18 September 2014

Balotelli, Anak Bandel yang Butuh Perhatian


Fabio Borini diminta untuk bersiap di tepi lapangan oleh Brendan Rodgers, sang pelatih yang hampir saja membawa Liverpool juara Liga Inggris musim lalu itu sepertinya mulai gerah dengan kebuntuan yang dialami timnya dalam laga debut Liga Champions musim ini. Saat itu saya mengira mungkin Borini masuk untuk menggantikan Mario Balotelli. Dalam dua laga Premier League yang dimainkan Balotelli sebelumnya, si anak baru dari Italia ini selalu tampil sebagai starter, namun di dua laga itu juga Balotelli tidak bermain penuh 90 menit. Mengingat catatan tersebut, ternyata dugaan saya salah, 'Super Mario' tidak ditarik keluar.

Bermain di hadapan pendukung timnya sendiri, ini merupakan kesempatan terbesar bagi Balotelli untuk membungkam keraguan dari para fans terhadap dirinya. Mungkin anda salah satu fans Liverpool yang geregetan melihat performa Balotelli di lapangan, stereotip penyerang malas sudah begitu melekat di dirinya. Perasaan tersebut sangat wajar, saya sebagai fans Azzurri juga sangat kesal melihat performa Balotelli bersama Italia yang kerap kali lebih banyak berjalan kaki sembari sekali-kali melontarkan kekesalan terhadap wasit secara berlebihan. Namun Brendan Rodgers tentu memiliki pandangan lain, yang mana memang dirinya memiliki angle pengamatan yang jauh lebih baik daripada kita yang hanya menyaksikan Balotelli melalui layar kaca, atau jika lebih beruntung seperti para fans Liverpool yang duduk di tribun Anfield bagian belakang gawang Borjan kiper FC Ludogorets.

Awal kembalinya Balotelli ke Premier League musim ini pun banyak menghiasi headline berbagai media, namun bukan gol-golnya yang menghiasi media, berbagai tingkah nyelenehnya saat latihan bersama Liverpool-lah yang memenuhi media. 'Berulah' seperti sudah menjadi ciri khas dirinya, Balotelli seolah-olah memiliki magnet yang dapat selalu mengundang perhatian. Belum lagi ia pernah membakar rumahnya karena bermain kembang api di kamar mandi saat ia masih berseragam biru muda.

Tapi rasanya tidak adil jika mengatakan Balotelli hanya menjadi perhatian melalui ulahnya di luar lapangan, Balotelli juga bisa mengundang perhatian melalui aksinya di lapangan. Sebuah tendangan mendatar ke pojok gawang Manchester United adalah salah satu aksi Balotelli yang paling menyita perhatian dunia saat dirinya membela Manchester City, bukan golnya yang ramai dibahas, tetapi tulisan 'Why Always Me?' yang ia pamerkan saat melakukan selebrasi. Berkat aksi tersebut, apparel asal Inggris Umbro yang saat itu menjadi sponsor City ketiban rezeki besar, Umbro memproduksi lebih banyak kaos bertulisan 'Why Always Me?' karena kebanjiran pesanan.


Perlu diakui, Balotelli juga ada di sana, di jajaran penyerang tengah terkuat dunia saat ini. Postur tinggi besarnya merupakan keunggulan yang disukai Rodgers. Dua bek Ludogorets mencoba menganggu dan merebut mainan si bengal, namun si anak bandel ini pun tidak mau menyerahkan mainannya. "Ia setinggi enam kaki tiga inchi dan unggul di udara. Saat crossing itu datang, ia menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa, sebuah sentuhan, lalu menyelesaikannya dengan brilian. Ia menggunakan teknik hebat menggunakan kaki bagian luar. Gol itu akan memberinya kepercayaan diri yang besar," ujar Brendan Rodgers.

Mungkin anda familiar dengan pernyataan Balotelli yang tidak begitu suka merayakan golnya dengan mengatakan "Mencetak gol adalah pekerjaanku, apakah tukang pos melakukan perayaan ketika mengantarkan suratnya?," jika memang demikian, maka tadi malam Balotelli sedang menjadi tukang pos yang berhasil mengantarkan surat setelah berjam-jam kesasar dan akhirnya menemukan alamat yang dituju. Balotelli begitu meledak-ledak merayakan gol yang ia sarangkan ke gawang Ludogorets, fans Liverpool di Anfield pun sontak melompat kegirangan.

Sebagai sedikit perbandingan dengan gol yang ia cetak ke gawang Ludogorets, mungkin anda perlu mengetik di kolom pencarian Youtube "Balotelli goal vs Mexico", silahkan anda lihat, kurang lebih Balotelli mencetak gol dengan gaya yang mirip yaitu mengontrol, menjaga keseimbangan tubuhnya yang besar, sebelum mengeksekusinya ke gawang Ochoa di ajang Piala Konfederasi 2013. Hal ini jugalah yang membuat saya berpikir jika Balotelli adalah salah satu penyerang tengah terkuat (bukan terbaik) di dunia.

Dengan demikian rumitnya tingkah laku pemuda Italia ini mengapa Rodgers mau merekrut pemain bengal ini dengan mahar 16 juta euro? Sekali lagi saya ingin mengatakan ada detil metode Rodgers dalam menangani pemain yang kita tidak tahu persis. Apakah anda ingat musim lalu Raheem Sterling tidak begitu menyita perhatian di paruh pertama kompetisi Premier League? Bahkan pemain yang dianggap sebagai pemain langka di Inggris ini sempat mendapat kritik keras dari pelatihnya di bulan September 2013, Rodgers mengatakan bahwa Sterling perlu membuat hidupnya lebih stabil terkait penyerangan yang ia lakukan yang membuatnya sempat berurusan dengan pengadilan.

Respon dari Sterling atas kritikan tersebut sangat mengesankan, Sterling menunjukkan pengingkatan signifikan baik dari segi fisik maupun permainan. Jalur karir Sterling semakin lurus. Pemuda 19 tahun juga mengungkapkan bahwa kepercayaan dirinya semakin meningkat. Ada cara pendekatan Rodgers yang baik di sini, detilnya saya tidak tahu persis. Merekrut Balotelli juga sudah pasti ia pertimbangkan resikonya, dan tentu ia memiliki keyakinan bahwa dirinya dapat menangani si bengal dari Italia ini dengan baik.

Lagi pula anak bengal biasanya hanya perlu sedikit perhatian lebih dari ayahnya, dari efek positif yang ditunjukkan Sterling, rasanya Rodgers juga bisa menjadi 'ayah' yang baik bagi Balotelli. Rodgers jelas memiliki keyakinan terhadap Balotelli.

Ditulis oleh: @zicostian
Read more ...

16 August 2014

A Brief History of Lazar Markovic


Benfica V Gil Vicente
Primeira Liga / Liga Zon Sagres, Estadio da Luz, Lisbon, 25 August 2013
Sosok anak muda yang gondrong namun tidak terlihat sangar karena postur tubuhnya yang kecil dan kurus ini tidak sedikitpun terlihat gentar saat dimasukkan menggantikan Eduardo Salvio, winger andalan Benfica pada menit 61. Sepuluh menit kemudian, Maxi Pereira, bek kanan Uruguay dan Benfica melakukan blunder, mungkin akibat kelelahan ataupun kehilangan fokus, dengan kesalahan mengontrol bola yang dimanfaatkan dengan baik oleh Diogo Viana yang berlari dari belakang untuk menyambar bola, seolah telah mengincar kesempatan ini, lalu menceploskan bola ke gawang dengan kaki kirinya. Sepertinya ini akan menjadi debut yang buruk bagi seorang anak muda yang baru masuk tersebut. 19 tahun, pertama kalinya pergi merantau meninggalkan zona amannya menuju negara baru dengan kultur, budaya dan gaya hidup yang berbeda. Menjalani debut dari bangku cadangan mungkin adalah pilihan yang dirasa cukup aman bagi pelatih Benfica, Jorge Jesus, untuk meringankan tekanan di bahu anak muda ini, walaupun sebenarnya anak muda ini sudah tidak asing dengan peran yang biasa dilakoninya dari bangku cadangan.

***

Tiga tahun yang lalu, Benfica sebagai salah satu klub dengan permainan menyerang yang paling menarik se-Eropa baru saja menjual pemain kuncinya Angel di Maria ke Real Madrid senilai 40 juta Euro dan menggantinya dengan winger lainnya asal Argentina juga, Nicola Gaitan. Pembelian tersebut kurang berjalan mulus, sehingga winger lain pun kembali didatangkan dengan status pinjaman di paruh musim bernama Eduardo Salvio dari Atletico Madrid. Walaupun permainan Benfica membaik terutama terbantu akan meningkatnya performa kedua pemain sayap tersebut, namun gelar juara liga masih menghindari mereka pada musim tersebut dan musim depannya. Dua kali Runner-Up jelas membuat frustasi para fans. Peran seorang Angel di Maria di sayap kiri dianggap masih belum bisa digantikan sehingga mendesak manajemen Benfica untuk terus mencari pemain sayap yang berbakat untuk mengisi peran tersebut.

Setahun berlalu. Sementara Benfica masih menaruh harapan kepada Nicola Gaitan dan mempermanenkan Eduardo Salvio yang dianggap telah matang karena sukses menjalani musim pertamanya di Lisbon, Partizan Belgrade, klub tersukses sepanjang masa di Serbia, mempromosikan remaja yang masih berusia 17 tahun bernama Lazar Markovic untuk bergabung bersama tim utama dan bahkan memberikannya tempat di bangku cadangan di laga tandang melawan Sloboda Uzice. Pada tanggal 29 Mei 2011, dengan keunggulan 2-0 untuk Partizan Belgrade, pelatih Partizan saat itu, Aleksandar Stanojević memberikan instruksi kepada anak muda tersebut untuk masuk menggantikan Joseph Kizito pada menit ke-72. Walaupun Sloboda Uzice berhasil mencetak gol penghibur di akhir pertandingan (pertandingan berakhir 1-2 untuk kemenangan Partizan Belgrade) namun permainan anak muda bernomor punggung 50 tersebut mengundang kekaguman dari supporter dan rekan se-timnya. Tidak lama setelah Partizan Belgrade memenangkan Superliga Serbia, Markovic pun menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan durasi 5 tahun sekaligus memberi semangat baru untuk menghadapi musim berikutnya. Musim pertamanya sebagai pemain Partizan juga berbuah manis, mencetak gol pertamanya bersama Partizan Belgrade, mempertahankan juara Superliga Serbia, sekaligus meraih Partizan's Player of the Year serta iklusi dalam 2011–12 SuperLiga Team of the Year selection. Pada musim berikutnya, dia melangkah lebih jauh lagi, mempertahankan inklusinya di tim terbaik liga (SuperLiga Team of the Year selection dua kali berturut-turut) sekaligus kembali mempertahankan gelar juara liga. Panggilan timnas Serbia juga tinggal menunggu waktu dan tidak tanggung-tanggung mencetak gol pada pertandingan keduanya saat laga persahabatan melawan Chile, diperkuat oleh Alexis Sanchez di Estadio Nacional de Chile yang berakhir 3-1 untuk kemenangan Serbia. Dan itu semua diraih pada usia 18 tahun.

Scout-scout dari klub Eropa terus berdatangan. Tentu saja hal ini sesuai dengan keinginan Partizan yang memang memiliki policy membentuk pemain-pemain muda kemudian menjualnya untuk profit klub. Sebagai salah satu remaja lulusan terbaik dari Partizan Youth Academy (Berdasarkan statistik UEFA pada tahun 2012, Partizan Youth Academy menempati posisi kedua dalam memproduksi pemain yang bermain di 31 liga-liga ternama di Eropa, di bawah Ajax Amsterdam, di atas La Masia Barcelona dan Sporting Lisbon Youth Academy) bersama dengan nama-nama lainnya seperti Adam Ljajic, Mateja Nastatic, dan Stevan Jovetic, tentunya menjadi incaran klub-klub Eropa. Penawaran dari Spartak Moskow yang baru saja kehujanan uang dari pemilik baru mereka saat itu ditolak mentah-mentah. Chelsea diyakini menjadi klub terdepan yang berhasil mengamankan tanda tangannya, diperkuat dengan keyakinan bahwa Lazza adalah penggemar Chelsea dan Gianfranco Zola, yang tidak mengherankan karena masa kecilnya yang diisi dengan masa-masa emas Gianfranco Zola di Chelsea (2002-2004).

Namun, deal dengan Chelsea saat itu tidak terjadi. Artikel dari Chris Bascombe menyatakan Lazar Markovic bahkan sudah menemui petinggi-petinggi Chelsea dan berkunjung ke Stamford Bridge, London hingga duduk dinner bersama pemain-pemain Chelsea kala itu. Tidak mengherankan karena saat itu agen dari Markovic berafilisasi dengan Pini Zahavi, yang notabene adalah teman dekat Peter Kenyon, mantan kepala eksekutif Chelsea. Ada kemungkinan Chelsea enggan melakukan transfer dengan Pini Zahavi mengingat rekor buruk Pini Zahavi yang mana saat itu sedang sibuk menangani kontroversi transfer Carlos Tevez dan Javier Mascherano yang kepemilikannya diwakili olehnya.

Dalam kerumitan dan ketidakjelasan transfer dan kepemilikan, akhirnya Partizan Belgrade menyetujui transfer Markovic ke Benfica (fee undisclosed), dengan kontrak lima tahun, mengikat Markovic hingga 2018. Keputusan yang sangat bijak, mengingat pola permainan Benfica yang hidup dari sayap-sayapnya dan sangat menyukai pemain muda dengan flair, teknik dan kecepatan yang bagus.

Kecepatan memang merupakan atribut utama dalam karakter permainan Markovic. Hal yang tidak mengherankan karena dia adalah lulusan sepakbola Partizan, yang mana menjadi sejarah bahwa permainan sepakbola Balkan (khususnya Partizan) memiliki karakter cepat namun sistematis. Selain itu, kecepatan memang mengalir dalam darah keluarganya. Sang ayah, Negoslav Markovic terkenal sebagai pemain yang cepat dan berteknik (Speedster) saat bermain sepakbola di Remont and Borac Cacak, klub lokal amatir di Serbia. Bagaikan buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, bakat dan cara bermain sang ayah tidak jauh-jauh diturunkan ke kedua anaknya, Filip dan Lazar yang setia menemani sang ayah berlatih. Dengan kelebihan terutama dalam hal kecepatan, tidak mengherankan mereka berdua ditempatkan di posisi sayap oleh pelatih Partizan di awal karir mereka.

Keputusannya transfer ke Benfica juga tidak dinilai terburu-buru karena Markovic memang ingin menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMA, di Partizan High School of Sport, terlebih dahulu. Edukasi memang adalah salah satu faktor utama dalam karir Markovic. Latar belakang sang Ayah yang berprofesi di bidang teknik sipil dan menjalankan perusahaannya sendiri dan sang Ibu yang merupakan seorang ahli hukum, membuatnya tidak bisa melupakan pendidikannya. Peran keluarga juga sangat berpengaruh dalam karir Markovic. Menjaga makanan dan minuman, istirahat yang baik serta jauh dari pengaruh alkohol dan kehidupan malam adalah berkat peran dari sang ibu yang sangat menjaga karir anak-anaknya. Ia juga dididik untuk tetap rendah hati dan sederhana. Ia tidak secara buta memfollow fashion (jelas tidak akan muncul gaya Blonde Markovic a la Dani Alves ataupun tattoo-tattoo ala David Beckham sejauh ini) dan gaya hidup "wah" dan metropolitan a la ibukota.

Bahkan sebelum bisa mengendarai mobil, ia kerap menumpang Filip ataupun naik taksi ataupun sarana transportasi publik lainnya. Somehow it is reminded me of Iker Casillas in his early years.

***

Dua puluh menit kemudian. Waktu menunjukkan 90 menit, dengan tambahan waktu 4 menit. Estadio da Luz ricuh dengan keluhan dan seruan fans agar Jorge Jesus mundur. Para reporter mungkin sudah bersiap-siap mengisi match report mereka dengan tajuk "Benfica kalah (lagi!)" ataupun "Benfica Bersiap Untuk Treble Kekalahan Lagi" untuk sekedar mempermudah pekerjaan mereka dalam mengabarkan hasil pertandingan ataupun memberi tekanan ekstra kepada Jorge Jesus, manajer Benfica yang baru saja diperpanjang kontraknya selama dua tahun, di mana Benfica saat itu baru saja mengalami treble kegagalan yang cukup tragis (Kalah di liga dari FC Porto, tumbang di final Piala Portugal dari Vitória de Guimarães dan tentu saja kalah di final Europa League karena sihir Rafael Benitez yang membuat Chelsea bisa membuat Fernando Torres mencetak gol). Namun tidak demikian pemikiran kontingen Serbia di Benfica saat itu. Apapun script yang ditulis oleh Gil Vicente, para kontingen Serbia tersebut jelas tidak membacanya. Diawali dari umpan terobosan Filip Djuricic kepada Lazar Markovic, yang dengan pintarnya memposisikan diri diantara bek tengah dan bek kanan Gli Vicente, Halisson dan Gabriel Moura, lalu menyentuhnya sedikit sehingga bola berada di posisi yang tepat sebelum menceploskannya ke gawang dengan kaki kirinya. Semenit kemudian, Markovic telah meliuk melewati dua pemain Gil Vicente dari sisi kiri, memotong ke tengah (Number 10 Position) sebelum mengoper bola ke Ezequiel Garay di sayap kanan, yang diteruskan ke pemain Serbia, Miralem Sulejmani yang kemudian memberikan umpan silang yang disundul penyerang depan Benfica, Lima dan berbuah gol. Estadio da Luz pun pecah. Jorge Jesus pun turut merayakan gol tersebut bersama pemain, staff dan fans. Dan debut anak muda dari Serbia tersebut pun segera berubah menjadi debut impian.

Seusai pertandingan, Jorge Jesus memuji kiprah anak asuhnya, walaupun seharusnya dia juga layak mendapatkan pujian karena kontingen Serbia yang ia gunakan (Filip Djuricic, Miralem Sulejmani dan Lazar Markovic adalah trio Serbia yang dimasukkan Jorge Jesus di babak kedua pada pertandingan melawan Gil Vicente). "Menang pertandingan dengan karakter seperti ini jelas memberi kita keyakinan lebih daripada menang dengan skor telak." ujarnya. Dan hal itu memang benar adanya, walaupun kita akan mengetahuinya di akhir musim. Benfica melalui salah satu musim terbaiknya sepanjang sejarah klub. Treble domestik (Liga, Piala Liga / Taça da Liga dan Piala Portugal / Taça de Portugal di mana mereka tidak pernah kejebolan sekalipun di Piala Portugal), tidak pernah kalah di Europa League (walaupun mereka gagal di final dalam adu pinalti melawan Sevilla) dan unbeaten di Estadio da Luz.

Musim ini juga menjadi musim yang sangat baik bagi Lazar Markovic, yang pada usia 19 tahun telah merasakan treble dan bermain untuk klub terbaik di Portugal di musim pertamanya. Performanya mungkin setara dengan tamatan winger Benfica sebelumnya, Angel di Maria yang mencatatkan 40 penampilan dengan 7 gol (di mana Markovic hanya mencatatkan 49 kali tampil dengan 7 gol) namun jika ditanyakan dalam segi gelar, dan usia, Markovic jelas lebih unggul (Ia saat itu berusia 19 tahun dibandingkan dengan Di Maria yang saat itu berusia 21-22 tahun). 

---

20 Tahun, 20 Juta Poundsterling

Melwood, Liverpool, 15 July 2014
Setelah merampungkan penjualan Luis Suarez senilai 75 juta Poundsterling ke FC Barcelona, Brendan Rodgers tidak menunggu lama untuk mendapatkan dossier dari scouting department Liverpool di bawah kinerja Dave Fallows dan Barry Hunter mengenai target mereka yang sesuai dengan karakter permainan Liverpool. Tidaklah mengherankan sebagai mantan scout Manchester City, mereka mengusulkan nama winger Serbia ini ke dalam report mereka mengingat rekor keberhasilan mereka mendatangkan pemain Serbia seperti Stevan Jovetic dan Mateja Nastatic di Manchester City. Melalui negosiasi yang berkepanjangan, akhirnya Lazar Markovic resmi berkostum Liverpool, dengan nilai transfer mendekati 20 juta Poundsterling. Kemungkinan transfer sedikit memakan waktu lama karena kerumitan untuk menyelesaikan transfer dengan pihak ketiga di mana federasi sepakbola Inggris tidak mengizinkan adanya campur tangan pihak selain klub pemilik dalam hal kepemilikan pemain.
Transfer Lazar Markovic ke Liverpool sebenarnya sangat menarik karena seolah saling melengkapi satu sama lain, jika melihat permainan Liverpool di musim sebelumnya yang sangat menyerang, mengandalkan kecepatan dan pemain muda di bawah asuhan Brendan Rodgers. Sangat membuat penasaran bagaimana sepak terjang Lazza bersama Liverpool musim depan.
I don't know if he already suited in Brendan's system but I think he would. He is like Raheem Sterling with long hair. Perbandingan terhadap Lionel Messi juga muncul di beberapa artikel yang saya baca. Based from what I see, I think he is mentally right to play in Liverpool. Interestnya dalam bidang pendidikan terutama karena mata pelajaran favoritnya yaitu Sejarah dan Matematika juga bisa menjadi pendorong baginya untuk dekat dengan sejarah klub (banter!) ataupun dekat dengan Glen Johnson, yang mana sedang berusaha menyelesaikan mata kuliahnya dalam meraih gelar Sarjana Matematika. Gayanya yang kalem dan membumi juga dinilai cocok dengan suasana kota Liverpool yang bergaya countryside. Lihat saja saat dia menjalani medical untuk Liverpool di Melwood. Ransel, topi diputar ke belakang, smartphone di kaos kaki. No fuss. Just a simple 20 years old guy worth £20m.


See that humble lad doing medical at Melwood? (Image: LFC)

“As long as he wants to trains properly, he could be a world beater.” ujar Nemanja Matic, rekan timnasnya di Serbia. Apakah Lazza searing mempermalukan seniornya ini saat latihan? Apakah dia adalah sosok joker in the team? Who knows? Tapi melihat fakta bahwa Jorge Jesus kerap memasukkan nama Markovic ke starting line-upnya saat di Benfica, mungkin opini Nemanja Matic mungkin hanya inside joke belaka.

Tapi apapun yang dia lakukan di sesi latihan, dipastikan Rodgers akan membuat Markovic menggapai level yang lebih tinggi lagi. Saya juga yakin bahwa Rodgers dan para staffnya akan melatih kemampuan fisiknya seperti yang mereka lakukan pada Raheem Sterling, Phillipe Coutinho dan Joe Allen (Body-checknya terhadap Yaya Toure yang membuat Yaya terbang menyingkir tidak akan pernah saya lupakan) dan juga akan membuatnya menjadi world-beater dalam setahun-dua tahun mendatang.




Surely he's not this guy (Image: RAWK)

Artikel ini ditulis oleh: @Sa5678
Read more ...

6 July 2014

Support Not Blame

Love, cinta atau apapun namanya dalam dunia ini pastilah indah walaupun kadang tak seindah kata Mario Teguh oleh sebagian orang yang dikhianati oleh cinta. Cinta akan selalu ada dibumi ini, tak jelas asal nya dari mana dan kapan datangnya, cinta akan selalu ada dikehidupan kalian.


Bagi yang pernah merasakan cinta pasti tau bagaimana rasanya. Indah, selalu ingin bertemu dan terkadang lupa akan semua yang terjadi, kadang logika macam pelajaran matematika pun tak bisa menjelaskan cinta.

Terlihat bodoh adalah salah satu efek dari cinta tersebut, logika logika hilang seketika tak mampu memberi penjelasan pasti mengapa diri ini jadi seperti ini. Dalam hal ini biasa disebut dengan nama "Cinta Buta" cinta yang bisa dikatakan cinta yang tak memandang apapun lagi dan berfikir hanya dia yang benar dan selalu ada (walaupun kadang fikiran itu salah).

Cinta banyak macam nya, dari cinta orang tua kepada anaknya, cinta nenek kepada cucunya,cinta kalian ke pacar atau cinta teman ke pacar kalian, ataupun cinta kepada klub sepak bola seperti Liverpool contohnya,

Cinta kepada klub mungkin akan menjalar ke sipemain yang bermain untuk klub kesayangan nya, begitu pun sebaliknya. Seberapa bagus nya dia, seberapa tak senonoh kelakuan nya kau akan memberikan pembela'an walaupun itu tak masuk akal karna dia melakukan kesalahan, tapi itulah Cinta Buta

Ketika kau mencintai seseorang dan dibutakan oleh orang tersebut, kesalahan seberapa besar apapun akan diterima karna kita mencintainya, kadang orang berfikir bahwa itu suatu kebodohan namun itulah efeknya cinta.

Salah adalah kata yang pas untuk deskripsi "Cinta Buta" tak bisa membedakan yang benar ataupun salah, tapi akibat terlalu sering nya disakiti dan dikhianati logika pun muncul, apalagi sekarang ada sosok akun akun motivator yang memberikan pencerahan layaknya nabi yang mendukung logika dikepala.

Logika bermain pasti, tak bisa diganggu gugat. Menurut logika jika pasanganmu tak menghubungi mu, berarti dia tak mencintaimu, sedangkan Cinta berkata mungkin dia sedang sibuk atau apalah. Bermacam hal dikepala bisa dimentahkan oleh Cinta dalam hati walaupun itu diluar nalar.

Saga transfer Suarez memasuki episode baru, FIFA sebagai otoritas sepak bola dunia menghukum Suarez 4 bulan tak boleh melakukan kegiatan sepak bola karna mengigit Chiellini, namun boleh melakukan kegiatan transfer dan cek medis. Hukum yang sangat indah dari FIFA untuk klub peminat Suarez dan hukum tak adil bagi Uruguay dan Liverpool.

Bagaimana bisa seorang pemain tak boleh ikut latihan diklub nya sendiri atau berfoto untuk skuad musim depan tapi boleh melakukan tes medis diklub lain? Gila? Ya bagi saya itu adalah gila.

Sudah berapa kali Suarez melakukan kesalahan, dari masalah rasisme ke sosok ganteng diklub sebelah, menggigit Ivanovic di EPL dan dihukum 10 pertandingan, apakah dimaafkan? Ya itu dima'afkan karna Suarez bisa menutupi kesalahan dengan goal serta assist nya. Cinta? Ya kita mencintainya karna perform nya dilapangan.

Bagi mereka yang mungkin percaya filosofi no one bigger than club mungkin merelakan Suarez pergi, namun bagi saya atau Kopites yang cinta akan Suarez tentu tak rela jika dia pergi, kenapa? Bukan masalah ketakutan tak ada sosok pengganti yang sepadan tapi saya sudah cukup kehilangan dari sosok Torres.

Cinta buta membuat saya berfikir Torres tidaklah akan pergi jika tak dijual oleh klub dan itu adalah kesalahan, sampai akhirnya teori cinta buta saya itu mentah ketika sang kapten Steven Gerrard membahasnya dibuku otobiografi nya. Torres ingin pergi dari klub karna ingin mendapatkan trofie, sakit? Tentu saja.

Saat kehilangan seorang yang dikagumi, datanglah dua orang pengganti dalam sosok Suarez ditemani seorang berambut poni kuda bernama Andy Carroll, dua sosok yang di proyeksikan menggantikan Torres. Suarez mampu menjadi idola baru, menggantikan sosok yang memakai jersey biru dan jadi bahan lelucon diakun akun lawak macam Footy Jokes dkk sedangkan Carroll?mungkin tak usah dibahas.

Pengganti sepadan dan lebih hebat dari sosok sebelum nya membuat pintu hati ini kembali terbuka dan menerima cinta baru walaupun kadang Suarez melakukan hal hal aneh dari rasis sampai menggigit. Tapi tetap sosok dia tak tergantikan dilini depan dan dihati para suporter.

Ketika Suarez melakukan rasisme kepada E**A para pemain Liverpool mensupport dengan memakai kaos bergambar Suarez sebelum laga. Support nyata dari para pemain untuk Suarez. Apakah Barca atau klub peminat Suarez akan melakukan itu andai kata Suarez kembali bermasalah? Entahlah,yang pasti Liverpool yang berfilosofi You'll Never Walk Alone membuktikan bahwa YNWA bukan cuma theme anthem atau hanya ukiran di Shankly Gates.

Layaknya seorang pecandu narkoba, Suarez tak seharusnya mendapat cacian ataupun hina'an karna kelakuan nya, atau hukuman yang sungguh tak adil, bukan membenarkan kelakuan nya tapi Suarez hanya butuh support dari para Kopites dan orang terdekat untuk berubah, percuma hukuman jika tak ada support, Suarez akan kembali menggigit lagi.

Dalam sebuah lagu The Beatles ada sebuah lirik No one you can save that can't be saved,
Nothing you can do but you can learn how to be you in time, It's easy, All you need is love. Jadi yang dibutuhkan Suarez hanyalah cinta, selama dia masih berseragam Liverpool patut bagi Kopites mendukungnya.

Stay with me Suarez cause you're all we need #YNWA

Ditulis oleh: @zaky_theredz
Read more ...

29 June 2014

Persulangan Cinta dan Benci: Luis Suarez

Luis Alberto Suarez Diaz, familiar? Satu, apakah dia seorang pemain hebat dengan kemampuan mumpuni dalam mengolah si kulit bundar dan memiliki naluri gol mematikan ketika berada di depan jala lawan? Atau dua, seseorang yang  bergigi  berkemampuan menonjol asal Amerika Latin yang memiliki kebiasaan unik mencicipi rasa daging manusia laiknya Hannibal Lecter? Sayangnya kini poin kedua lebih merekat kepada citra seorang Luis Suarez. Saat ini dirinya lebih digembar-gemborkan sebagai tukang gigit orang ketimbang seorang pebola handal dengan skill kelas dunia. Terlebih skandal terbarunya kini juga tidak jauh-jauh dari masalah gigit-menggigit.  Setelah lumayan hit dengan episode cita rasa Maroko dan Serbia pada dua edisi sebelumnya, dalam episode terkini dari acara Wisata Kuliner bersama Luis Suarez, membahas soal rasa seorang Italia.

Sudah jelas memang bukan kali pertama Suarez menggigit orang dan FIFA atau siapapun itu yang berwenang atas kasusnya mungkin sampai jengah karena sang pemain  tak kunjung jera. Sampai dikeluarkan hukuman match-ban selama 4 bulan dalam segala aktivitas sepakbola. Baik level timnas, klub atau bahkan hanya sekedar melemaskan kaki di training ground saja haram hukumnya. Berlebihan? Iya.

Kita mencintai Luis Suarez sebagaimana kita terkadang juga “membencinya”, tidak peduli  berapa banyak ulah yang telah ia perbuat, disitulah LFC, sebagai klub yang memiliki jasanya berjuang mati-matian untuk membela superstarnya tersebut. Klub, yang kita tau, pasti akan membantunya (untuk kesekian kalinya). Saya tidak tahu jika sang pemain akan tetap berulah setelahnya sampai pada akhirnya mencapai titik jenuh untuk pihak klub, terutama. Tapi ayolah, tidak ada satu klub pun rela kehilangan salah satu bintang terhebatnya dengan cara apapun. Terlepas dari titah King Kenny Dalglish yang menyatakan bahwa “No one is bigger than the club”, tidak ada seorang pun yang bisa lebih besar dari klub. Tapi untuk seorang pemain yang bisa disejajarkan dengan nama2 tenar dunia seperti Messi, Ronaldo, Neymar dsb –no, King, not this time. Suarez sangat berarti, he’s indeed something to fight for. Meski wacana jual-jual-jual tetap akan menghiasi media dalam beberapa periode ke depan. Bahkan beberapa legenda seperti Phil Thompson, Robbie Fowler dan Didi Hamann sudah angkat bicara mengenai sang mega bintang, mereka menegaskan bahwa LFC sudah terlalu baik terhadap Luis dan sekarang saatnya bagi klub untuk bertindak tegas. Dijual? Ya itu salah satu langkah “tegas” yang dimaksud. Tapi saya bertaruh tidak ada se-Kopite pun yang dapat legowo melihat kepergian sang bintang (setidaknya sampai pemain sepadan didatangkan). Yes ,he’s a cunt…our beloved thundercunt.

Dalam sepakbola modern dewasa ini, yang sudah memiliki kesamaan laiknya guratan pena yang membentuk sebuah skenario drama. Dimana di situ ada peran protagonis dan antagonis. Sebagian besar berhasil menghadirkan kesan baik pada Lionel Andres Messi, sebagaimana mereka juga berhasil dalam menciptakan aura bad-boy pada Cristiano Ronaldo. Dan untuk Suarez, dia adalah penjahat, kriminal dan sumber dari segala yang buruk-buruk – yang konon menjadi kesekian setelah alkohol,pornografi, marijuana dan Grand Theft Auto. Niscaya akan nyaris sulit dipercaya jika ada seorang anak yang dengan polosnya  berkata ingin menjadi pesepakbola hebat seperti Luis Suarez. Mungkin akan memiliki konteks yang sama seperti “Saya ingin menjadi penjahat sejenius Joker” atau “Saya ingin menjadi pencuri sehebat Arsene Lupin” dsb.

Namun penjahat bagi suatu kaum adalah pahlawan bagi suatu kaum juga. Di kampung halamannya sana, Uruguay, terlepas dari bagaimana sebagian besar isi semesta mengutuk Suarez,  dukungan untuk sang bintang juga tak kalah deras mengalir dari publik tanah airnya. Hal yang dapat dicerminkan oleh dukungan dari rekan2 di timnas Celeste, federasi sepakbola negerinya, bahkan dari sang kepala negara.  Bintang sekaligus kapten timnas Ghana, Asamoah Gyan bahkan berkata bahwa ia siap untuk melakukan apapun demi tanah airnya  termasuk untuk menjadi bedebah kotor  laiknya Suarez. Jika itu memang perlu, kenapa tidak?

Dalam menghadapi suatu permasalahan, manusia sejatinya dibekali oleh Tuhan YME dua hal: Emosi perasaan dan Akal sehat logika. Maka untuk soal Luis Suarez, adalah emosi dan sentimental semata yang mengatakan bahwa Suarez adalah penjahat, disgrace, cheater, racist, thundercunt dan segala macam predikat buruk yang ada di seluruh muka bumi ini untuk dirinya. Sah-sah saja. Namun jika kita dan mereka mau memberi sedikit ruang untuk logika, adalah naïf jika anda tidak mau seorang Suarez berada di klub anda. Pesepakbola hebat dan juga seorang yang siap memberikan yang terbaik untuk setiap pihak yang ia bela (dengan cara apapun). Dia adalah seorang insan sepakbola yang brilian, terlepas dari kecintaannya terhadap skandal dan kontroversi.


Cinta dan benci umumnya adalah dua hal yang tidak bisa menyatu. Namun jikalau ada dan perlu suatu hal yang dapat menyatukan mereka di satu meja sembari beradu gelas bersulang, pastilah hal tersebut mengandung: Luis Suarez. 

Artikel ini ditulis oleh: @demas_sasongko
Read more ...

12 May 2014

Walk on with hope in your heart... and keep the dreams alive!



Musim 2013/2014 adalah musim kebangkitan Liverpool, sang raksasa yang seakan “tertidur” panjang selama bertahun-tahun. Meski telah tampil dan menjadi pemimpin klasemen selama beberapa pekan menjelang akhir musim, Liverpool justru menggenapi puasa gelar Liga Inggrisnya menjadi 25 tahun. Penantian yang sangat panjang untuk klub sebesar The Reds setelah terakhir mencium trofi bahkan ketika saya belum lahir di dunia ini. Namun meski saya tidak menjadi bagian sekaligus saksi kehebatan Liverpool di masa-masa itu, saya bangga menjadi pendukungnya di masa sekarang meski Liverpool belum kembali menunjukkan keperkasaannya seperti dulu. Dan saya yakin, para Kopites lain yang seumuran dengan saya juga memiliki pemikiran sama meski tidak secara langsung menyaksikan sejarah hebat itu.

Meski Liverpool belum berhasil mengembalikan kejayaannya, mereka tidak akan pernah ditinggalkan oleh Kopites. Kopites juga tidak serta merta menghujat pelatihnya sendiri dengan hasil buruk apa pun yang didapat. Mereka selalu respect pada keputusan klub dan klub juga tidak memecat pelatih seenaknya sendiri dengan cara yang tidak terhormat. Dan meski kejayaan itu belum bisa dilihat lagi di masa sekarang, namun Liverpool adalah salah satu dari lima klub yang mendapat kehormatan batch of honour bersama AC Milan, Ajax Amsterdam, Real Madrid, dan Bayern Muenchen. Terbukti bahwa sejarah tak pernah dilupakan oleh publik sepak bola sekali pun hal itu terjadi jauh di masa lalu dan belum terulang lagi.

Masa hebat Liverpool di era modern yang sempat saya saksikan adalah ketika menjadi juara Liga Champions tahun 2005. Momen itu adalah salah satu momen paling menakjubkan dalam sejarah Liverpool karena tim tersebut meraih gelar juara dengan cara yang sangat dramatis. Kota Istanbul menjadi saksi betapa hebatnya tim yang saat itu dibesut Rafael Benitez memulangkan AC Milan dengan rasa kecewa. Liverpool telah kemasukan 3 gol di babak pertama, membuat AC Milan percaya diri secara penuh bahwa trofi Liga Champions akan dibawa ke Italia. Kopites yang saat itu berada di Istanbul juga mungkin telah menyerah dan menganggap Liverpool telah kalah.

Akan tetapi, semangat yang selalu tertera dalam tulisan “You’ll Never Walk Alone” ditunjukkan The Anfield Gang ketika memainkan babak kedua. Mereka beruntung memiliki suporter luar biasa yang tidak pernah berhenti bernyanyi sekali pun mereka telah kemasukan 3 gol. Semangat itu dimulai dari seorang Steven Gerrard, sang kapten fantastik yang berhasil menjebol gawang Milan melalui tendangan kerasnya. Selebrasi Gerrard yang mengangkat kedua tangannya ke atas menunjukkan bahwa ia berusaha mengajak seluruh rekannya untuk tetap bermain dengan penuh semangat hingga pertandingan berakhir. Gerrard mungkin berkeyakinan bahwa semuanya belum habis dan everything's possible. Menjawab ajakan Gerrard, 2 gol kembali dilesakkan ke gawang Milan melalui Xabi Alonso dan Vladimir Smicer. Hasil akhir ketika peluit panjang babak kedua ditiup membuat kedua tim harus melanjutkan pertandingan melalui extra time hingga duel adu penalti.

Jerzy Dudek menjadi pahlawan Liverpool di akhir adu penalti. Bloknya pada tendangan Andriy Shevchenko disambut dengan penuh emosional oleh para punggawa The Reds yang langsung berlari ke tengah lapangan. Selebrasi mengharukan mewarnai penyerahan Piala Liga Champions yang langsung dicium Gerrard. 

Perjuangan mereka begitu dramatis dan memberi pesan pada dunia bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika mereka terus berusaha dan bersemangat memberikan yang terbaik. Jika ada Kopites yang pulang dulu dari stadion atau mematikan televisi ketika babak pertama selesai, maka mereka harus lebih percaya bahwa harapan itu harus selalu disimpan dalam hati dan tidak pernah dibuang hingga kita tahu hasilnya seperti apa. Kopites sejati adalah mereka yang percaya bahwa di dunia ini segala sesuatu mungkin bisa terjadi, meski secara realistis dan matematis akan sangat sulit.

Baiklah, itu tadi sekilas cerita kejayaan Liverpool di abad 21 yang paling terbaru. Sayang sekali, sejak merengkuh trofi itu, Liverpool malah harus absen di Liga Champions musim depannya karena mereka tidak berhasil finish 4 besar di klasemen akhir Liga Inggris. Mereka baru bisa kembali berlaga di Liga Champions tahun 2009 ketika Fernando Torres masih dielu-elukan oleh publik Anfield. Setelah tahun itu, Liverpool belum lagi kembali ke pentas tertinggi Eropa sampai akhirnya mereka akan kembali ke pentas itu musim depan.

Sejak ditinggalkan Rafael Benitez dengan gelar prestisius Liga Champions tahun 2005 itu, Liverpool mengalami beberapa kali pergantian pelatih dan manajer. Liverpool belum menemukan pengganti yang pas untuk bisa membawa mereka kembali menjadi klub elit di Inggris dan Eropa. Nama-nama seperti Roy Evans, Gerrard Houlier, Roy Hodgson, dan Kenny Dalglish bergantian menjadi pelatih The Reds. Namun, prestasi yang mereka coba bangun pada Liverpool masih belum mencapai ekspektasi. Hingga muncul nama Brendan Rodgers, mantan pelatih Swansea City yang masih muda, mendatangkan harapan Liverpool dan seluruh pendukungnya untuk mencapai mimpi mereka, termasuk juga saya, melihat Liverpool kembali berjaya.

Musim 2013/2014 menjadi musim di mana Liverpool berniat memperbaiki keadaan dan ingin mengembalikan keperkasaan. Bersama Brendan Rodgers, mereka memiliki target untuk kembali ke Liga Champions setelah absen di kompetisi itu selama bertahun-tahun. Hanya itu target utama mereka musim ini. Mereka ingin finish 4 besar. Di awal tahun 2014, skuad asuhan Brendan Rodgers tampil secara perkasa dan memukul tim-tim besar macam Arsenal, Everton, Tottenham Hotspur, Manchester City, dan Manchester United. The Reds pun menjadi penghuni peringkat satu klasemen selama beberapa bulan hingga menciptakan harapan berlebih di hati para pendukungnya. Mereka ingin melihat sang kapten fantastik mencium trofi Liga Inggris, satu-satunya trofi yang belum pernah dia rasakan selama berkarir dengan The Reds.

Harapan itu terus muncul. Semakin menjelang akhir musim, mimpi itu terasa semakin nyata. Jika bukan karena Chelsea dan Crystal Palace yang mengalahkan dan menahan imbang Liverpool, mimpi itu akan menjadi kenyataan semalam tadi. Air mata Gerrard yang sempat menetes di matanya ketika Liverpool berhasil menjungkalkan City, akan menjadi banjir air mata kebahagiaan jika saja Liverpool bisa terus konsisten menang di sisa laga Liga Inggris musim 2013/2014. Sayang, Liverpool terlalu lengah di lini belakang untuk terus mengejar gol kemenangan. Mimpi itu pun buyar ketika hampir menjadi kenyataan. Liverpool masih harus bersabar dan merelakan trofi jatuh pada Manchester City dengan hanya terpaut dua poin.

Sejatinya, hasil akhir adalah mutlak keputusan Tuhan yang tidak bisa kita utak-atik. Namun, berjuang dan membuat asa hingga akhir adalah kewajiban kita. Liverpool telah berusaha keras dan menciptakan mimpi untuk para pendukungnya hingga musim 2013/2014 hampir berakhir. Mereka telah memberikan yang terbaik dengan mengerahkan segalanya. Musim yang akan sangat mengesankan bagi seluruh Kopites di dunia. Trofi itu memang belum singgah padanya. Steven Gerrard memang belum berhasil mencium trofi yang sangat diidamkannya itu. Namun, saya selalu yakin bahwa di bawah kepemimpinan Gerrard, trofi English Premier League suatu saat akan singgah ke Merseyside, pada klub Merah dengan suporter fantastis, Liverpool.


Terima kasih untuk musim 2013/2014 yang luar biasa, Liverpool! Terus kembalikan masa jayamu dan rengkuhlan trofi sebanyak-banyaknya! Kopites akan selalu setia di sini, tetap mendukungmu bagaimana pun keadaanmu. You'll Never Walk Alone, Reds!

Written by: @senoritapuspita
Read more ...

Tuhan Maha Rencana



Tulisan ini terinspirasi dari tweet dibawah ini:






Tulisan ini juga ditulis setelah saya menyelesaikan tugas 2 mingguan saya yang sempat sehari tertunda, yaitu mencunci kamar mandi.

Allah (Tuhan) selain yang sudah disebutkan dalam Asmaul Husna ternyata juga Maha Jenaka, suka bercanda. Sebelum musim dimulai Ia membuat fans Liverpool menjadi supporter paling realistis dunia, ketika musim berjalan pelan – pelan Ia mulai me-nina-bobo-kan mereka agar terjun ke samudera mimpi yang tak terbatas. Dan lagu tidur itu mencapai klimaksnya ketika tim kesayangan mereka berhasil mencatat  11 kemenangan beruntun. Membuat mereka tidak mau bangun dari tidur yang langka itu. Dari supporter paling realistis menjadi supporter super optimis.

Dan dari sinilah Tuhan mulai bercanda. Kapten fantastis mereka dibuatNya menjadi bahan lelucon sedunia meme lapangan hijau seakan slipnya lebih konyol ketimbang sepak pojok legendaris Iago Aspas. Sepekan setelahnya Ia merubah Crystal Palace menjadi Liverpool dan Liverpool menjadi AC Milan di final Liga Champions paling dikenang sepanjang sejarah. Sedangkan, Manchester City yang sebelumnya juga sempat Ia bercandai terus melaju kencang. Banyak dari mereka yang kemudian kembali menjadi pendukung realistis bin pesimis walau tak sedikit juga yang masih berharap.

Dan ending drama ini sudah kita ketahui bersama. Jika anda pernah menonton film You Are The Apple of My Eye pastilah anda ingat perkataan tokoh utama wanita bahwa terkadang kenyataan tak sesuai dengan harapan. Ending di film itu sendiri adalah sang pria bukanlah jodoh sang wanita, sama seperti Liverpool dan gelar juara liga musim ini. Eh,lah, kok jadi ngomongin film.
Loh kok kesannya nyalahin Tuhan ? Ah, gak juga.

Seperti tweet yang saya screenshot diatas, saya percaya Tuhan selalu punya rencana. Musim ini mungkin rencana Tuhan adalah pengin bercandain Liverpool. Tapi suatu saat nanti saya yakin Ia  akan merencanakan Liverpool juara liga. Kapan ? Ya gak tahu. Bisa jadi musim depan atau 2 musim kedepan atau kapanpun. Selama lagu You’ll Never Walk Alone masih sering dikumandangkan, harapan akan terjadinya Golden Sky itu akan selalu ada.

Termasuk Steven Gerrard pun sepertinya Tuhan sudah punya rencana untuknya. Jika sang skipper tak kunjung berhasil juara liga sebagai pemain, dia mungkin akan berhasil juara liga sebagai manager. Manager klub mana ? mungkin Liverpool, mungkin Sunderland, atau mungkin MU. Kita tak akan pernah tahu sampai waktu menjawab. Semoga sih Liverpool.

10 tahun lalu tidak ada yang menyangka bukan kalau Manchester City bakal dihuni banyak pemain bintang serta juara EPL. Pun 10 tahun tidak ada yang menyangka Atletico Madrid akan melaju ke final Liga Champions dengan menyingkirkan tim – tim elit macam AC Milan, Chelsea, dan Barcelona. Bahkan di musim 1977/1978 tidak ada orang yang terbesit pikirannya bahwa dibawah tangan dingin Brian Clough, Nottingham Forest yang baru promosi ke First Division musim itu langsung juara liga dan dilanjutkan dengan 2 kali berturut – turut juara Liga Champion. Tuhan Maha Perencana.

Sekali lagi saya sama sekali tak menyalahkan Tuhan atas kegagalan Liverpool juara liga. Saya justru lebih suka menyalahkan Paddy Power yang dengan teganya menaruh patung terkutuk David ‘Football Genius’ Moyes di depan Anfield setelah serangkaian performa apik The Andfield Gank. Ridiculous.


Ngomong – ngomong soal performa Liverpool musim ini, sulit bagi saya untuk mendeskripsikannya dalam satu kata. Tweet dari berbagai bahasa mulai dari luar biasa, incridible, sugoi, fabuloso, sampai น่าอัศจรรย์  menghiasai layar timeline. Membuat saya bingung memilih kata yang kiranya belum pernah dipakai. Walaupun pada akhirnya saya teringat sebuah kata legendaris yang (mungkin) tak sengaja diucapkan oleh salah satu komentator sepakbola Indonesia, CAP JAGUNG !!!

Written by: @Val_Pradana
Read more ...

9 May 2014

We Are Still Waiting

Menunggu adalah hal yang paling membosankan didunia ini. Menunggu kamu menerima cintaku misalnya, ah sudahlah bukan cinta saya yang masih menggantung yang ingin dibahas dalam tulisan ini, tapi jujur saja kalian pasti setuju jika menunggu sesuatu itu adalah hal yang paling membosankan? Kalau aku sih yes ga tau mas Dhani?



24 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu sesuatu, ketika menyebut 24 tahun anda pasti faham kearah mana alur artikel ini. Yap siapa lagi kalau bukan membicarakan klub kebangga'an kota Liverpool, 24 tahun Liverpool menunggu untuk merasakan nikmatnya trofie EPL yang terakhir kali dicicipi saat musim 89/90, itupun setahun sebelum saya lahir kedunia fana ini.

Musim ini peluang untuk mengakhiri puasa 24 tahun lamanya itu ada, tak ada yang menyangka Liverpool yang hanya bermodal dari Donat dan Garuda Indonesia bisa menjadi pesaing klub yang bermodal minyak dari Arab ataupun Rusia. Benar-benar diluar duga'an skuad tipis setebal pembalut ini bisa begitu berkuasa diwilayah Big Four yang padahal musim lalu sulit untuk dimasuki oleh klub ini.

Yang awalnya hanya menargetkan masuk kembali kehabitat asal yaitu bermain di Liga Champion, Liverpool sudah bisa menguncinya ketika kompetisi masih menyisakan 3 laga. Amazing season untuk klub yang musim lalu hanya menempati posisi medioker dipapan tabel klasemen yang kini ditempati klub juara bertahan musim lalu.

Impian yang membuncah, harapan kembali ada setelah lama hilang sejak musim 08/09 berlalu dan hancur ketika tuhan memberi coba'an dalam bentuk seorang Roy Hudgson, lini masa Twitter pun tak ubahnya diisi oleh para pemimpi dengan hastag #MakeUsDream dan #WeGoAgain yang begitu populer, mengalahkan hastag #AkuRapopo nya Moyes setelah doi dipecat.

Satu demi satu pertandingan dimenangkan, diluar duga'an Liverpool begitu digdaya sepanjang musim, bahkan ditahun 2014 Liverpool tak terkalahkan dalam beberapa pertandingan, tapi semua itu berubah ketika Bis asal London menyerang? Apa menyerang? Maaf maksud saya bertahan. Liverpool kalah dengan skor 0 vs 2 saat itu. Apa perlu diceritakan tentang pertandingan vs Special Mourtabak? Mengenai Gerrard atau corner kick legend dari Aspas? Sudahlah saya tak mau membuka luka itu.

Peluang pun kian menipis setelah Crystal Palace me"Milan"kan Liverpool dini hari yang lalu, bagaimana perasa'an anda? Coba tanya ke fans Milan mungkin dia akan memeluk anda sambil berbisik I Know That Feel Brooh. Suporter Liverpool pun saya yakini sekarang jadi lebih rajin berdoa dengan doa yang baik tentunya seperti semoga West Ham menang saat final match, mungkin inilah hikmah nya akibat kalah dan imbang disisa pertandingan final, kita semakin dekat dengan maha pencipta, terima kasih tuhan kau mengingatkan kami.

Sisa 1 pertandingan lagi dimusim yang luar biasa ini. Mungkin ada yang berkata bahwa peluang Liverpool sangat-sangat tipis untuk mengangkat trofie. Tapi layaknya dunia yang akan berakhir ketika sang malaikat meniup terompet sangkakala begitupun saya, saya tak akan berhenti berdoa dan bermimpi sampai wasit meniup peluit tanda berakhirnya musim ini. Because I still Bel19ve.

Anything is possible for those that believe in Andy Carroll, Stewart Downing and Joe "Messi" Cole.

Written by: @zaky_theredz

Read more ...

8 May 2014

Menuju Pulau Impian

“Begitulah cinta. Penderitaannya tiada akhir” – Cupatkai




Sering merasakan, atau paling tidak pernah merasakan apa yang siluman babi itu rasakan? Jika anda seorang penyuka Liverpool FC, sudah barang pasti jawabannya pernah/sering.

Anda penyuka Liverpool tapi tak pernah merasakannya? Ah, anda berbohong.

Sebagai fans Liverpool, pastilah kita sudah sangat akrab dengan perasaan tersebut. Anda ingin bilang tidak? Ayolaah, berhenti membohongi diri anda sendiri. Kita sama-sama tau.

Di awal musim, salah seorang teman kantor saya pernah mengatakan, bahwa fans Liverpool adalah gambaran sempurna dari angan-angan serta tekad kuat yang dibalut dengan kekecewaan dan rasa frustasi yang tingkat tinggi, yang disatukan kedalam satu wujud.

Bahkan dia sempat memprediksi jika suatu saat nanti kata “Kopites” akan masuk kedalam KBBI (untuk yang tidak tahu, KBBI adalah singkatan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk menggambarkan seseorang yang terlalu sering dikecewakan atau dikhianati. Memang saya akui dia bukan teman yang baik. Tapi tenang, saya sudah membalasnya dengan mengatakan, “Tell yer ma, we won it 5 times!”. Well, hanya itu yang bisa saya banggakan saat itu.

Tapi sebenarnya apa yang dikatakan teman saya tadi tidaklah sepenuhnya salah. Tidak percaya dan menganggap saya membelanya? Anda ingin saya menjabarkannya? Saya jamin anda akan tertidur sebelum selesai membaca panjangnya daftar kekecewaan yang akan saya buat.

Sudahlah.. lupakan soal lelaki menyebalkan yang baru 3 minggu lalu mem-proklamir-kan diri sebagai fans Athletico Madrid itu.

Yang ingin saya bahas adalah, mau di-kemana-kan optimisme kita untuk melihat Gerrard mencium kamera? Maaf, maksud saya Trophy BPL?

Jika anda sudah menjadi kelompok yang pesimis sejak desember lalu, saya berani menebak kalau anda langsung masuk kedalam kelompok yang optimis setelah Flannagan Cs meraup poin penuh dalam 11 pertandingan terakhir mereka. Sudah, tak usah malu untuk mengakui. Saya juga termasuk kedalamnya, kok.

Terlebih ketika LFC berhasil mengungguli Man.City dalam pertandingan ‘Pompa Jantung’ dengan skor 3-2 beberapa pekan lalu. Saya jamin, tak seorangpun dari kita yang masih menjadi pesimistis. Tak seorangpun!

Semua harapan membuncah. Menjadi juara yang awalnya hanyalah bonus pun pecah. Kita dipaksa bermimpi terlalu tinggi oleh Rodgers. Ketika target awal ‘hanyalah’ masuk zona liga champion yang memang sudah didapat berbarengan dengan kemenangan atas City, Rodgers menjadi orang yang jenaka. Dia mengajak kita untuk lebih liar dalam berfantasi. Mengajak kita ber-ekspetasi. Meminta kita untuk menuntut lebih tinggi. Menguasai tahta tertinggi liga Inggris! Ya, menjadi juara liga Inggris!  Sesuatu yang memang sudah didambakan sejak 24 tahun yang lalu. Memang Rodgers tak pernah berjanji, tapi melihat anak asuhnya sedemikian menjanjikannya, sayang rasanya kalo kita tak memberi kepercayaan lebih. Hingga kita berada ketahap yang lebih jauh dan berfikir kalau itu adalah janji tak tertulis dan tak terucap Rodgers untuk kita.
Saat itu, fans Liverpool adalah orang-orang paling optimis didunia dalam melalui hari-harinya. Bahkan Mario Teguh pun tak sanggup menandingi ke-optimis-an para Kopites.

Tapi.. ya, tapi. Karna akan selalu ada tapi dalam suatu kisah cinta yang indah. kata “tapi” yang melambangkan munculnya gelombang pasang yang mengusik kisah romansa nan indah dilaut tenang.kata “tapi” yang mewakili Mourinho dan pasukannya.

Tak perlu dipertanyakan lagi kemampuan Mou sebagai juru parkir handal. Maksud saya juru taktik handal. Maaf, belakangan ini mental saya kerap terganggu pasca pertandingan kontra Palace di Shulter Park yang lalu.

Chelsea dibawah asuhan Mou sukses menjadi pemeran antagonis dalam cerita Cinderella ala Liverpool. Rodgers dan kurcaci-kurcacinya dipaksa menghentikan sejenak syuting cerita Cinderella mereka setelah kalah 0-2 oleh Mou dan pasukan tembok berjalannya.

Hal yang pasti akan diingat dalam waktu yang panjang dari pertandingan tersebut adalah, 1 dari 2 gol yang dicetak chelsea terjadi karna Gerrard yang slip. Setelah sebelumnya Gerrard menyerukan kalimat “doesn’t f*cking slip”  kepada rekan-rekannya. Slip yang mungkin akan mengubur mimpi terbesarnya. menjuarai liga Inggris. Slip yang terdengar keseluruh dunia dan menjadikannya lelucon dimana-mana.

Hal lain yang akan diingat adalah tendangan pojok Iago Aspas yang akan melegenda.

Biar saja, mereka yang memperlakukan Nabi dari Liverpool utusan God Fowler ini dengan seenaknya akan menerima azabnya nanti. Berani-beraninya mereka. Ciih!

Lantas, siapa yang bisa kita salahkan atas kekalahan tersebut? Saya sarankan anda untuk menarik kata-kata anda jika anda menyalahkan orang suci itu dalam kekalahan atas Chelsea sebelum anda masuk kedalam daftar orang-orang yang akan di azab oleh Robbie “God” Fowler.

Lalu siapa yang bisa disalahkan? Anda pasti bercanda jika anda menyalahkan Mourinho dan taktik Tembok Berjalannya. Jika anda benar-benar menyalahkannya, maka sama hal nya dengan anda menyalahkan orang yang memilih untuk, maaf, buang air besar dijamban ditengah empang daripada memilih untuk buang air besar di closet duduk yang mewah. Anda pastilah mengerti maksud saya.

Menurut saya, ada beberapa hal yang bisa dijadikan alasan atas kekalahan pengikis harapan itu.
Yang pertama adalah, tidak bermainnya gelandang mobile asal Inggris keturunan Spanyol bernama Jordi Hendelron.

Dan yang kedua adalah, Aspas. Jangan tanya kenapa!

Saya tidak bisa menemukan alasan lain selain kedua alasan tersebut.

Maaf sebelumnya, tapi saya tidak akan membahas pertandingan kontra Palace, apalagi untuk menganalisisnya. Selain karna saya tidak begitu tertarik dengan analisis, pertandingan tersebut juga terlalu mengecewakan untuk diingat.
 
Lihatkan, Liverpool mulai mengecewakan kita lagi. Apa saya bilang!

Sebelum dilindas Truk berwarna biru dari London dan di-AC Milan-kan oleh Palace, kita pasti menganggap bahwa menjadi juara bukanlah lagi sekedar angan-angan apalagi isapan jempol belaka. Bukan juga hanya sekedar bonus. Target untuk menjadi juara sudah menjelma menjadi suatu keharusan yang amat berdosa jika gagal dilaksanakan. Maka berhentilah menghibur diri sendiri dengan mengatakan bahwa menjadi juara adalah bonus, karna target sesungguhnya adalah masuk 4 besar.  Terlalu naif mengatakan itu jika mengingat hanya tinggal 3 ‘final’ tersisa sebelum mengakhiri kutukan BPL. Maka mulailah mempersiapkan diri untuk menerima kekecewaan yang baru. Sakit memang. Dan untuk mengurangi rasa sakitnya, kembalilah ke paragraf pembuka tulisan ini dan kembali kesini jika rasa sakitnya sudah agak mereda.

Tapi.. ya, “Tapi” yang ini melambangkan titik balik dari usainya ombak yang menerjang laut yang tenang. “tapi” yang membuat kita mulai mendayung lagi menuju pulau bernama impian setelah 24 tahun kita mencoba berlabuh disana namun selalu karam karna ombak yang terlalu ganas.

Lagi pula, bukankah kita pernah menghadapi ombak yang lebih teruk dari ini? Bukankah musim 09/10 lebih mengenaskan dari ini? Bukankah akan ada langit yang cerah setelah badai pergi seperti yang dijanjikan lagu You’ll Never Walk Alone? Bukankah harapan tak akan pernah mati sampai kita terbujur kaku didalam peti? Bukankah kita yang menyerukan jargon, “Anything Is Possible For Those Who Believe” setiap hari? Dan masih banyak lagi “bukankah-bukankah” lainnya yang bisa memunculkan secercik harapan.

Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berhenti berharap. Karna jarak kita untuk sampai ke pulau impian sangatlah dekat. Memang, kita bukan satu-satunya kapal yang sedang menuju kesana, ada satu kapal lain berlogo elang yang jauh lebih mewah sedang memimpin satu dayungan dari kita untuk sampai kesana lebih dulu. Lantas kita menyerah? Jangan! Kali ini saya memaksa. Dengan harapan seadanya, kita diperbolehkan untuk berharap kapal mewah milik pengusaha minyak asal Timur Tengah itu akan berlubang dilambung kapalnya karna terjangan ombak. Dan dengan seluruh harapan yang tersisa, kita akan mendayung sekuat lengan kita mengayuh untuk mendayung sekali lagi demi sampai ke pulau tujuan lebih dulu dari siapapun.

Jadi, maukah kalian menemani saya mengantar Brendan Rodgers dan Pasukannya  menuju pulau impian berlangit cerah itu dengan menggunakan kapal sederhana bernama Liverpool FC? Maukah kalian mendayung menggunakan secuil harapan yang tak akan mati untuk terakhir kalinya dimusim ini?
Jika kita berhasil sampai kesana lebih dulu dari siapapun, bukankah akan sangat membahagiakan melihat tangis sesak Suarez dan Gerrard di Shulter Park berganti menjadi menangis tangisan sukacita di Anfield 11 mei nanti, yang pasti juga akan kita rasakan meski kita beribu-ribu kilometer jauhnya? Bahkan saya tak akan sungkan untuk menitikan air mata dan memeluk siapapun yang ada disamping saya jika hal itu benar terjadi. Sebegitunya? Ya. Sebegitunya.

Jika kita gagal menjadi kapal pertama yang berlabuh disana? Well, setidaknya kita pernah mencoba. Dan hitung-hitung kita memuluskan prediksi teman saya tentang kata “Kopites” yang akan masuk kedalam KBBI.

Written by: @muhammadaping

Read more ...