyak pilihan lain, tapi dengan Rodgers tampak tidak akan banyak bereksperimen mengingat posisi Liverpool masih di puncak klasemen dan lawan yang dihadapi berikutnya masih satu level.

Sebetulnya jika Brendan Rodgers pintar dia akan memboyong Coutinho ke Indonesia dan langsung dibawa ke Cimande. Dijamin sembuh paling lama 2 minggu.

@MahendraSatya
Read more ...

4 September 2013

Manchester United, Puncak Klasemen, dan Inkonsistensi

Apa sih hal yang paling menyenangkan dari mendukung sebuah klub? Kalau menurut saya, sih, bisa kipas-kipas mendengarkan kawan saya menggerutu 1000 alasan bahwa Liverpool tidak pantas berada di puncak klasemen.


Memang benar apa yang didapatkan Liverpool hingga pekan ketiga Premier League ini akan sementara, tapi setidaknya ini seperti secara sekilas meninggalkan luka sejenak penyakit-penyakit tim Merah asal Merseyside ini.

Saya tidak mampu mengingat kapan terakhir kali Liverpool berada di pucuk klasemen, saya lupa akan rasa berada di puncak klasemen liga, tidak terpikirkan sama sekali dalam benak ataupun pikiran logika bahwa kita kini tidak perlu membalikan halaman koran atau meng-scroll down mouse untuk melihat di mana posisi Liverpool berada laiknya empat tahun belakangan terjadi.

Menganut azas bahwa berpendapat harus menggunakan teori yang relevan tanpa embel-embel kefanatikan terhadap klub ini, permasalahan mendasar masih menjadi momok terbesar. Despite in fact, i keep support this team no matter how bad they're playing week in and out - sulit mencari akal sehat bahwa mengambil alih pimpinan klasemen terjadi lewat cara terbaik yang tak terbayangkan.

Menurut Who Scored, laga lawan Manchester United kemarin menghasilkan dua nama dengan nilai tertinggi, yaitu double pivot yang berada tepat di depan empat bek, Lucas Leiva dan Steven Gerrard. Lucas berhasil menaikan level permainannya setelah galau dalam 90 menit di Villa Park. Tidak perlu menjelaskan bagaimana Gerrard bermain, pada dua menit awal laga saat ia meluncur melakukan tekel saya yakin dia sedang dalam kondisi terbaiknya atau mungkin dia mendapatkan motivasi dua kali lipat dari biasanya karena lawannya adalah rival berat yang kelewat sombong.

Memulai laga dengan segudang masalah, saya termasuk orang yang tidak terlalu optimis bahwa the Reds akan keluar sebagai pemenang dalam North-West Derby hari Minggu lalu. Ada pergolakan batin sesaat setelah partai melawan klub asal kota tokoh Robin Hood selesai dimainkan. Nama-nama seperti Daniel Sturridge yang menjadi pahlawan di dua laga awal dengan dua gol tunggalnya masing-masing melawan Stoke dan Villa, Gerrard yang sekarang berusia 33 tahun, Glen Johnson hingga Daniel Agger yang memang retan cedera.

Belum lagi masalah tambahan bahwa banyaknya pemain yang harus ditarik keluar karena cedera dan bermain lebih lama dari waktu normal. Joe Allen mengalami cedera hamstring yang tidak akan sembuh dalam waktu dekat, Aly Cissokho yang menjalani debutnya harus ditarik dimenit awal juga karena cedera, terakhir Kolo Toure yang membuat Christian Benteke sama sekali tidak berbahaya terlihat sangat kesakitan hingga harus ditandu keluar lapangan - semua cedera yang menghampiri seperti mengikis akal sehat saya untuk semakin tersisih sebelum berhadapan dengan United.

Kegagalan strategi dan rencana Brendan Rodgers untuk cepat-cepat 'membunuh' peluang Notts County untuk menang gagal total. Gagal mengganti Sturridge yang baru sembuh dari cedera dan memasukan Borini, dan gagal mengganti Gerrard. Tampak jelas seperti melihat gajah dipelupuk mata, jika Anda masih menggunakan akal sehat, peluang menang tidak begitu besar.

Dengan segudang masalah kebugaran, satu-satunya yang bisa diandalkan dari Liverpool untuk memenangi laga hanya tinggal mentalitas para pemain yang memang sudah tradisi saat melawan tim besar mereka akan lebih bersemangat. Melawan United yang tampak impresif saat menahan Chelsea di Old Trafford yang notabene punya skuat yang lebih mewah dari mereka ditambah Jose Mourinho-nya, saya hanya tinggal berharap.

Liverpool menang, walaupun kembali dengan skor tipis dengan segala macam senam jantung yang membuat saya sulit untuk berdiri. Tidak apa-apa tidak bermain cantik yang terpenting adalah kemenangan, karena pada akhirnya secantik-cantiknya sebuah tim yang kalah tetap saja yang dihitung itu yang menang. Tidak apa-apa tidak bermain cantik, kalau akhirnya bisa sambil mengayun-ngayunkan kaki melihat Liverpool berada di puncak.

Setelah jeda internasional ini, dalam lima pertandingan ke depan tim Merseyside tidak akan ketemu lawan yang di atas kertas lebih baik dari diri mereka sendiri. Tapi justru saat inilah yang paling menguji soal mentalitas dan masalah yang seperti mendarah daging selama ini. Inkosistensi.

Jika Liverpool menang melawan Man United, bermain bagus melawan Arsenal dan Manchester City, bersorak-sorai saat menjungkalkan Chelsea, maka kita tidak jarang justru dikecewakan saat melawan tim medioker yang bermain stagnan di lapangan. Melawan tim-tim seperti Southampton, Swansea dan Cardiff yang baru promosi, the Reds justru mempunyai kecenderungan untuk bermain di bawah form. Pentingnya delapan anak baru yang dibawa oleh Bren... Eh, Ian Ayre untuk membangun sebuah mentalitas baru di kubu Liverpool. Mentalitas yang dibawa oleh sekumpulan pemain yang belum merasa diri mereka menang sebelum turun ke lapangan. Jika bisa tetap tampil konsisten dan bersikap di atas lapangan layaknya pemain yang mengenakan seragam merah-merah Liverpool Football Club, rasanya tidak mengapa harus senam jantung tiap laga.

Bla... Bla... Bla...

Apapun yang terjadi di hari esok biarlah menjadi misteri karena memang di situ seni dari olahraga yang susah ditebak ini. Tapi mengutip kata-kata Lucas bahwa suporter lebih baik merayakan kesempatan berada di puncak klasemen selama dua minggu, akan lebih baik daripada merasa insecure atas sesuatu yang belum terjadi.

Berada di puncak klasemen ternyata cukup menyenangkan pemandangannya, tapi di sini dingin dan saya lupa membawa jaket karena tidak menyangka sama sekali kejadian langka ini akan terjadi dewasa ini.

Therefore, for those who didn't bring the sweater along as well, fancy to accompany me here with a little hug. Anyone?

@MahendraSatya
Read more ...

19 August 2013

Are We Good Enough?

Jadi, menurut apa yang saya baca dan simpulkan sejak pra musim dimulai hingga detik ini saya menulis, Liverpool telah melalui tujuh pertandingan dan hanya kalah satu kali melawan Celtic di Dublin, Liverpool mempunyai target yang musim lalu gagal dilakukan. Masuk ke zona Liga Champions.



Melupakan kepentingan bisnis, komersial dan revenue yang bisa dikeruk oleh para petinggi klub jika nanti Liverpool benar-benar masuk empat besar di akhir musim, menurut saya lebih baik membahas mampu atau tidaknya tim masuk ke zona tersebut.

Sudah berapa lama Anda menunggu bangun di tengah minggu hanya untuk begadang selama 90 menit lebih menonton Liverpool bertanding? Tidak terasa cukup lama, ya? Sudah beranjang empat tahun sejak kita disingkirkan oleh Fiorentina di penyisihan grup.

Well, jika Anda bertanya pada saya ketika beberapa tahun kebelakang mengenai seberapa pantas kah Liverpool masuk ke zona yang liganya di penuhi oleh bonus uang itu maka dengan pasti saya akan menjawab dengan keoptimisan tinggi: Pasti.

Tapi keinginan untuk lebih realistis semakin menjadi-jadi seiring seringnya optimis dan akhirnya berakhir dengan kesalahan.

Saya sama kurang beruntung dengan beberapa orang yang memilih pergi bersama pacarnya dan tidak menyaksikan laga pembuka Liverpool, malam minggu lalu, dan akhirnya menyesal. Tapi alasan saya bukan itu.

Terpujilah teknologi jaman sekarang yang memungkinkan saya seperti memutar kembali - setidaknya - momen-momen penting yang terjadi dalam pertandingan tersebut. Benar bahwa saya kehilangan banyak menit per menit laga namun tampaknya tidak sulit untuk mengatakan bahwa Simon Mignolet membuat saya semakin yakin bahwa lebih baik Pepe Reina melewati Merseyside saat kembali dari Naples dan langsung saja menuju Barcelona.

Kemenangan pertama di laga pertama sejak 2008, kemenangan lawan Stoke sejak zaman mereka memperkenalkan game play old school a la rugby-fooball ke Premier League yang nyaris punah.

Beberapa manajer dan orang percaya bahwa pertandingan pertama serta start awal musim adalah kunci untuk sebuah tim untuk finish di akhir musim. Saya pikir mereka berada di angan-angan seperti Liverpool yang meng-tweet klasemen sementara saat tim berada di puncak dan sisa tim lain sama sekali belum bertanding.

Akan banyak batu terjal yang menuntuk Liverpool untuk terus maju, mempertahankan mental dan memaksakan diri untuk tidak menjadi Liverpool yang beberapa tahun terakhir terkenal atas ketidak konsistenan.

Jika memperhatikan form dalam beberapa tahun terakhir, maka tidak lama setelah kemenangan ini, kita baru akan kembali menang dalam dua pertandingan lagi, maka, hingga pekan ke empat nanti laga kedua (vs Aston Villa) dan ketiga (vs Manchester United) akan berakhir dengan hasil jika bukan seri maka kalah.

Saingan terdekat Liverpool untuk berada di empat besar adalah sebuah tim mapan yang hidup untuk berkeliaran saja di top four - Arsenal. Dan sebuah klub super ambisius yang tidak membutuhkan scout untuk memantau pemain incaran, Tottenham. Dan jika saya boleh jujur maka hanya ada satu spot yaitu posisi empat di klasemen yang akan diperebutkan oleh Arsenal, Spurs, (iya saya sedang baik) Liverpool, (mungkin) Everton dan sebuah tim kejutan seperti Newcastle dua musim lalu.

Mari jangan membandingkan Liverpool dengan Chelsea atau Manchester City dan United. Chelsea dan City berkembang dengan luar biasa menjelma menjadi kekuatan baru karena kekuatan uang dan hanya menggunakan logika tanpa kenyataan yang terjadi di posisi liga musim lalu, kita bukanlah tandingan mereka. Kecuali, tiba-tiba jarum jam bergulir ke arah kiri. United bukanlah sebuah tim yang penuh dengan bintang, namun mereka adalah sekumpulan orang yang harus Anda akui mempunyai mental untuk menang - sesuatu yang tidak kita miliki dalam lima tahun terakhir.

Gagalnya Spurs ke Liga Champions akhir musim lalu sepertinya membuat Daniel Levy benar-benar mengamuk. Even, jika Anda berada di posisi netral maka akan dengan mudah menyebutkan bahwa mereka adalah salah satu kandidat terkuat untuk merebut tiket ke sana bulan Mei lalu.

Dan saya tidak terpikir sedikitpun bahwa, Iago Aspas yang membutuhkan empat peluang sebelum bisa mencetak gol, atau bintang Barcelona B Luis Alberto bisa bersinar seperti Xabi Alonso dan Luis Garcia pada musim pertamanya. Anda pasti dengan mudah menyangkal teori ini, tapi hal pasti dalam kategori materi milik Tottenham sudah membuat kita tercoret dari persaingan secara matematis.

Arsenal adalah tim yang malang, tidak perlu saya jelaskan. Tapi saya sedang membayangkan jika Arsenal, Liverpool, Tottenham, dan lainnya bermain Poker di satu meja judi. Yang saya bayangkan adalah mereka adalah bluffer besar, pembual yang seenak jidatnya menaruh taruhan dengan angka yang besar padahal hanya memegang sebuah Pair lima wajik. Dan anehnya mereka selalu berhasil untuk meraih tiket ke sana.

Brendan Rodgers pasti adalah seorang playboy di SMAnya dulu, jika Anda memperhatikan setiap interviewnya, maka Anda bisa menarik benang merah bahwa ia jago sekali menggombal. Caranya membuat hati terenyuh bahwa ia tidak memperdulikan kurangannya materi yang dimilikinya dengan menutupnya dengan kerja keras, sejauh ini, well, cukup terlihat. Apalagi dengan (yang selalu disebut-sebut) performa akhir musim lalu.

Tapi jika Liverpool mempunyai kecenderungan untuk tidak konsisten kenapa harus berharap banyak? Jika Liverpool mampu memutar balikan permainan dari yang super medioker di paruh pertama musim menjadi tidak medioker-medioker amat di paruh kedua, saya tidak berharap banyak Liverpool bisa hebat sepanjang 37 pertandingan sisa.

Pada akhirnya, perbaikan akan terlihat tapi belum saatnya untuk kembali ke zona Liga Champions. Jika saya mengatakan bahwa posisi empat terlalu jauh dari jangkauan, maka posisi lima adalah yang terbaik bisa kita harapkan.

Beberapa hal memang sangat ditunggu, tapi sesuatu yang benar-benar ditunggu lebih sering berakhir dengan kekecewaan karena tidak datang. Mungkin juga analogi ini bisa berlaku untuk begadang di dini hari Rabu dan Kamis.

Everything is worth a try, but are we good enough?

@MahendraSatya
Read more ...

2 June 2013

Mediokeritas, Salah Siapa?

Agak sedikit lucu jika ada seseorang yang menggangap dirinya lebih mengerti keadaan orang lain ketimbang orang yang sedang berada dalam situasi itu sendiri.



Ketika Anda beranjak dewasa, sebutlah masa SMA, setidak-tidak pedulinya Anda dengan dunia luar dalam rangka mengejar nilai rapor berangka sembilan di seluruh mata pelajaran, Anda pasti mempunyai teman yang dekat. Ambil kata Anda sedang ada dalam situasi tertentu, ia adalah yang pertama tahu. Jika Anda dalam sebuah masalah, maka ia secara otomatis, walaupun mungkin bukan yang pertama, akan tahu.

Beberapa dari kita menganggap orang ini sebagai "tempat pelampiasan" jika terlalu banyak pikiran di otak, seseorang yang mau mendengarkan. Tapi tidak jarang orang-orang ini bukan orang yang bisa mendengarkan tapi seorang yang sotoy luar biasa. Mencoba pura-pura mengerti dan memberikan solusi yang sangat tidak masuk diakal tanpa diminta. Orang semacam ini sebetulnya tidak tahu apa-apa walaupun mereka terkesan tahu. Bahkan, ada beberapa yang mengklaim bahwa ia mengetahui segala sesuatu tentang Anda. Iya, saya juga kesal kok.

"Tidak ada yang mengenal diri Anda lebih baik dari Anda sendiri," petikan kalimat dari seorang filosof yang saya gagal ingat namanya. Orang-orang sok tahu tadi mestinya harus segera menghentikan kebiasaan mereka untuk berkata, 'loe tuh ketebak banget, gue ngerti banget elo kaya' gimana.'

Entah kenapa hal yang disampaikan di atas adalah pendahuluan yang cukup relevan kepada kasus mediokeritas Liverpool. Tidak secara langsung memang tapi saya mencoba menarik garis lurus jika Anda sudah terlalu kusut untuk mencari kebenaran.

Beberapa waktu lalu IndoLiverpoolFC memberikan pandangannya mengenai kasus mediokeritas yang dialami Liverpool tahun belakangan. Ini kasus penting karena saya mencintai klub ini seperti juga Anda, bukan Anda yang mendukung klub ini karena membenci Manchester United.

Saya beruntung bisa bercerita kepada calon anak-anak saya nanti bagaimana keajaiban Istanbul, Cardiff, dan final-final dramatis lainnya karena saya adalah saksi mata. Tentu apa yang dikatakan bahwa Liverpool adalah tim medioker menyakitkan seperti memberi jeruk nipis di atas luka lecet lalu berjoget-joget saat melihat kita meringis. Tapi saya setuju dengan hal tersebut.

Liverpool terjebak dalam mediokeritas yang terbentuk dari ketidakmampuan, mismanagemen, ketidakstabilan dan yang paling parah kenyamanan. Tapi mari mengecilkan faktor-faktor yang disebutkan itu menjadi hal yang lebih sederhana dan relevan. Masalah mentalitas dan inkonsistensi seperti yang dibahas beberapa waktu lalu.

Mentalitas bukanlah skill individu dari kaki pemain. Mentalitas bukanlah bagaimana sang pemain mampu membuat lawannya jatuh sambil menangis minta diampuni karena telah dilewati dengan cara yang hina. Mentalitas adalah kemampuan untuk terus menerus bermain dengan performa yang stabil. Bahkan, mungkin, jika tidak berperforma bagus pun tim masih bisa meraih kemenangan. Mentalitas itu bisa dibentuk, dan hal itu lebih mahal dari sekedar uang.

Ada beberapa pendapat yang kebetulan muncul, bahwa pendapat ini sangat salah. Apalagi jika orang tersebut telah beradu pendapat atau meminta petuah dari sang guru besar yang notabene adalah suporter tim rival.

Dengan sangat yakin orang ini datang dengan bangga bahwa menurut rekannya yang suporter Man United beranggapan bahwa Liverpool sudah melakukan pembelian dan mempunyai skuat yang sangat baik musim ini. Pendapat bahwa skuat Liverpool ini punya mentalitas yang tidak sesuai dengan nama besar Liverpool adalah salah total. Liverpool itu bagus apalagi materi pemainnya.

Well, saya tidak akan menyalahkan pendapat tersebut karena semua orang bebas berpendapat. Apalagi jika pendapat itu semakin bisa saya mengerti. Suporter Man Utd akan tetap beragumen seperti itu, mungkin, karena ia senang melihat kebawah papan klasemen. Pantas kan jika Liverpool tetap berada di papan tengah klasemen dengan pemain-pemain kelas dunia.

Martin Skrtel, ia terlihat bagus musim lalu, dan ia adalah pemain terbaik musim lalu kenapa pemain botak pemakan paku ini berubah begitu drastis musim ini? Di lapak saya yang lain, saya pernah bilang bahwa ia terjebak dalam zona nyaman. Tapi saya menarik argumen itu dengan mengatakan, ia tampak bermain bagus karena rekan setimnya yang lain tidak lebih bagus dari dirinya musim lalu.

Joe Allen, ia dibawa dengan susah payah dari Swansea atas permintaan Brendan Rodgers. Teman saya yang suporter Man Utd berkata bahwa Allen adalah pemain yang bagus berpotensi. Mungkin sekarang ia sedang menertawakan dirinya sendiri melihat Allen yang bermain tanpa rasa percaya diri. Dengan melupakan catatan statistik, kontribusinya lebih bagus saat ia cedera dan tidak bermain.

Ada perbedaan mencolok saat Xabi Alonso dan Fernando Torres yang datang dari Spanyol. Mereka tidak berada dalam tim yang penuh hingar-bingar seperti Barcelona dan Real Madrid disana. Kedua pemain ini potensial, dan mereka berada dalam asuhan dan tangan yang tepat. Dalam hal ini bukan hanya pelatih, tapi tim secara keseluruhan. Para pemain ini datang sebagai penambah amunisi, saat itu di Liverpool mentalitasnya adalah mentalitas pemenang. Bukan mentalitas yang penting tidak kalah sekarang ini.

Hal tersebut patut dicamkan dan harus diperbaiki karena saya, emotionally, tidak rela Liverpool harus berjuang mendapatkan Carling Cup setiap tahunnya seperti Swansea atau Wigan, klub ini jauh lebih ambisius daripada itu. Liverpool yang saya kenal berjuang hingga peluit panjang dibunyikan untuk menang. Seperti laga-laga yang dulu saya saksikan.

Brendan Rodgers mudah-mudahan benar dengan kata-katanya yang mencari konsistensi. Dan pemain dengan konsistensi tidak ada dalam timnya yang terdahulu. Saya lagi-lagi setuju bahwa ia mencari seorang pemenang, dan saya doakan ia berhasil membawa mereka yang punya mentalitas seperti itu untuk datang.

Satu orang dengan mentalitas berbeda sudah memutuskan pensiun, Kolo Toure tidak akan mengambil posisi Carragher sebagai salah satu legenda yang saya lihat sejak debut pertama kali hingga ia pensiun musim ini. Tapi langkahnya untuk menggantikan sosok pemimpin dengan pemimpin sangat penting di kamar ganti sudah sangat tepat secara teori.

Anda punya cara sendiri dalam mendukung Liverpool, begitu juga saya. Saya tidak meminta untuk menjadi pelatih di Liverpool karena saya tidak berkompetensi untuk hal tersebut. Dan menjadi kritikus juga bukan hal yang jelek-jelek amat tapi yang menjadi persoalan adalah saat ada orang lain yang sok mengetahui persoalan rumah tangga klub ini seakan-akan mereka lebih mengetahui dari suporter tim itu sendiri. Setidak tahunya saya apa yang terjadi dalam tim, setidaknya saya mengikuti setiap laga tim ini bertanding dan bisa menilai apa yang terjadi di lapangan secara kasat mata.

Melihat ke depan cermin akan lebih bijaksana untuk berkaca kenapa tim ini bisa menjadi tim papan tengah yang nanggung saat meraih posisi 4 tidak bisa, tapi terlalu bagus untuk menjadi tim yang berada di papan tengah.

Liverpool Football Club lebih hebat dari cuma sekedar posisi 7. Come on, wake up!

@MahendraSatya
Sumber gambar: Google.com
Read more ...

2 May 2013

Mantan Dan Artinya

Sesungguhnya dalam 7 hari selain menyaksikan sepakbola secara rutin diakhir minggu, tidak ada hal lain yang lebih bisa dijadikan pengisi waktu sebaik begadang menyaksikan European Champions League.



Ada yang hilang dari kompetisi ini sejak 3 beranjak 4 tahun belakangan. Bukan alien-alien yang berkumpul dalam satu tim dan bukan juga tukang sulap seperti Zinedine Zidane yang paling dirindukan. 

Khusus bagi supporternya, adalah pertandingan yang menuntut mata terjaga atau jam weker untuk dinyalakan lebih cepat. Sebuah tim berseragam serba merah masuk kelapangan diiringi lagu tema khas Champions League yang megah. Liverpool klub tradisional tersukses di tanah Inggris Raya pemilik badge of honor dan satu-satunya klub di tanah bangsawan yang mampu membanggakan trofi asli liga para juara ini dalam tur stadion dan museum.

Semalaman saya terjaga disela-sela padatnya jadwal mencari nafkah rutin yang membosankan, sambil berfikir bagaimana mengisi waktu luang yang tidak bisa diisi oleh tidur dan mencoba memutar kembali waktu ke masa lampau. Seperti anda yang sulit move on dari mantan pasangan anda, saya mencoba memutar kembali kenangan manis saat menemani Liverpool berjuang mengalahkan lawan-lawan mereka di European night.

Jika diurut akan terlalu banyak, maka dari itu pemain-pemain berikut adalah pilihan saya yang saya rangkum dari sejak Istanbul 2005. Dan tentunya ini diambil dari sudut pandang laki-laki.

Anda bisa menambahkan sendiri pilihan anda dalam kolom komentar dibawah.

Luis Garcia

Ia menarik hati anda hingga benih-benih cinta muncul dalam hati, ia sebagai mantan anda juga merasakan hal yang sama. Telah diperkenalkan kepada keluarganya dan anda. Kedua belah pihak orang tua telah merestui dan mensetujui hubungan kalian, sayangnya harus putus karena Garcia harus mengikuti pekerjaan orang tua sebagai Diplomat keluar negeri. Hubungan anda dan ia pun harus berakhir.

Jerzy Dudek

Seorang mantan yang punya selera fashion yang sedikit berbeda, ia tomboi. Hubungan dan romantisme sebetulnya berjalan dengan mulus. Sayang karena perbedaan umur yang jomplang, dan beberapa pihak mulai mempergunjingkan hubungan anda dengan pasangan yang lebih tua. Karena tidak tahan omongan negatif orang maka hubungan ini pun tidak bisa dilanjutkan.

Didi Hammann

Mantan yang punya pergaulan super gaul, punya kebiasaan merokok dan doyan nge-bir. Hubungan kandas karena selain selang umur, ia mulai jenuh untuk membina masa depan.

Dirk Kuyt

Bukan salah satu mantan yang paling cantik secara fisik tapi paling mengerti keadaan kita, selalu mengajarkan kerendahan hati dan selalu ada disetiap kita membutuhkan perhatian. Sosok yang nyaris sempurna untuk diajak lebih serius dalam berhubungan. Sayang hubungan harus kandas karena kesibukan masing-masing, untuk balikan lagi berat karena ia sudah mempunyai pasangan baru yang bisa lebih mengerti keadaannya. Sangat-sangat bisa dimengerti walaupun dengan berat hati.

Xabi Alonso

Mantan yang tak terlupakan. Seorang rupawan yang mempunyai senyum yang meluluhkan hati, cerdas dan mau menerima kita apa adanya. Ia pernah menolak pria idaman semua wanita yang terus-menerus mengejarnya. Sempat bertemu ramah dengan masing-masing keluarga, Ayah dan Ibunya secara terang-terangan mensetujui hubungan ini untuk lebih diseriusi. Tapi setelah menahun menjalani hubungan, salah satu dari pihak orang tua kita ternyata tidak terlalu rela jika hubungan dilanjutkan. Ibu dari pihak kita berbicara heart to heart dengannya, ia mengerti ketidak setujuan Ibunda kita bahwa lebih baik hubungan tidak dilanjutkan walau dengan berat hati. Perpisahan menyebabkan baik ia dan kita menitikkan air mata. Apa mau dikata, kita tidak bisa serta merta kawin lari. Ia masih memendam cinta untuk kita, tapi kini telah berada dalam dekapan dan hidup berkecukupan bersama kekasih barunya yang pernah ia tolak cintanya beberapa saat lalu.

Perasaan minder melanda, ia tidak mungkin bisa kembali, walaupun ia bisa dan mau. Siapa kita yang menginginkannya kembali? Ia hidup berkecukupan dengan pergaulan barunya. Yang penting ia bahagia sekarang.

Fernando Torres

Anda tentu pernah mengalami cinta pertama. Tidak terlupakan, walaupun sudah dikubur dalam-dalam. Yang tercantik diantara yang paling cantik, yang paling mengerti dari sekian banyak orang. Mengenal kita hingga kesela-sela terdalam dan diisi dengan berbagai macam kenangan indah. Jatuh cinta pertama kali berbeda saat anda mampu memiliki orang yang anda dambakan selama ini.

Setelah melewati masa indah bersama-sama dan selalu terlihat romantis dan melindungi satu sama lain di depan kawan-kawan anda. Secara mendadak ia berselingkuh dengan sahabat dekat anda sendiri.

Tidak perlu dilukiskan betapa sakitnya diperlakukan seperti itu. Jika anda mempunyai beberapa teman-teman dekat yang anda curhati tentangnya, dan keluar sumpah serapah beserta bayangan-bayangan sekilas maka ia lah orangnya.

Sebagai penutup, setiap orang mempunyai kenangan sendiri-sendiri dengan Liverpool, pemain-pemainnya maupun Champions League. Layaknya mendoakan mantan pasangan agar mendapatkan yang lebih baik, mari berdoa, 2 musim lagi kita bersama-sama kembali begadang di Rabu dan Kamis dini hari, diiringi lagu tema Champions League yang dilanjutkan oleh You'll Never Walk Alone di Anfield Stadium.

Seseru-serunya Champions League, rasanya hambar tanpa Liverpool Football Club.

@MahendraSatya
Read more ...