22 August 2016

Fans Liverpool Dilarang Orgasme!



Apa rasanya jika manusia tak bisa orgasme? Apa jadinya ketika Anda mencoba segala hal untuk mencapai klimaks kenikmatan, tapi pada akhirnya hanya kehampaan semu yang muncul?

Orgasme punya arti puncak kenikmatan seksual yang khususnya dialami pada akhir persanggamaan. Sesuatu yang bisa menjadi racun dan madu secara bersamaan.

Racun? Ya, orgasme di kamar mandi yang terlalu sering tak baik untuk mereka yang menginginkan hubungan seks tapi takut akan batasan usia, batasan agama, dan sebagainya.

Pada akhirnya cara paling ampuh adalah memberikan akselerasi spesial dengan kecepatan bak Raheem Sterling di tangan kiri masing-masing.

Madu? Orgasme jelas sehat untuk para pasangan yang sudah menikah. Bagi mereka yang dianggap telah halal. Bahkan ada penelitian yang mengatakan hubungan seks dengan orgasme yang tepat bisa membuat Anda menjadi lebih awet muda dan sehat.

Tapi, apa rasanya jika Anda tak pernah merasakan orgasme? 26 tahun cairan itu tak keluar dari alat kelamin Anda?

Orgasme berujung pada kepuasan, kebahagiaan. Simpelnya seperti itu. Tapi, tak semua orang bisa merasakan hal tersebut.

Fans Liverpool menjadi contoh paling nyata saat ini. Kopites, sebutan mereka, sudah 26 tahun lebih tak menjadi juara liga.

Dua bulan setelah saya lahir ke dunia, itulah trofi liga terakhir yang diangkat Liverpool hingga saat ini.

Menceritakan kisah Liverpool sejak momen itu hingga sekarang terlalu panjang dan tak bermanfaat. Kecuali iklan di tahun 2005 yang berhasil menarik kawula muda untuk mencoba menjadi hipster dan tertarik dengan tim ini.

Fans Liverpool dilarang Orgasme! Kenapa? Karena sampai sekarang siapapun fans sepak bola tak tahu kapan tim ini akan bangkit dan menjadi juara liga, lagi!

Seorang Jurgen Klopp telah menjadi manajer tim. Sesosok yang dianggap sebagai pelatih paling menggebu-gebu dengan hasrat dan hati yang besar untuk memimpin tim.



Kedatangannya tengah musim lalu menjadi harapan tersendiri mengetahui trek rekor sang manajer yang memang brilian bersama Borussia Dortmund.

Tapi, ingat prioritas Klopp bukan piala. Dia tak pernah mengatakan apapun terkait janji mengangkat trofi liga.

Yang dia janjikan adalah hasrat, performa, dan semangat yang super besar dari Liverpool. Hal ini diharapkan bisa menular ke fans yang juga sudah lelah menunggu tim idamannya sukses.

Klopp bukan Jose Mourinho atau Pep Guardiola yang sudah memberi 20 lebih trofi sepanjang era modern. Dia hanya pernah meraih 5 trofi sepanjang era manajerialnya.

Bersama Klopp Liverpool berada di level yang lebih baik secara mentalitas dan performa karena selalu dipenuhi dengan hal-hal positif. Klopp selalu mampu memberikan pernyataan-pernyataan yang membuat fans tersenyum sendiri saking hebatnya dia dalam memotivasi.

Secara permainan pun, Liverpool cukup berkembang dam memuaskan banyak fans dengan kemenangan-kemenangan dramatis nan besar, walau akhirnya juga tak berujung sebuah piala.

Tapi, jika pada akhirnya seorang Klopp pun tak bisa membuat Liverpool orgasme, apa yang akan Kopites lakukan?

Memercayai Jordan Henderson dan Alberto Moreno yang permainannya bak pesakitan membuat fans jengah.

Bagus-bagus jika Klopp membeli seorang bek kiri baru atau gelandang bertahan (jangkar) berkualitas, jika tidak? Pe*u Anda akan kembali tertahan dengan performa semi-bokep Hendo dan Moreno.

Masuk akal jika Klopp membela Moreno pada sebuah konferensi pers. Karena seorang manajer jelas harus berada di belakang para pemainnya. Namun, tetap saja ini sudah menjadi masalah umum sehingga semua fans sepertinya layak menjadi direktur olahraga untuk meminta tim membeli dua pemain di pos ini.

Tak berhenti di sana, Klopp juga belum bisa menyelesaikan masalah inkonsistensi The Reds. Menang melawan Barcelona, dibantai Mainz. Menang menghadapi Arsenal, dihajar Burnley.

Kami senang dengan atraktivitas, tapi bukan atraktif terkait hasil. Kami tak mau menyalahkan, tapi perkembangan tak terlihat signifikan.

Sepak bola modern memperlihatkan banyak pelatih baru berhasil juara di musim perdananya. So, "butuh waktu untuk sukses" terdengar overrated saat ini.

Klopp memberikan sesuatu yang positif. Kita tak bisa menyangkal itu. Tapi, apakah semua hal-hal indah yang dibawa Klopp akan berujung trofi? Belum tentu.

Fans Liverpool sepertinya benar-benar dilarang untuk merasakan orgasme terbesar dalam waktu dekat ini.

Tapi, toh Anda tak akan mati hanya karena tak bisa orgasme. Ingat, ketika sperma menumpuk, dia akan keluar otomatis melalui "MIMPI" basah. So, mari Bermimpi!

@RedziAP
Read more ...

19 May 2016

"Harapan" yang Sulit Merebut Hati Liverpool dari "Kegagalan"



Ah, The Reds di era modern memang medioker. Anda tak bisa menyamakan tim ini dengan klub-klub top Inggris bahkan eropa lain. Bukan apa-apa, sudah dipimpin Jurgen Klopp saja, Liverpool masih finis di peringkat delapan atau tiga posisi lebih buruk dengan Manchester United yang sedang stres dengan Louis van Gaalnya.

Ah, kami sudah biasa dengan kegagalan dan kekalahan. Peringkat 6-7-8 adalah titah Liverpool laiknya Barcelona yang sulit lepas dari peringkat 1-2 klasemen dalam satu dekade terakhir. Buat apa diambil pusing??

Sudah diangkat menuju langit ketujuh, hampir menjejaki ranah Isra dan Mi'Raj, Liverpool kembali dijatuhkan ke dasar bumi paling dalam. ArchAngel saja matinya karena jatuh dari langit, padahal dia memiliki sayap. Seperti itulah Liverpool, sebuah tim besar yang susah berjaya di arena permainannya sendiri.

Menunggu Liverpool mengangkat piala seperti menanti mantan Anda kembali dan meminta maaf, padahal dia tidak salah, Anda yang salah. Mendekati kata mustahil untuk kembali menjalani hubungan.

Terlepas dari itu, banyak motivator menganggap tak ada yang mustahil di dunia ini, kecuali terbang, menghilang, dan membaca pikiran orang yang hanya bisa dilakukan Meta-Human di cerita-cerita superhero.

Jika "gagal" adalah kekasih Liverpool saat ini, "harapan" selalu mencoba menjadi orang ketiga dan menyingkirkan kegagalan itu. Pada beberapa bulan terakhir, Liverpool lumayan sering bertemu dengan harapan, walau belum bisa melakukan hubungan seks dengan dia.

Kedatangan seorang manajer kelas dunia tak membuat Liverpool langsung bisa lepas dari kekasih yang tak dia cintai ,"gagal". Seperti hubungan pada umumnya, tak mudah melepas seseorang ketika kita sudah tak cinta karena risiko pun banyak. Siapa yang mau melukai hati orang lain?

Liverpool baru saja berlibur dengan harapan hingga hampir mencapai klimaks ketika keduanya berlibur di Basel secara diam-diam. Ketika itu, gagal sedang asyik menikmati peringkat delapan klasemen Premier League dan percaya saja semua kata dari The Reds.



Harapan pun menemani Liverpool sepanjang kiprah di Europa League, tak ayal, kisah-kisah kebahagiaan sempat tercipta, bahkan mengingatkan mereka dengan mantan bernama Istanbul, ya mantan terindah mereka.

Sayang, pada liburan puncak di Basel, dimana Liverpool sudah berencana menyetubuhi harapan dan melepas hubungan dengan kegagalan, diam-diam "gagal" ternyata menguntit dari belakang.

Alhasil, hubungan diam-diam yang ingin diseriusi dengan harapan pun menguap. Liverpool kembali harus menemani kegagalan dan entah kapan keduanya bisa terpisah, karena Tuhan seakan terus mempertemukan mereka.

Harapan tidak hilang, dia sadar memiliki kesempatan untuk mendekati siapapun yang dirasa memang pantas mendapatkannya. Dia sempat berada di kota Leicester selama setahun dan langsung berhasil tanpa pedekate lama-lama.

Namun, terkait Liverpool, harapan mungkin harus berjuang lebih keras lagi, karena kegagalan selalu berada di sekitar mereka.

Klopp tak mungkin bisa sendirian mengangkat tim, harus ada bantuan dari pemain-pemain berkualitas, filosofi yang pas, serta keberuntungan yang beringas agar harapan dan Liverpool bisa menjadi satu serta menghasilkan anak bernama "SUKSES".


@RedziAP
Read more ...

21 October 2014

Mario Oh Mario



Pada suatu hari, saya sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Berkumpul dengan para sahabat untuk melepas kepenatan hidup menjadi pilihan saat itu. Namun, momen yang direncanakan ceria malah terjun bebas secara tiba-tiba. Saat dimana sebuah berita yang sudah diprediksi menjadi fakta yang membuat sakit hati. Bukan lewat Twitter, tetapi melalui akun ofisial Line Barcelona lah, sahabat saya membuat pernyataan "Zi, Suarez Resmi!!"

Ya, kabar yang sebelumnya sudah beredar itu akhirnya menjadi kenyataan. Pemain andalan Liverpool musim 2013-14, yang mencetak 31 gol dan menjadi pemain terbaik Premier League pada musim yang sama itu, memilih menyebrang ke klub yang dia idamkan sejak kecil, Barcelona.

No. Big No. Sudah bosan membahas pemain brilian dari Planet Namec tersebut. Biarlah dia bahagia bersama Tim Catalan tersebut. Sebuah harapan ketika The Reds akhirnya mendatangkan nama besar. Ya, setidaknya nama ini dikenal oleh awam sepak bola sekalipun. Sesosok yang kasat mata adalah pengganti Suarez, padahal tidak, Mario Balotelli.

Perjudian. Satu kata beribu makna terkait Super Mario yang bergabung dengan Liverpool. Hari itu, seluruh jurnalis Internasional maupun nasional bahu membahu membuat karya editorial dan menganalisa tentang sang pemain. Memberikan prediksi sotoy mereka apakah Balotelli mampu bangkit di The Reds.

Tak mau kalah, saya pun ikutan sotoy dan menganggap Balotelli adalah Marquee Signing sesungguhnya The Reds. Keyakinan bahwa Balotelli bisa menjadi pilar penting (meski tak bisa dibandingkan dengan Suarez) membumbung tinggi. Balotelli bisa memberikan dimensi dan opsi berbeda dari filosofi Liverpool, itu yang ada di benak saya.

Benar saja. Balotelli memberikan sesuatu yang berbeda untuk Kopites....di luar lapangan. Postingan jenaka sang pemain di Twitter dan Instagram acap membuat perut teraduk. Tak pernah ada pemain yang memiliki tingkat komedi selevel Balo di Anfield pada era modern.

Namun....

Performa Balotelli di lapangan hijau masih jauh dari kata memuaskan. Striker berwajah tampan ini baru mencetak satu gol di semua kompetisi musim ini. Itu pun gol ke gawang klub dari dunia lain, Ludogorets. Membuat 41 tembakan dimana 12 diantaranya berhasil mengenai target dari sembilan laga di semua kompetisi yang dijalani Liverpool, tak ada hasil signifikan alias nihil.

Balotelli yang emosional dan kontroversial memang tak terlihat di Liverpool. Pemain Italia ini mengaku dirinya tak bisa menjadi pemain yang bandel di bawah asuhan Brendan Rodgers. Sikap kalem dan tenang memang menghiasi sang pemain di lapangan. Sayang, hal itu berbanding terbalik dengan performanya. Menjadi andalan tunggal di lini depan, Balotelli seperti dalam tekanan besar.

Delapan laga liga sudah berjalan. Liverpool masih bermain ogah-ogahan. Semua rekan terlihat bertumpu kepada Balotelli sebagai striker tunggal andalan sejauh ini, tapi tak ada yang dihasilkan. Tekanan mental pasti mendatangi dia.

The Reds tak bermain seperti musim lalu. Umpan-umpan pendek nan terukur, umpan terobosan ajaib yang memanjakan mata, serta segitiga antar pemain yang indah, tak terlihat musim ini. Umpan lambung amat sering dilakukan. Crossing-crossing yang langsung menuju Balotelli sudah tak terhitung jumlahnya.

Balotelli pun dibandingkan dengan striker Italia lain yang sedang menonjol di Southampton, Graziano Pelle, yang sejauh ini tampil sangat impresif dengan enam gol serta membawa The Saints bercokol di papan atas klasemen.

Dianggap pesakitan dan gagal, tekanan dari pelbagai sisi mendatanginya. Tekanan di lapangan hijau ketika dibandingkan dengan Luis Suarez. Tekanan untuk mencapai performa terbaik dengan filosofi yang cukup baru. Tak lupa tekanan mental yang datang dari media Inggris. Itu belum termasuk dibandingkan dengan rekan striker yang belum bergabung dengan tim oleh B-Rod.

Tak mudah menjadi Balotelli saat ini. Kopites sudah mulai jengah dengan performanya yang tak cukup baik. Tapi, tak adil jika kita langsung memberikan pressure besar kepada sang pemain. Ingat, Balotelli baru berusia 24 tahun. Pencarian jati diri itu terus berjalan. Memerbaiki attitude bagi manusia tidaklah mudah, dan sejauh ini dia berhasil. Performa?

Anda membutuhkan pendamping hebat untuk berubah menjadi luar biasa. Hal itu sudah terlihat pada laga melawan Queens Park Rangers akhir pekan lalu. Meski dianggap sebagai pemain dengan performa terburuk, Rodgers tetap percaya memainkannya hingga 90 menit. Rekan-rekan pun tak takut untuk terus memberikan key pass kepada Balotelli demi gol perdananya di liga.

Kepercayaan itu terus dipupuk. Kepercayaan yang jelas mampu memotivasi sang pemain. Seperti sebuah hubungan cinta, kepercayaan adalah kunci segalanya. Jikalau Anda sudah tak percaya akan sesuatu, maka sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi.

Balotelli memang sebuah perjudian. Dia bisa menjadi seperti Andy Carroll atau Peter Crouch. Tetapi potensi untuk selevel Fernando Torres (edisi Liverpool) masih terbuka lebar. Semua tergantung dari daya juang dan semangat pantang menyerahnya.


Bersama Liverpool, Balotelli akan mendapat dukungan terbesar di luar batas logika dari para fans. Namun, secara bersamaan juga akan mendapat cercaan paling menyakitkan hati selama karier. Waktunya memilih, Mario!
Read more ...

25 September 2014

Right Man in The Right Time


Tak ada yang abadi di dunia. Manusia tak selalu berada di titik istimewa. Pun tak mungkin dibiarkan terus sengsara oleh sang pencipta. Selalu ada fase dimana kita sebagai manusia, beristirahat dari rutinitas dan mencari udara segar. Memaksakan kehendak dan melawan jalan Tuhan jelas bukan hal yang lumrah.

Steven Gerrard. Siapa yang tidak tahu dia. Sesosok legenda klub sekaligus legenda kota Liverpool. Lahir di Liverpool. Besar di Liverpool. Berada di klub sepak bola ini sejak berusia tujuh tahun. Kemudian berhasil menjadi andalan tim utama hingga akhirnya menjadi kapten. Mimpi yang menjadi kenyataan untuk bocah kelahiran Whiston, Merseyside tersebut.



Jika berbicara trofi, Gerrard telah mengangkat semua trofi pada level klub. Iya, iya, hanya tinggal trofi Premier League yang belum dia cicipi. Sebenarnya bisa saja dia meraih trofi tersebut lebih cepat jika mengikuti jejak Robin van Persie hingga Samir Nasri, tapi bukan Gerrard namanya jika memilih untuk pergi dari sesuatu yang paling dia cintai.

Loyalitas tanpa batas yang dimiliki sang pemain menjadi faktor utama. Pada akhirnya, Gerrard sudah tak memikirkan apakah dia mampu menyempurnakan kariernya dengan trofi Premier League atau tidak. Dia hanya ingin mengarungi samudera sepak bola bersama Liverpool yang dicintainya.

Namun, kembali ke masalah utama. Kapten Fantastik sudah 16 tahun berkiprah bersama The Reds. Umurnya pun sudah 34 tahun. Sudah tak ada lagi tembakan-tembakan jarak jauh keras nan akurat itu. Pun dia sudah tak mampu bermain di beberapa posisi dalam satu laga.

Sudah terlalu lama The Reds mengandalkan kemampuan sang pemain. Beban moral, mental, hingga teknis jelas ada di pundaknya. Jika bukan karena Brendan Rodgers, mungkin Gerrard tak akan bisa tampil luar biasa musim lalu. The Reds tak akan memakai formasi Diamond jika bukan demi Gerrard. Bermain luar biasa sebagai Deep Lying Playmaker dengan stats yang mentereng, ditambah menjadi eksekutor bola mati yang hebat, Gerrard selamat musim lalu.

Sayang, hal itu tidak bertahan lama. Musim ini, Gerrard gagal memberikan performa yang baik dan menjadi salah satu masalah di skuat Liverpool. Sang pemain dirasa tak cukup baik dalam mengcover back four. Pun tak cukup istimewa dalam mengatur alur permainan. Dua tugas yang harusnya bisa dijalani dengan baik olehnya. Entah berapa kali sang kapten Out of Possession. Kalah sprint, hingga memaksakan Hollywood Pass.



Tanpa mengurangi rasa hormat kepada legenda, ini adalah waktu paling tepat bagi Rodgers mencari solusi pada skuatnya. Mencari Starting XI terbaik tanpa Gerrard didalamnya. Liverpool sendiri memang memiliki nama-nama yang dirasa mampu mengisi pos Gerrard atau mengubah formasi dan kembali mengandalkan double pivot jikalau sang ikon tak tampil.

Jordan Henderson dan Joe Allen bisa dibilang sebagai Box to Box terbaik The Reds saat ini. Gelandang bertahan? Lucas Leiva dan Emre Can bisa menjadi pilihan. Nama terakhir bahkan mampu bermain di semua posisi gelandang.

Secara teknik, keempat pemain di atas bisa dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan Gerrard. Tanpa memikirkan kondisi Allen dan Can yang masih terkapar cedera saat ini. Namun, tak ada yang secara kultural mampu menggantikan Gerrard pada empat pemain di atas. Sebelum akhirnya muncul sesosok harapan. Right Man in The Right Time.

Jordan Rossiter. Siapa dia? Jika Anda mengikuti Liverpool U-18 dan U-21 berkiprah, nama Rossiter sudah tak asing lagi. Sang pemain sudah berada di Liverpool sejak usia enam tahun. Pun berasal dari kota Liverpool sama dengan Gerrard.



Jika dilihat sekilas, Rossiter terlihat seperti bocah ingusan yang menunggu bocah-bocah nakal untuk membullynya. Tubuhnya kecil. Potongan rambutnya cepak. Wajahnya pun manis, sehingga jika dia berambut panjang, mungkin Anda akan mengiranya sebagai perempuan. Membandingkannya dengan Gerrard? Mungkin dia harus membesarkan badannya dulu jika ingin disandingkan dengan sang legenda.

But wait.... Kalian kenal Marco Verratti? Atau Mateo Kovacic? Dua gelandang yang namanya sedang melambung tinggi di dunia sepak bola modern. Tubuh mereka juga tak besar-besar amat bukan? Tetapi kinerjanya di lapangan sangat luar biasa. Rossiter memiliki kapasitas teknik itu. Ditambah darah lokalnya, Rossiter datang ke tim senior Liverpool di waktu yang sangat tepat.

Sang pemain biasa berduet dengan Jordan Lussey di Tim U-21 sebagai Double Pivot. Rossiter memang lebih defensif, tapi mampu mengatur alur permainan dan lini tengah. Karena itu, Rossiter rasanya sangat cocok jika dimainkan di pos Gerrard sebagai Deep Lying Playmaker, jikalau Liverpool bermain dengan formasi Diamond.

Tak hanya itu, bocah 17 tahun ini juga acap melakukan overlap jika dibutuhkan menjadi Box to Box. Ini terjadi jika dia berduet dengan Regista Muda berbakat The Reds lain, Pedro Chirivella. Itu yang membuat Rossiter bermain sangat nyaman bersama Lucas pada debutnya di tim senior melawan Middlesbrough.



Melihat performanya yang sangat pe-de dan tenang, Rodgers jelas harus mulai memikirkan Rossiter sebagai salah satu opsi pengisi pos lini tengah Liverpool. Sudah waktunya akamsi yang berpengalaman memberikan tempatnya sesaat untuk akamsi muda berbakat bukan?

Memang Rossiter masih 17 tahun dan memiliki banyak waktu untuk berkembang. Terburu-buru juga tak baik untuk perkembangannya. Itu yang sang pemain sadari. Dia mengerti bahwa usianya masih sangat muda dan berbahaya jika terperangkap kejemawaan.

"I know personally that this is just the start, I've got to keep my feet on the ground. The manager just told me that I had done well. I need to keep on improving and to stay in and around the first team, while improving for the U21s week in, week out. I'm still a long way away from being in the first team. I'm still only 17," Begitu ucap Rossiter.

Namun, tak ada yang salah terkait memercayai talenta muda di tim utama dengan cepat. Cesc Fabregas sudah menjadi langganan tim utama Arsenal sejak usia 17-18 tahun. Raheem Sterling pun demikian. Kondisi tim senior saat ini yang membuat Rossiter sangat masuk akal untuk menjadi bagian di dalamnya.

Semua putusan ada di tangan B-Rod. Apakah dia mau membawa The Reds ke level yang semestinya dan kembali ke perburuan gelar. Atau, bersikeras memainkan Gerrard tanpa memikirkan daya tahan sang pemain yang jelas tidak semaksimal dulu lagi.


Pada akhirnya, ini bukan masalah gelar apa yang diangkat Liverpool akhir musim, tetapi apakah The Reds mampu memertahankan identitas sebagai klub tradisional dengan kultur lokal yang dimiliki. Ini adalah waktunya perubahan. Jordan Rossiter is The Right Man in The Right Time.


Written By: @redzi_id
Read more ...

2 September 2014

"Kamu Terlalu Baik Buat Aku.."


Cinta menjadi sesuatu yang sangat indah di dunia. Cinta membuat kita semua merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ketika sedang jatuh cinta, kita bisa lupa dengan segala hal yang ada dikeliling. Pekerjaan, pendidikan, uang, dan segalanya. Cinta menjadi sihir tersendiri dan membuat kita abai.

Namun, tak jarang cinta berubah dan memiliki tanduk. Kemudian membunuh hati para penikmatnya dengan sayatan-sayatan pelan di lubuk hati terdalam. Para korban yang berjatuhan pun beragam. Ada yang tak bisa melupakan pada jangka waktu yang panjang. Bahkan ada yang nekad mengakhiri hidup hanya karena tak bisa kehilangan.

Cinta oh Cinta. Selalu ada drama yang mampu membuat penikmatnya pusing bukan kepalang. Rasa sedih dan bahagia menjadi satu dengan indahnya dan menjelajah dari ujung hati sampai akar pikiran. Cinta, bisa buta bisa terlalu menyala.

Karena itu, izinkan saya untuk sedikit bercerita tentang kisah cinta sepasang yang bertolak belakang tapi mampu berhubungan. Danny dan Poli.

Pada 2006, keduanya memulai hubungan yang tak diprediksi. Danny adalah pria tampan yang menjadi pentolan di salah satu sudut kota tempat dia tinggal. Acap menjadi pemimpin di sudut-sudut gang, memiliki banyak tato di sekujur badan, sekaligus bekerja magang sebagai artis tato, ditambah wajah tampannya, semua wanita pasti akan luluh hatinya oleh dia.

Berbeda dengan Poli. Dia adalah gadis sederhana yang memilih untuk membaca buku di gramedia tanpa membelinya. Poli tak mengenal rokok dan alkohol, sesuatu yang menjadi keseharian Danny. Poli acap memakai gaun sederhana berwarna merah, kacamuka jadul dan mengikat rambutnya dengan ikatan kuncir kuda.

Keduanya bertemu tak sengaja ketika Danny sedang mencari sebotol Carlsberg di supermarket. Tak diduga Poli juga sedang belanja sayur-sayuran untuk keperluan rumah. Danny yang terkenal blak-blakan tertarik dengan Poli dari pandangan pertama. Tak lama setelah itu, mereka berdua meresmikan hubungan dan menjadi kekasih.

Kelebihan Danny jelas menjadi sorotan juga untuk Poli yang selama hidup jarang mendapatkan seseorang yang spesial dari luar dan dalam. Hubungan keduanya berjalan romantis. Meski memiliki tampilan luar garang, ternyata Danny adalah sosok yang sangat terpuji. Dia sopan, penyayang, dan tak jahat jika bersama orang-orang yang disayang.

Bahkan, Danny adalah orang yang sangat pengasih kepada pengamen jalanan. Hampir tiap hari dia memberikan sedikit uang jika menemukan anak-anak tidak mampu. Tak jarang juga dia memberikan tato gratis bagi orang-orang tak mampu yang ingin memiliki tato.

Danny mencintai Poli apa adanya. Dia tak pernah menuntut apapun. Poli pun sangat mencintai Danny. Hingga hubungan berjalan delapan tahun lamanya.

Memang delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Namun, selama delapan tahun itu, Tulus belum menjadi penyanyi dan belum ada lagu "Jangan Cintai Aku Apa Adanya". Poli merasa hubungan mereka semakin monoton. Pasangan ini memang jarang bertengkar.

Bahkan Danny memerlihatkan rasa cinta yang luar biasa besar hingga membuat tato nama Poli di jemarinya. Namun, rasa tak pernah salah. Cinta pun tak pernah bohong. Jika ada masalah, pasti terlihat ke sang pasangan.

Kesetiaan Danny selama ini dianggap sesuatu yang membosankan oleh Poli. Sedikitnya masalah, tak ada konflik nyata, dan datarnya hubungan menjadi sesuatu yang salah bagi gadis berkacamuka tersebut. Apalagi, Danny terkadang tidak peka akan hal ini. Pun membuat lelaki bertato itu tak mengubah sikapnya karena tak tahu juga apa yang diinginkan Poli.

Poli sendiri tak memberikan kode kepada Danny terkait hal-hal yang janggal pada hubungan mereka. Alhasil, semakin hari hubungan itu semakin tak jelas dan sangat monoton. Hingga suatu hari, Poli menemukan sesosok yang tak disangka di gramedia.

Dejan. Dejan tak kalah tampan dengan Danny. Pun memiliki hobi yang sama dengan Poli yaitu membaca. Sehingga obrolan mereka langsung padu saat pertama kali bertemu. Belum lagi Dejan adalah tipe pria yang humoris dan pintar membaca situasi. Poli jatuh hati kepada Dejan.

Mencoba menyembunyikan hubungan rahasianya dengan Dejan dari Danny, Poli tak ingin menyakiti hati Danny si Baik Hati. Namun, Danny menyadari ada yang aneh setelah melihat tingkah polah Poli yang semakin cuek dalam beberapa waktu terakhir. Merasa hubungannya semakin janggal. Danny pun langsung bertanya kepada Poli.

Poli tak mampu berbohong lagi. Dia jujur berkata sangat mencintai Dejan dan rasanya kepada Danny berkurang signifikan. "Kamu terlalu baik buat aku.. Aku membutuhkan sosok yang bisa membuat hidup aku lebih berwarna dengan segala macam cirinya. Engkau pasti bisa mendapatkan sesosok yang lebih baik Dan.. Hubungan kita rasanya berakhir sampai disini."

Betapa hancur hati Danny. Tapi, sikap baik dan bijak membuat Danny sama sekali tidak marah mendengar itu. Senyuman tulus malah muncul di wajahnya.

Rasa sakit itu tak diperlihatkan oleh sang setia. Satu yang pasti, Danny ingin melihat Poli bahagia dan turut mendoakan Poli dan Dejan agar menjadi pasangan paling bahagia di dunia.

Terlalu baik. Terlalu baik. Terlalu baik. Cuma itu yang ada dipikiran Danny sepanjang jalan pulang. “Apakah indikator baik itu? Apakah wanita menginkan pria nakal secara menyeluruh sehingga hidup dia di dunia ini semakin menarik?” Ucap Danny dalam hati.

Poli & Dejan memulai hubungan yang diharap bisa berjalan lancar dan panjang. Sedangkan Danny, memilih pulang ke kampungnya dan membuat Studio Tato terkemuka bersama sahabatnya dari Amerika Serikat, Amy.


Yaa, meski ada kebingungan di benak Danny. Tapi satu yang pasti, cintanya ke Poli tak akan pernah mati. Dan doanya untuk sang gadis berkacamuka akan selalu terpatri. 
Read more ...

27 August 2014

Cepat ‘Sembuh’ Glen7o!



"He's one of the best full-back in the world. Glen is the type of player [without whom] you don’t realise what you’re missing until he is not in the team. It will be great when we get him back. He’s got the cast off his foot now." Sebuah pernyataan dari Brendan Rodgers, Manajer yang berhasil membuat Liverpool kembali menjadi pesaing juara musim lalu dan memberikan identitas pada filosofi tim.

Jika sesosok yang sangat dihormati, dipuja, dan telah membuktikan kapasitasnya memberikan sebuah pernyataan seperti itu, maukah Anda membantahnya? "Rodgers pasti punya rencana untuk Glenjo. Dia tahu apa yang dia lakukan. Lihat Jordan Henderson dan Raheem Sterling!"

Glen Johnson adalah bek kanan lokal paling berpengalaman di Liga paling mahsyur di Eropa, begitu kata banyak orang. Pengalamannya di tanah Britania bisa dibilang sangat banyak. Besar di akademi West Ham United, bek kanan tampan penuh tato ini melanjutkan kariernya di Chelsea kemudian Portsmouth.

Pada usia matang sebagai pesepak bola, 25 tahun, Glen memilih Liverpool sebagai persinggahan. The Reds menjadikan Glenjo sebagai bek termahal mereka dengan menggelontorkan dana 17,5 juta pounds. Benar saja, dia berhasil mencapai 143 caps setelah lima tahun bersama The Reds dan selalu menjadi pilihan utama manajer yang melatih.

Kemampuan pemain ini memang terbilang unik. Meski berposisi sebagai bek kanan, tetapi hasrat dan kemampuan menyerangnya sangat baik. Tak jarang dia melakukan step over bahkan melewati dua hingga tiga pemain lawan. Bahkan ada beberapa fans yang akhirnya menjuluki sang pemain dengan panggilan "Glenjinho", saking stylishnya.

Kemampuannya menusuk ke dalam kotak penalti lawan, melakukan cut inside di luar batas kewajaran, dan sangat versatile, membuat Johnson bahkan sulit tergantikan di timnas Inggris.

Sayang,,,, Masa itu telah berlalu...

Entah terlalu lama berada di tempat nyaman atau kembung karena kebanyakan Bir Hitam, Sang Mulia Glen kini tak ubahnya sosok pesakitan di Liverpool. Jikalau dulu ketampanannya menjadi bahan gosip para selir yang biasa mengamati, kini Sang Mulia harus merajah tubuhnya lebih banyak lagi untuk mencari perhatian, perhatian yang tak kunjung datang.

Setiap Sang Mulia berjalan berkeliling kota pelabuhan, yang datang adalah tatapan sinis tanpa harapan. Setiap dia tampil dan memeragakan ciri khasnya, yang ada gelak tawa tanda merendahkan. Singgasana "kanan" yang sudah lima tahun dia tempati hampir dilengserkan.

Jika ada seseorang yang masih sangat percaya kepada Glen, dia adalah Raja Brendan. Meski telah mendatangkan dua sosok muda istimewa dari Spanyol, Javi Manquillo dan Alberto Moreno, Glen tetap dijadikan pilihan utama pada dua pertarungan awal musim ini.

Performanya buruk. Sangat buruk. Tak ada target dan hasrat dari mata dan gaya dia bertarung. Ling-Lung, satu kata paling tepat untuk Glenjo saat ini. Posisinya pun semakin terpojok. Mungkin, tahtanya hanya bertahan paling lama kurang dari satu tahun lagi.

Mari kita sedikit memandang ke seberang Manchester. Disana ada sosok istimewa yang menempati pos persis dengan Glen. Dia adalah Pablo Zabaleta. Sosok Argentina ini bisa dibilang salah satu yang terbaik di sektornya di ranah Britania. Hebat dalam menyerang, kuat saat bertahan. Anda menganggap saya terlalu jahat membandingkan Glen dengan Pablo?

FYI, untuk kalian yang menganggap kemampuan Glen telah habis karena usianya yang sudah 30 tahun, Pablo hanya satu tahun lebih muda dari Glen. So, umur tidak menjadi faktor kacaunya penampilan Si Hitam Manis tersebut.

Hal yang paling menyakitkan datang beberapa hari lalu. Saat Glen berjuang pada medan perang dan terkena tusukan, hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit, sebagian besar pendukung malah merayakan itu laiknya sebuah kemenangan. Bahkan ada video yang memerlihatkan seorang pendukung merayakan cedera Glen dengan sangat liar laiknya seseorang yang baru saja bercinta dengan Scarlett Johansson. Miris.

Tak baik rasanya mendoakan Glen Johnson untuk tak kunjung pulih. Namun, jikalau dia pulih maka beberapa bulan ke depan adalah kesempatan terakhir untuk menunjukkan kemampuan aslinya sebagai salah satu full back terbaik di dunia. Apakah B-Rod harus memberikannya nomor punggung #7 sebagai motivasi? Jika memang itu yang engkau inginkan, ambil dan jadilah Glen7o! 

Get Well Soon Glen7o. Doa terbaik telah kami haturkan demi kesembuhanmu. Dan berikan 200 persen kemampuan di lapangan. Karena tak ada yang perlu engkau bingungkan. Target Liverpool adalah tampil maksimal pada tiap laga dan mengangkat sesuatu yang indah di akhir musim nanti.


Namun, jika performa, kelakuan, dan hasrat Tempe itu tetap bertahan. Mungkin, ini adalah waktunya Sang Mulia Glen untuk pulang, pulang ke Pangeran Harry yang membesarkannya di London.
Read more ...

10 July 2014

Adios, Liverpool FC



Dear Kopites,

Jujur, aku bukan seorang yang pandai dalam merangkai kata-kata, apalagi menulis sebuah surat untuk kalian semua. Emosi bercampur dengan air mata ketika akhirnya banyak barisan kaku kata tertutur lambat, di waktu yang mungkin tidak terlalu tepat. Sudah terlalu lama terdiam, aku, Luis Suarez, ingin memberikan pesan terakhir untuk kalian yang sudah memberikan jiwa, tenaga, cinta, dan rasa tulus yang sangat besar sejak aku mendarat di Anfield, 2011 lalu.

Pertama, aku ingin meminta maaf karena sudah terlalu banyak membuat masalah di Liverpool. Ya, tak mudah ternyata pindah ke lingkungan baru dengan tekanan media yang luar biasa besar. Pelbagai masalah aku buat disini. Dua tahun pertama bukan tahun yang mudah. Friksi dengan teman hitam di seberang menjadi contoh. Sungguh, aku tak bermaksud untuk rasialis. Tapi, mukanya memang jelek dan tingkahnya membuat kami kebakaran jenggot. Atau masalahku dengan seorang Eropa Timur berpantat semok. Aku yakinkan, gigitan itu bukan tanda frustrasi. Aku hanya gemas dan seketika seperti melihat marshmallow saat itu. Sayang, ternyata kulit dia tak sekenyal marshmallow normal.

Insiden tersebut jelas menjadi pelajaran. Kalian semua tentu melihat perubahan sikap dan performaku musim lalu setelah insiden yang membuatku absen 10 laga. Banyak perubahan terjadi. Dimulai dengan Sofia yang mendiamiku cukup lama dan hanya mau bercinta sebulan sekali, hingga media yang terus menyoroti meski aku tak ada di lapangan hijau. Beruntung, aku mampu memberikan musim terbaik dan membawa The Reds nyaris menjadi kampiun Liga Inggris.

Kopites yang sangat aku hormati dan cintai...

Air mataku saat menghadapi Crystal Palace sangat tulus. Aku mencintai tim ini seperti aku mencintai orang tua, istri, dan kedua anakku. 30 gol yang aku buat memang karena aku harus bermain maksimal dan memberikan yang terbaik untuk tim yang juga memberikanku harapan untuk menjadi manusia yang lebih beradab. Tapi maaf, jika akhirnya aku tetap harus meninggalkan kota indah ini.

Terima kasih atas cita, cinta, air mata, dan perjuangan kalian yang membuatku merasa dianggap sebagai seorang pemain sepak bola. Chant-chant indah yang dikumandangkan tiap laga, banner serta bendera bergambar sosok diri ini, hingga semua pembelaan semu atas semua masalah yang kubuat. Aku mengerti, sakit hati pasti mengetahui kenyataan ini. Sama seperti apa yang aku rasakan.

Tetapi, pada akhirnya aku adalah pesepak bola yang memiliki mimpi. Aku adalah kepala keluarga yang ingin memiliki anak-anak yang besar dengan nuansa yang memadai. Dan aku bukan sosok yang cukup sabar untuk menghadapi tekanan yang luar biasa besar.

Sejak dulu, aku memiliki mimpi bermain untuk Barcelona. Salah satu tim dengan sejarah dan prestasi luar biasa di eropa. Tidak, aku sama sekali tak bermaksud membandingkan mereka dengan Liverpool, yang aku tahu juga tak kalah besar. Tetapi, ini adalah mimpi. Bahkan mimpi sebelum aku berkostum The Reds. Pun dorongan dari Sofia dan ayahnya yang menginginkanku untuk menyebrang ke Catalan, membuat tekad ini semakin bulat.

Aku hanya bisa meminta maaf karena harus mengingkari janji untuk merasakan atmosfer luar biasa Anfield di Liga Champions. Aku harap kalian semua bisa mengerti dan tak menganggap aku seburuk pemain yang berkhianat di menit terakhir transfer itu. Setidaknya, aku memberikan waktu kalian untuk mengetahui fakta yang terjadi dan alasanku untuk pergi. Apa pernah si Pirang itu membuat surat seperti ini? Alasan dia pergi meninggalkan kalian saja masih tak jelas sampai detik ini.

Adalah sebuah kebanggaan besar pernah merasakan jersey merah yang melambangkan semangat tinggi. Steven Gerrard adalah kehidupan. Dia faktor kunci mengapa Liverpool masih memiliki identitas sebagai klub besar hingga saat ini. Tanpanya, mungkin aku akan hengkang lebih cepat.

Jika ada yang patut kalian syukuri, bukanlah sempat memilikiku. Namun, memiliki seorang manajer istimewa bernama Brendan Rodgers. Dia adalah sosok yang bisa membuat para pemain mengeluarkan kemampuan terbaik. Tanpanya, aku tak akan tampil seistimewa musim lalu. Tanpanya, Liverpool tak akan mampu jadi pesaing juara engan skuat seadanya. Tanpanya.... Jangan sampai "tanpanya" menjadi benar-benar terealisasi. Jika ada sosok yang harus kalian jaga, dia adalah B-Rod (Hati-hati karena aku mendengar kabar FA mulai muak dengan Roy Hodgson).

Akhir kata, selamat tinggal Kopites. Cinta memang jahat dan begitulah faktanya. Aku harus pergi menggapai cinta yang lain, tapi selayaknya cinta, pelakunya tak akan mampu melupakan kisah yang sudah terlewat. The Reds akan selalu ada dalam hati dan menjadi kenangan indah dalam perjalanan karier ini. Lupakan aku sebisa kalian. Pasti akan ada sosok yang tak kalah luar biasa dan menjadi pendamping Gerrard untuk mengangkat trofi Premier League nantinya. Adios, Liverpool FC.


                                                                                                                                Sincerely, Luis Alberto Suarez Diaz
Read more ...

16 June 2014

"Kita Dipaksa Menonton Timnas Inggris"



Tak ada yang lebih indah ketimbang menjadi fans netral pada Piala Dunia kali ini. Tak bermaksud untuk menjadi sombong dengan tak memiliki tim jagoan dan berkata bahwa negara yang kami dukung hanya Timnas Indonesia, tetapi ketika anda menjadi sosok netral, akan banyak titik menarik yang bisa ditelisik. Entah titik negatif maupun positif.

Entah mengapa, saya tak terlalu tertarik dengan timnas Jerman pada kompetisi ini. Ya, saya menyukai cara Jerman dalam mengembangkan kompetisi, pemain muda, hingga teknologi sepak bola mereka, dan memutuskan menjadi pendukung mereka sejak 2010 lalu (Fuckin Glory Hunter, Yes I'm), tetapi entah. Untuk saat ini, tak ada satu tim pun yang memaksa saya untuk harus menontonnya, termasuk Jerman.

Terperangkap dalam fanatisme tak selalu menyenangkan. Sudah merasakan hal ini pada level klub, menjadi objektif pada level internasional dirasa menjadi pilihan yang paling bijak. Namun, bolehkah saya berkata bahwa fanatisme kepada Liverpool membuat kami terpaksa untuk mengikuti sebuah negara yang Overrated di Piala Dunia?

Ketika Piala Dunia atau Piala Eropa bergulir, banyak fan sebuah klub terpecah untuk membela negara-negara tertentu. Khusus The Reds, cukup banyak fan yang memilih untuk menjadi penggila The Three Lions. Bukan tanpa alasan memang, ketika Inggris membawa enam pemain Liverpool ke Brasil pada perhelatan ini. Tak terbatas pada tahun ini saja, membela sebuah tim dari negara tertentu membuat kita lebih memilih negara apa yang kita dukung dalam kompetisi sepak bola seperti ini. Tinggal ikuti negara dari klub yang kita dukung.

Tetapi, ada mereka yang memang memiliki antusiasme luas akan sepak bola dan memilih negara-negara di luar klub favorit. Bahkan, memilih negara dimana tak ada pemain dari klub favorit mereka di dalamnya. Fan The Reds yang membela pelbagai negara pun cukup beragam, terpecah secara teratur.

Anda acap menghina timnas Inggris. Wajar melihat negara yang berisikan banyak pemain bintang ini tak mampu berbuat banyak pada kompetisi internasional pada sepak bola modern. Prestasi terakhir mereka terjadi 1966. Sudah cukup lama. Fabio Capello, pelatih kelas dunia sudah mencoba memimpin tim ini tapi tak juga berhasil. Saat ini, pelatih paling berpengalaman tanpa prestasi yang memadai mencoba peruntungannya. Timnas Inggris mencoba meraih sesuatu bersama Roy Hodgson.

Tapi, akan terjadi perbedaan signifikan pada Piala Dunia kali ini. Menilik dari laga pertama Inggris vs Italia, yang saya yakin ditonton oleh semua fan Liverpool, rasanya Inggris akan memaksa Kopites untuk mengikuti mereka di ajang ini.

Timnas Inggris saat ini tak bisa dimungkiri sangat terpengaruh oleh Liverpool. Memanggil Steven Gerrard, Glen Johnson, Jordan Henderson, Daniel Sturridge, Raheem Sterling, hingga pemain anyar Rickie Lambert, menjadi bukti sahih. Itu belum termasuk Jon Flanagan yang berada di skuat tunggu sebelumnya dan psychiatrist seperti Steve Peters yang ikut membantu The Three Lions.

Pengaruh Brendan Rodgers yang berhasil memberikan efek signifikan atas kemajuan Liverpool musim lalu membuat Hodgson tak memiliki pilihan. Rodgers membuktikan bahwa pemain-pemain Inggris memiliki kemampuan taktikal yang mumpuni, tak seperti pandangan kebanyakan orang yang menganggap pemain Inggris hanya bermain seadanya dengan Kick and Rush kuno.

Inggris asuhan Hodgson tak akan mampu menyamai filosofi Liverpool di tangan Rodgers. Namun, setidaknya The Owl bisa memasukkan sedikit unsur The Reds di timnya kali ini. Terlihat saat laga melawan Italia. Meski Gerrard tak terlalu maksimal, Henderson terbilang melakoni perannya dengan sangat baik dalam menyeimbangkan lini tengah. Menempatkan Sterling sebagai trequartista juga pilihan jitu melihat sang pemain menjadi sosok paling berbahaya di skuat Inggris saat itu.

Daniel Sturridge? Terlihat sang pemain menjadi sosok yang paling berupaya keras menembus Catenaccio Italia yang akhirnya terlihat pada laga tersebut. Gol semata wayang Inggris pun datang dari striker Liverpool itu. Sayang, Sturridge mengalami cedera dan harus ditarik keluar. Sterling kehabisan tenaga pada babak kedua. Dan Glen Johnson, ya Glenjo tetap menjadi Glenjo seperti biasa, tak ada gunanya.

Banyak pundit dalam negeri maupun luar berkata bahwa Inggris memerlihatkan permainan atraktif yang tak pernah mereka lakukan sejak 2002. Meski takluk, Inggris takluk dengan mengesankan, walau bagi saya kalah adalah kalah. Terlepas dari permainan tim tersebut cantik atau buruk.

Ketika Anda melihat starter The Three Lions didominasi pemain Liverpool dan Everton, dan hanya ada satu pemain Manchester City, Chelsea, dan Manchester United di dalamnya, Anda sebagai fan Merseyside Red pun tak memiliki pilihan untuk melewatkannya. Meski minat anda bukan di Timnas Inggris, tapi Anda terpaksa untuk menonton dan mengintip performa penggawa The Reds di level timnas.

Anda akan mudah meledek Woy karena kebodohan-kebodohannya dalam mengambil putusan. Atau karena dinamika ekspresi dia berada satu tingkat di atas David Moyes. Tetapi, Anda tak bisa memungkiri bahwa cara Moyes mentranformasi tim yang berisikan banyak pemain Liverpool dan pemain muda menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak.


Kita semua bebas menghina Hodgson, timnas Inggris, Wayne Rooney hingga Danny Welbeck. Tetapi, jangan pernah menyangkal seburuk apapun tim ini, mereka akan memaksa kita untuk menonton tiap kiprahnya di Piala Dunia. Dan ada sedikit doa untuk Steven Gerrard mengangkat piala yang paling sulit diangkat ini.
Read more ...

30 May 2014

Surat Terbuka untuk Steven Gerrard


Semesta menjadikan Jumat, 30 Mei ini sebagai hari spesial. Jumat Barokah. Mungkin itu istilah yang tepat bagi kaum muslim. Atau Jumat Agung, walau tak seagung makna sebenarnya bagi umat kristiani. Tepat 34 tahun yang lalu, Tuhan menurunkan seorang yang menjadi harapan bagi Kota Pelabuhan di Inggris, Merseyside. Tepat 30 Mei 1980, Steven George Gerrard, lahir ke muka bumi ini.

Tak perlu menceritakan sekelumit perjalanan karier Gerrard di lapangan hijau. Saya yakin, fan Liverpool maupun fan sepak bola secara umum sudah mengetahui seperti apa perjuangan sang pemain. Izinkan saya untuk mencurahkan isi hati secara penuh kepada kapten Liverpool tersebut. Lewat surat terbuka ini:

Dear, Stevie G. Mungkin sudah beribu salam hangat dan surat akrab yang mendatangi rumahmu hari ini. Engkau pun diyakini tak terlalu memikirkan hari ulang tahun dan fokus untuk memimpin skuat Inggris yang sedang menjalani pemusatan latihan. Karena siapa lagi yang bisa membuat semangat para penggawa menggebu selain dirimu di tim? Roy Hodgson?

Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin melihatmu mencetak gol perdana solo run yang istimewa. Rasanya baru kemarin melihat engkau diangkat menjadi kapten termuda. Baru kemarin melihat seorang memberikan seluruh keringat dan motivasi sehingga Liverpool mampu bangkit di tanah Turki.

Semua telah engkau raih. Semua trofi selain Premier League pada level klub. Kau juga sempat berkata bahwa akan sulit mengangkat trofi BPL pada sepak bola modern, yang ironisnya kau sanggah sendiri pada akhir musim ini. Jangan pernah sembunyikan mimpi, Stevie. Jangan tiru diriku yang menjadikan pesimistis sebuah harapan untuk kebahagiaan.

Menahan kejemawaan adalah hal paling sulit di dunia. Anda semua tentu tahu perjuangan Gerrard mengangkat Liverpool seorang diri pada masa-masa sulit beberapa tahun terakhir. Sebagai anak lokal Liverpool, mimpinya menjadikan The Reds kampiun lokal penuh dengan aral melintang. Tak kaget jika melihat air matamu yang tertahan bertahun-tahun lepas saat Liverpool mengalahkan Manchester City.

Hope. Mungkin itu yang engkau lihat setelah laga itu. Harapan untukmu mengangkat trofi indah yang ditunggu sejak lama. Seorang Gerrard yang dingin dan berwibawa, menyelesaikan perang dengan air mata bahagia, bagaimana kami tak ikut menangis melihatmu seperti itu? Sayang, Tuhan belum merestuimu untuk mewujudkan mimpi itu pada musim 2013-14. Tak apa, rumput kadang terlalu licin untuk dipijak. Tapi, api semangat akan terus berkobar hingga waktu yang tak ditentukan.

Usiamu tak muda lagi. 34 tahun adalah usia senja untuk pesepak bola. Tak semua pemain mampu tampil maksimal pada usia tersebut. Bahkan ada yang sudah memilih pensiun. Tapi aku tahu hasratmu masih sangat besar. Engkau sangat berhasrat mengangkat trofi di Brasil nanti. Bernafsu membawa Liverpool menjadi yang terbaik di Inggris. Sebagai pemain kelas dunia, kesetiaanmu sudah melebihi rata-rata. Tak ada yang mudah. Tak apa. Tuhan selalu memberikan reward kepada orang yang tak lelah dalam berusaha. Kesabaran tak ada batasnya dan diujung kesabaran itu, pasti ada keindahan yang tak terjamah perasaan.

Dear, Stevie G. Namamu mungkin sudah tak tersentuh oleh para fan The Reds. Posisimu sudah setara dengan Zeus. Apapun yang kau lakukan, baik atau buruk, hanya akan membuat kami tersenyum. Melawanmu sama dengan bunuh diri. Tetapi, boleh kami sesekali merasa kesal? Cinta yang baik adalah cinta yang mampu memperbaiki satu sama lain. Cinta tak selalu bahagia. Jika engkau melakukan salah, boleh kami sedikit menyerangmu? Bukan menjatuhkan, tetapi untuk memastikan bahwa engkau bisa cepat bangkit dari lubang.

Toh pada akhirnya engkau tetap sama. Engkau tetap menjadi idola. Engkau tetap menjadi contoh pemain paling setia di muka bumi. Engkau tetap Steven Gerrard, kapten Liverpool.

Doa itu universal kan? Aku baru sekali tatap muka dengan Gerrard, itu pun saat keangkuhan sedang menyelimutimu di bilangan hotel di Jakarta, tahun lalu. Tapi, doa akan terus aku haturkan untuk sesosok idola. Persetan dengan sikapmu saat itu. Doa sederhana. Karena kami hanya bisa berusaha lewat doa, sedangkan engkau harus berusaha melalui tenaga dan perjuangan tiada tara.

Tuhan, jika memang engkau maha segalanya, berikan satu tanda mata terindah untuk orang yang telah berjuang untuk tanah kelahirannya sejak lama. Berikan dia satu kebanggaan terbaik dan terepik dalam sejarah prestasi di dunia. Sehingga kami bisa melihat senyum paling lepas saat dia memutuskan untuk pergi dari sepak bola.

Selamat hari lahir, Steven Gerrard. Mungkin aku adalah orang paling menyebalkan belakangan ini. Menghakimimu saat performa sedang tak maksimal. Membanding-bandingkan dan menyadari engkau tak pantas dipuja laiknya sang pencipta. Hingga, terus mengingat adegan memalukanmu di Anfield saat menghadapi Chelsea dan memudarkan harapanmu sendiri. Tetapi, itu semua hanya tanda cintaku yang teramat besar. Semua itu hanya bumbu bahwa hubungan tak selalu adem ayem laiknya suasana pedesaan. "Pedas" itu hanya menambah rasa hormat dan cintaku kepadamu. Semua demi kebaikan. Tetap semangat dan terus berjuang demi sisa-sisa mimpi yang engkau dambakan, Steven George Gerrard.
Read more ...

14 May 2014

Tampar Biar Sadar


Plaak!! seorang ibu menampar muka anaknya yang akhirnya terbangun dari tidur. Bukan, tamparan bukan tindak kekerasan. Sang ibu hanya berang melihat anak lelakinya sangat gemar tidur dalam satu tahun terakhir. Karena pekerjaan sang anak berbeda dengan pekerja pada umumnya, yang harus memiliki aturan masuk pagi pulang sore atau malam, maka anak lelaki bandel ini kerjanya hanya makan tidur makan tidur, kemudian baru menikmati hidup ketika matahari terbenam dan langit menunjukkan keindahan bulan.

Plaak!! Tamparan kedua akhirnya membangunkan sang anak. "Kamu tuh yaa, kerjanya pulang larut terus semalaman. Hidup bukan sekadar Bali Hai nak. Makan sana," omel sang ibu. Si anak pun dengan setengah sadar dan emosi yang tertahan, mencoba bangun dari tidur yang tidak nyenyak. Terhuyung dia menuju kamar mandi untuk sedikit memainkan penis demi keluarnya sisa-sisa alkohol berupa pipis. Kemudian dia basuh muka dengan air jernih dari keran wastafel. Pyaar, Pyaar, Pyaar!

Seiring dengan air yang membuat mukanya segar, hatinya langsung terpatri kepada satu hal. Satu hal menyesakkan yang membuatnya terperangah kepada burung-burung peliharaannya. Kakinya mendadak berat. Dia terjatuh dengan keras ke sofa ruang bawah. Otaknya memikirkan semua momen di malam sebelumnya. Sebuah momen menyakitkan laiknya sebuah tamparan dari Tangan Budha Stephen Chow di Kungfu Hustle.

Liverpool. Liverpool. Liverpool. Adalah alasan utama anak ini mengalami frustrasi yang teramat sangat pagi itu. Sebagai fans sejati The Reds, dia belum bisa menerima kenyataan bahwa tim idolanya gagal juara. Gagal setelah mengalami musim terbaik selama 10 tahun terakhir. Perasaan Don, nama sang anak, campur aduk. Melewati laga terakhir dengan kemenangan dramatis karena comeback, tapi gagal juara akibat kemenangan Manchester City atas West Ham United, hatinya terbelah dua. Logikanya jalan dengan teratur, tapi kekecewaan tak bisa ditutupi. The Reds, tim kesayangan Don, harus kembali gagal meraih trofi Premier League.

Pagi itu menjadi pagi yang amat panjang bagi Don. Pikirannya ngalor ngidul mencoba meratapi, menganalisa, hingga mencari-cari alasan yang tepat mengapa Liverpool kembali harus menunggu. Menunggu meraih satu trofi itu. Membuka timeline twitter dirasa bisa membantu. Tetapi apa, yang ada adalah hiburan-hiburan penuh ilusi. Pujian-pujian yang menyerupai topeng badut yang menakutkan.

Ya, target Liverpool awal musim adalah finis di peringkat empat yang berarti lolos Liga Champions. Dan finis di peringkat dua adalah prestasi yang jelas membanggakan. Luis Suarez menjadi PFA Player of The Year, Premier League Player of The Year, Top Skorer, dan FWA Footballer of the Year. Steven Gerrard kembali ke permainan puncak dan menjadi raja assist di Premier League dengan 13 assist. Brendan Rodgers melengkapi prestasi setelah terpilih sebagai Manajer terbaik versi LMA. The Reds pun mampu mencetak 101 gol musim ini. Permainan atraktif pasukan Brendan Rodgers, seyogyanya membuat bangga para suporter. Ya, kami bangga, tetapi rasa kecewa itu masih sangat terasa.

Pikiran Don terus berputar. Dia mencoba menjadi sosok yang bijak dan bersyukur atas prestasi tim kesayangannya. Tapi, hati tak bisa bohong. Pagi itu, dia terbayang-bayang tekel keras Jordan Henderson ke kaki Samir Nasri. Kemudian, muncul bayang-bayang Steven Gerrard yang terpeleset di rumput yang menemaninya sepanjang karier. Lalu muncul Hantu Istanbul yang berwujud Selhurst Park.

Plaak!! Plaak!! Plaak!! Don kali ini menampar-nampar diri sendiri. Tamparan yang membuat kedua pipinya memerah semirip Sir Alex Ferguson saat tahu Manchester United finis peringkat tujuh. Entah masih setengah mabuk, atau merasakan sisa pusing, Don belum bisa move-on. Hari senin itu bisa dibilang sebagai Senin terburuknya di tahun 2014. Ditambah cuaca mendung yang membuat suasana rumah semakin kelam.

Mencoba mencari kegiatan, Don membuka video para pemain Liverpool saat melakukan Lap Of Honour setelah laga terakhir melawan Newcastle. Alih-alih mendapat hiburan dengan melihat para pemain bersama keluarganya berterima kasih pada fans dan saling berfoto, air mata malah mengalir dari mata Don. Bukan, bukan karena Aly Cissokho yang meminta Gerrard berfoto bersama atau Martin Skrtel yang melempar sang anak seenaknya. Pun Brendan Rodgers yang melempar bola persis ke muka anak perempuan Glen Johnson.

Tetapi ketika melihat ekspresi Steven Gerrard saat itu. Tak ada senyum tulus. Tak ada kebahagiaan. Sorot matanya seperti orang yang yang berada di tengah padang gersang. Applausenya ke penonton seperti permintaan maaf tanpa suara. Gerrard tak bisa bohong. Hati berbicara lewat mata. Berbeda dengan Rodgers. Sang manajer memberikan penghormatan kepada seluruh fans sambil berkali-kali menepuk dada. B-Rod seperti berkata "Ini hanya sebuah awal dari pelbagai kebanggaan yang akan datang dalam beberapa tahun ke depan". Dua orang ini membuat Don menangis di pagi yang akhirnya hujan. Semesta mendukung. Ya, semesta merasakan sakit yang sama dan belum mengizinkan Liverpool juara. Pahit.

Tak berhenti disitu, Don juga mendengar wawancara Claire Rourke bersama Daniel Sturridge. Stu adalah sosok yang membuat pernyataan paling jujur. Dia mengatakan sangat kecewa karena gagal membawa Liverpool juara. Pada semua olahraga, juara dua tak pernah dilirik. Sturridge tidak mencoba menghibur fans, tetapi dia mengatakan segala yang dirasakan dengan objektif. Permintaan maaf pun diutarakan Stu kepada seluruh fans. Dia berjanji bersama Liverpool musim depan, akan berjuang lagi dan lagi.

Pun dengan pernyataan menarik Rodgers saat menerima penghargaan Manajer Terbaik versi LMA. Dia berkata lebih memilih berada di bus tak beratap pada malam itu ketimbang menerima penghargaan. Ya, terlepas dari pelbagai pernyataan bijak khas sang manajer, sakit hati dan kekecewaan jelas ada di hatinya. Pelik, sakit.

Pagi itu berjalan begitu lambat. Tamparan di hati Don mengakibatkan sakit yang bertahan lama. Bukan tak bersyukur, tapi Don adalah sosok yang penuh mimpi dan harapan. Dia tahu, tak akan mudah bagi Liverpool untuk mengalami musim yang sama seperti musim ini. Tamparan hati yang lebih terasa ketimbang tamparan di pipi.

Ya, setidaknya ini adalah tamparan pelajaraan. Tak ada tamparan yang satu rasa dengan kecupan, tetapi, efek sebuah tamparan bisa jauh lebih positif untuk pembelajaran ketimbang kecupan yang berujung peraduan di ranjang.

Tamparan yang tak hanya dirasakan Don, tetapi seluruh fans Liverpool, dari yang mencoba sabar dan menghibur diri, hingga yang menangis sesenggukan penuh kekecewaan. Tamparan ini juga dirasakan seluruh pemain dan staf The Reds. Mengalami musim istimewa, membuat pelbagai rekor menawan, tetapi gagal mengangkat mimpi dan harapan selama 24 tahun. Tampar biar Sadar!

"DOONN!! Sudah jam 10.30, cepat makan!!" Ibu Don kembali menyadarkan sang anak yang merenung cukup lama. Akhirnya, banyaknya tamparan membuat Don sadar akan pelajaran berharga dari kekecewaan itu. Plaak!! Tamparan keras terakhir ke pipi sendiri berakhir senyuman dari muka Don. Beranjaklah dia ke meja makan, mencoba melupakan, dan memakan Indomie Kari Ayam dengan penuh kesadaran.

Written by: @redzkop
Read more ...

25 April 2014

Medali Tanpa Hati dari Livi



Malam kini selalu berlari. Bersama kilat-kilatnya, Tuhan selalu mengasihi hambanya dengan cara tersendiri. Tak ada waktu bagi diri untuk menikmati indahnya malam hari. Setelah dua bulan penuh keindahan, aku kembali harus menopang kaki yang berat ini.

Hari-hariku kembali hampa. Malam selalu kuhabisi di sebuah bar samping pelabuhan untuk menikmati setidaknya 5 gelas bir. Frustrasi itu kembali muncul. Pelampiasan. Mungkin. Hidupku terlalu berat untuk dijalani secara normal. Melihat dia bahagia dengan orang lain secara dekat, hatiku hancur berkeping-keping.

Setelah menjalani dua bulan penuh keindahan, kembalinya sosok senior membuat sang bidadari kembali berpaling. Sosok yang sebenarnya tak lebih baik dariku. Memang, dia memiliki pengalaman segudang, wajah hitam british, serta tato disekujur lengan. Macho. Ya, dia jauh lebih menarik di segala sisi ketimbang diri ini. Belum lagi bocah lokal yang terus menerus memberikan progres positif dan membuat bidadari tak mampu memalingkan mata darinya.

Gleni dan Flani menjadi prioritas sang putri saat ini. Flani, aku memaklumi karena sosok ini memang memerlihatkan wujud nyata sebuah cinta dengan semangat dan ketulusannya. Aku cukup dekat dengan Flani. Kami beberapa kali berbincang dan dia tak seperti bocah 21 tahun, karena sangat dewasa. Wajar Livi kesemsem dengan dia.

Namun, Gleni?? Sang pencari sensasi. Dia sangat senang menunjukkan aksi-aksi cinta yang buat semua orang emosi. Belum lagi Gleni acap membuat hal merugikan untuk Livi. Apa karena dia sudah tua? Waktunya sebentar lagi habis? Maka ayah Livi lebih senang anaknya dekat dengan Gleni? Wake up, aku, Aly, jauh lebih baik dari Gleni.

Emosi di kepala sudah memuncak. Wajahku yang kotak semakin terlihat trapesium saat ini. Efek alkohol berlebih? Mungkin. Aku tak peduli. Masa depan bersama Livi sudah semakin menjauh dan tak terlihat.

Aku mengerti, Ayah sang putri sedang fokus demi mahkota kehormataan yang tak pernah dirasakan 24 tahun terakhir. Waktu yang sangat lama untuk putri secantik Livi. Tiga kontes lagi menuju puncak kebahagiaan keluarga ini. Livi akan mendapat mahkota bertahta emas. Sedangkan aku dan para pesaing bakal meraih medali kehormatan. Medali yang jelas membuat para wanita-wanita di negeri lain berkecamuk hatinya.

Namun, itu bukan masalah penting bagiku. Tak ada yang lebih penting di hati ketimbang Livi. Tak peduli sekarang dia tak menanggapi atau cuek sama sekali. Cinta ini tak pernah habis untuk Livi. Tak ada prasangka di benakku untuk hidup bersama putri lain. Meski kenyataan membawaku ke arah sana.

Alhasil, aku semakin gila setiap malam di bar. Bir akhirnya hanya jadi pembuka, karena sesosok bartender acap menawari Jack D Gentleman Jack favoritnya. Benar saja, aku tergila-gila dan selalu memesannya tiap malam.

Setiap pagi, dengan kepala berat karena mulai terbiasa dengan Gentleman Jack, aku selalu mendengar sebuah tembang favorit. Tembang yang liriknya berkata: "My Head's under water but i'm breathing fine". John Legend benar-benar lebay membuat lagu ini karena aku tetap tak bisa bernapas di dalam air. Memasukkan kepala ke dalam air dan memikirkan Livi, tidak, aku tetap megap-megap.

Tetapi lagu ini adalah keyakinan. "Cause all of me, loves all of you, Love your curves and all your edges, All your perfect imperfections". Fiuuh, sebuah lagu yang secara bersamaan menjadi harapan dan keputusasaan untuk diri. Sempurna.

Tiga pekan lagi. Tiga pekan lagi sebelum aku pergi meninggalkan Livi. Apa yang bisa aku lakukan ya Tuhan? Haruskah aku menjadi pujangga kasat mata yang cintanya buta dan hilang begitu saja? Melihat Livi bahagia memang lebih dari cukup. Sesuatu yang sudah final dan paling mudah untuk Aly bodoh ini.

Mungkin Tuhan memiliki persepsi berbeda dengan makhluk buruk rupa sepertiku. Mungkin takdirku adalah bersama bidadari lain. Entahlah, aku sudah lelah. Senyumku sudah habis. Jika kalian melihat senyumanku, berarti banyak kepalsuan di dalamnya.

Tugasku saat ini hanyalah duduk, menunggu, sambil berdoa agar Livi bisa mengangkat tahta yang dia tunggu sejak lama. Dia pasti sangat bahagia. Mungkin kebahagiaan yang tak akan pernah aku lihat.


Aku menunggu momen itu, momen spesial Livi. Momen dimana aku mendapat medali tanpa hati dari Livi yang kucintai. Lalu pergi meninggalkan sang bidadari untuk mencari cinta sejati. Cinta sejati yang tak akan pernah kembali ke Livi sang putri.

Written by: @redzkop
Read more ...

11 April 2014

Juara Kita Musim Ini?



Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Suara detik jam dinding bergema di kamar ini. Memejamkan mata selama dua jam sudah cukup bagi saya untuk kembali dihadapkan dengan cahaya kehidupan dari laptop. Menikmati Timeline Twitter berjalan pelan, dengan berita-berita sepakbola didalamnya, menjadi suatu kebahagiaan kecil pemuas diri.

Dua hari menjelang sebuah hari besar. Bukan, bukan pemilu legislatif. Anda juga belum bisa memilih Presiden pada minggu nanti, meski kita semua sudah tahu siapa pengganti ayah nobita. Minggu (13/4) bakal menjadi hari besar bagi seluruh pendukung Liverpool di dunia. The Reds siap menjamu Manchester City di Anfield.

Jujur, ketika terbangun tiap pagi sepanjang pekan ini, fokus diri sudah tertuju ke laga tersebut. Sebuah laga yang menurut beberapa pihak sama pentingnya dengan Final Istanbul 2005. Liverpool menjadi sangat berpeluang mengangkat trofi BPL jikalau berhasil menundukkan The Citizens. Pun sebaliknya dengan Man. City, yang bakal menjadi tim paling berpeluang juara jika memenangkan laga itu.

Bukan menanggalkan empat tim yang akan dihadapi setelahnya. Tetapi, kemenangan melawan The Citizens bisa membuat mental dan kepercayaan diri The Reds semakin kuat. Mereka akan semakin solid dan membuat tim lain gentar dengan kesederhanaannya. Bukan rahasia lagi bahwa Liverpool adalah tim yang paling diharapkan untuk juara oleh kaum netral. Liverpool menjelma menjadi Borussia Dortmund dan Atletico Madrid, sebagai tim yang dicintai karena filosofi permainan, maupun kinerja di luar lapangan.

Sudah terbayang di benak ini atmosfer Anfield pada hari itu. Bom asap segudang, banner-banner istimewa, chant-chant yang bergema sejak bus tim memasuki Anfield. Belum lagi bakal ada tribut khusus terkait tragedi Hillsborough pada pertandingan tersebut. Ketika fans seperti kita saja sudah harap-harap cemas bercampur antusias, bagaimana para pemain? Mereka pasti tak sabar untuk memberi penampilan istimewa untuk 96 malaikat.

Hebatnya, Brendan Rodgers adalah manajer yang mampu memberikan ketenangan kepada tim. Dia sempat berkata sangat senang dengan tekanan saat ini. Sebuah tekanan yang tak pernah dia rasakan dalam karier kepelatihan. Sebuah pressure yang malah membuat sang manajer semakin menggebu-gebu ke arah positif. Para pemain pun akhirnya tertular. Tak ada ketegangan, malah antusiasme tinggi yang terjamah saat ini. Antusiasme untuk memberikan yang terbaik minggu nanti.

Anda tentu melihat banyak kejadian menarik pekan ini. Dari foto jenaka yang di upload Daniel Sturridge, dimana dia, Raheem Sterling, Jon Flanagan, dan Jordan Henderson, bergaya masing-masing. Belum lagi ada launching jersey anyar yang unik dan lucu. Menariknya pemain sudah dapat memilah antara kepentingan di dalam dan luar lapangan. Konsentrasi mereka tak terpecah. Fokus tanpa memikirkan tekanan. Kunci Liverpool musim ini.

“This is definitely the biggest game of my career. Playing Manchester City at Anfield in a top of the table clash with both teams going for the title, it doesn’t get any bigger. I’ve got great memories of the first time I faced City. Walking out at Anfield that night was very special. I only found out I was definitely playing when Kenny Dalglish told me two hours before kick-off. There were a few nerves but as the game went on I settled and just focused on doing my job. Winning 3-0, it was a brilliant night to be part of. I’d settle for the same result on Sunday,” ungkap Jon Flanagan kepada Echo. Nada menggebu terdengar dari pernyataan tersebut.

Jujur, momen musim ini belum pernah saya rasakan sepanjang mengikuti Liverpool. Rasanya berbeda dibanding musim 2008-09. Kepercayaan dirinya berbeda. Posisinya berbeda. Kondisi tim rival pun berbeda. Tak usah membandingkan poinnya, tetapi lihat hasrat dan cara The Reds bermain musim ini yang selalu mencengangkan mata. Laiknya wanita berkacamata yang selalu menarik untuk disapa.

Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang melihat kelakuan para fans Liverpool belakangan. Aura positif menyebar di seluruh aspek. Entah Sosial Media atau kehidupan nyata. Sesuatu yang hilang cukup lama. Kebangkitan yang ditunggu telah tiba. Kami berharap juara, tetapi prestasi saat ini sudah cukup untuk tersenyum manja. Para pemain muda istimewa. Steven Gerrard yang kembali muda. Dua striker luar biasa yang membuat kita semua jemawa. Sungguh perasaan yang tak pernah ada sebelumnya.

Mengangkat trofi akan sangat indah pada akhirnya, tetapi kita semua telah berada dalam kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan mendasar bahwa The Reds sudah bangkit dari masa-masa hampa. Liverpool kini sudah mulai menarik minat fans-fans baru sepakbola. Siapa yang tak mau mendukung Liverpool yang tak perlu dana melimpah untuk bermain indah? Cukup melihat poling juara di beberapa situs olahraga Inggris seperti Mirror, maka mereka membuat prediksi bahwa Liverpool yang paling diinginkan mengangkat trofi BPL.

Bukan bermaksud egois. Tetapi, musim ini jelas musim yang sangat tepat bagi The Reds untuk bangkit. Melihat banyak tim pesaing yang masih beradaptasi dengan manajer anyar. Belum lagi rival abadi seperti Manchester United yang terpuruk. 2013-14 menjadi musim yang membahagiakan. Bayangkan euforia yang terjadi jika mimpi yang dinanti benar-benar terjadi. Bayangkan Stevie G mengangkat trofi dengan pasti.

Ketika fans Setan Merah tak terbiasa membela diri dan mencari alasan tepat karena kiprah timnya yang jeblok, sama dengan beberapa fans The Reds yang masih harap-harap cemas, dan setengah tak percaya dengan musim ini. Ketika memiliki dua striker yang telah mencetak 20 gol lebih masing-masing. Ketika banyak pemain muda berbakat yang tampil istimewa. Ketika Steven Gerrard mencapai level terbaiknya kembali dengan 13 gol dan 9 assist. Pensiunnya Jamie Carragher pun langsung tergantikan bocah lokal seperti Jon Flanagan yang tak disangka begitu impresif.

Saya belum terbiasa membela sebuah tim seperti ini. Sehingga keraguan dan pesimisme masih acap datang. Ketika Liverpool kesayangan anda berubah menjadi luar biasa, anda akan kaget dan beradaptasi ulang. Sejauh ini kalem dan enjoy adalah cara utama untuk tetap mendukung tim. Namun, keyakinan semakin besar bahwa The Reds telah kembali ke jajaran tim yang patut diperhitungkan bersama B-Rod.

Tuhan, jikalau memang ini adalah tahun kami melepas kesabaran, berikan sebuah pelepas dahaga tak terlupakan dalam bentuk penghargaan istimewa, dengan cara yang spesial, setelah melewati jalan yang terjal. Karena kami percaya, kesabaran tak ada batasnya dan di ujung kesabaran terdapat kebahagiaan yang tak terjamah perasaan.

So, Juara Kita Musim Ini?


Written By: @redzkop
Read more ...

12 March 2014

North West Derby: Mencoba Optimistis



Tiga hari ke belakang menjadi hari yang cukup berat untuk saya. Entah karena dosa terlalu banyak menghujat manajer klub Setan, atau memang kondisi tubuh yang menurun drastis, saya hanya tergolek lemas di tempat tidur dalam tiga hari super membosankan itu.

Tenggorokan rasanya seperti diserang tusukan mematikan trio SSS Liverpool yang sedang on-fire saat ini. Tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati rasa sakit yang ada. Pun batuk dan pilek yang tampil cukup stabil laiknya The Reds yang baru sekali terlempar dari empat besar sepanjang musim ini.

Karena hanya bisa, tidur, makan, tidur, makan, maka pikiran mulai terfokus pada sebuah laga akhir pekan nanti. Sebuah laga yang tentunya sangat ditunggu oleh Kopites dan para fans Manchester United. Pertemuan ketiga musim ini antara Liverpool dengan Man. United yang dihelat di Old Trafford.

Sebuah laga yang sebenarnya menjadi seru karena rivalitas antar keduanya saja. The Reds berada di peringkat kedua dengan 59 poin sementara Setan Merah ada di peringkat enam dengan 48 poin. Sesuatu yang jarang terjadi karena dalam beberapa tahun terakhir pertemuan keduanya, Man. United yang selalu berada di atas Liverpool.

Tak ada beban yang teramat besar bagi keduanya pada laga tersebut, selain gengsi. Liverpool tentu ingin meneruskan momentum apik tak terkalahkan di Premier League pada 2014. Pun tiga poin pada laga tersebut akan terus menghidupkan asa para fans yang sangat yakin The Reds bisa mengangkat trofi Premier League musim ini, dan terus mendongak ke atas bukan melirik ke bawah klasemen.

Setan Merah sendiri saat ini berselisih sembilan poin dengan Manchester City (yang memiliki tabungan tiga laga) di pos keempat. Mereka juga bakal meladeni match hidup mati melawan Olympiacos pada midweek setelah laga kontra Liverpool tersebut. Konsentrasi David Moyes dipastikan terpecah. Mana yang jadi prioritas?


Jika saya adalah fans Man. United, maka Ashley Young, Danny Welbeck, dan Antonio Valencia akan jadi prioritas melawan Liverpool. Kemudian, Juan Mata, Adnan Januzaj, Shinji Kagawa, dan Wayne Rooney untuk laga melawan Olympiacos. Anda tentu mengerti maksudnya.

Tetapi mengistirahatkan pemain andalan ternyata tak terlalu berefek besar, melihat AC Milan yang mengistirahatkan sembilan pemain saat laga Serie A demi Liga Champion, pada akhirnya tetap dibantai 1-4 oleh Atletico Madrid. The Chosen One jelas lebih mengerti ketimbang saya. Mungkin 0 poin pada kedua match ke depan adalah pilihan cukup bijak bagi Moyes.

Ah, sebuah tanda tidak bagus. Melihat banyaknya kepercayaan diri dari teman-teman, cukup sukses membawa diri ke tingkat optimisme yang signifikan. Mencoba peruntungan sesekali tak apa dilakukan. Terlalu egois memang diri ini untuk selalu pesimistis dan mengharapkan hasil positif didalamnya. F*ck Myself!

Sebenarnya jika sedikit flashback, rekor Liverpool di OT bisa dibilang cukup bapuk. The Reds hanya sekali menang dari sembilan laga terakhir Premier League di Theatre Of Dreams, sisanya harus bertekuk lutut.

Mengingat Liverpool adalah tim yang paling sering dihadiahi penalti musim ini (7 penalti), Man. United tak pernah kebobolan dari titik putih di kandang mereka itu sejak terakhir kali terjadi 31 Desember 2011. Apalagi wasit yang memimpin nanti adalah Mark Clattenburg, Congratulation Enjoy!

Betapa pentingnya gol cepat pada laga nanti. Seperti yang diketahui, kepercayaan diri The Anfield Boys acap melambung ketika berhasil mencetak gol terlebih dahulu. Masih ingat laga Capital One antara kedua tim musim ini? Laga pertama dimana Luis Suarez comeback dari sanksinya? Saat itu Man. United berhasil menahan Liverpool di babak pertama dan mencetak gol pada awal babak kedua dari kaki Chicharito yang menjadi gol sematawayang.

The Reds mencetak 47 gol pada babak pertama musim ini di PL dimana satu gol lebih banyak dari total gol Man. United yang hanya 46. Apalagi Liverpool menjadi salah satu tim tertajam saat tandang. Hanya Arsenal yang berhasil clean sheet di Emirates dari 16 laga tandang terakhir Merseyside Red.

Sebenarnya saya malas menuliskan beberapa stat ini, tetapi bolehlah sesekali kita membanggakan diri dan optimistis melihat lawannya nanti adalah musuh yang menyebalkan dalam beberapa tahun terakhir.

Ketika perdebatan antar fans yang mendukung klub yang sama mulai terlihat absurd dan aneh, mari kita kembali menyatukan suara demi tim yang dicinta. Pada hakikatnya, banter yang benar adalah banter dengan suporter klub lain. Banter yang masuk akal dan tak lebay tentunya.

Waktunya mengalah atas keegoisan diri, menatap stats positif, momentum istimewa, tanpa rasa sombong dalam diri. Waktunya mendukung tim sepenuhnya tanpa embel-embel tersirat. Be Optimistic this Weekend? Okay Guys, i'll follow u all. Let's go and beat the Satan!


Written By: @redzkop
Read more ...

5 March 2014

Liverpool "Sudah" Juara


"Liverpool Berpeluang Juara! Liverpool tampil istimewa dan tak biasa! Liverpool memiliki permainan atraktif dan menjadi yang ditunggu para penggemar Premier League! Liverpool Tim tertajam di Inggris! Liverpool memiliki duet striker terbaik di Inggris bahkan dunia! Luis Suarez sebanding bahkan lebih baik dari Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo! Liverpool membuat pemain-pemain lokal Inggris terlihat paham akan taktik! Pemain muda terbaik Inggris bermain di Anfield!"

Sebuah musim yang luar biasa. Siapa yang menyangka Liverpool berada di posisi seperti sekarang. Brendan Rodgers sendiri bahkan tak mengira dan memprediksikan Liverpool baru bisa bersaing di empat besar musim depan. Harapan yang telah lama terkubur. Cinta yang lama buta dan tak berbalas.

Sisa-sisa pertandingan Premier League akan jadi sport jantung luar biasa bagi seluruh fans. Seperti kata Daniel Sturridge. Sisa laga adalah final. 10 final tersisa bagi The Reds untuk meraih mimpi. Ketika melihat rekor-rekor buruk patah secara berturut-turut, ketika melihat Liverpool menjadi tim kesukaan suporter netral bersama AS Roma dan Atletico Madrid, sungguh luar biasa.

Segar melihat sebuah harapan datang. Bahagia memandang layar TL penuh dengan nada-nada positif, yang saya pribadi masih sulit melakukannya. Ketakutan yang bercampur dengan antusias besar. Sebuah perasaan bergejolak tiap laga. Mungkin musim ini menjadi musim yang paling menarik dari segala sisi teknis maupun nonteknis untuk Merseyside Red selama saya mengikutinya.

Rodgers saat ini menarik perhatian banyak fans sepak bola. Mengingatkan mereka kepada sosok Jurgen Klopp saat membuat Borussia Dortmund yang nyaris bangkrut kembali ke tempat seharusnya. Rodgers memang tak meluap-luap seperti Klopp. Tapi dia memaksa para fans untuk mengingat ikon Liverpool, Bill Shankly, pada tiap selebrasinya belakangan ini. Kedua tangan diangkat ke atas membentang dengan ekspresi semringah, serupa sang Legenda.

Tetapi, apa arti sesungguhnya display Liverpool saat ini? Juara adalah keinginan semua fans. Sudah siap jadi suporter tim juara? Sesuatu yang mau tak mau, akan membuat kejemawaan itu dengan sengaja diperlihatkan. Anda tak bisa menampik bahwa trofi akan membuat fans sebuah tim semakin banyak. Bisa dilihat progres jumlah fans Liverpool setelah mengangkat trofi Liga Champion 2005. Pun dengan Chelsea setelah mengangkat trofi yang sama pada 2012 dengan pragmatismenya.

Satu yang dapat ditelisik. Liverpool musim ini sudah lebih dari juara menurut saya pribadi. The Reds bermain seperti tim berkembang tanpa cara instan. Melihat berjalannya filosofi B-Rod. Filosofi atraktif dengan banjir gol pada tiap laga. Pun keberuntungan memetik tiga poin meski tak tampil maksimal. Apalagi, bursa transfer Liverpool musim panas dan musim dingin lalu bisa terbilang tak cukup memuaskan.

Ketika uang membanjiri tim-tim besar Premier League seperti Chelsea dan Manchester City. Ketika Arsenal baru mampu mengeluarkan dana segar setelah lunasnya stadion tanpa trofi. Pun Man. United yang memberikan gaji kepada Wayne Rooney tak masuk akal, Tottenham Hotspur yang belanja besar-besaran, Liverpool mematahkan mitos Money Talk tersebut. Gaji anyar Luis Suarez sebesar 200 ribu pounds perpekan pun menjadi terlihat biasa saja.

Entah Blessing in Disguise karena Rodgers mengerti kemampuan Ian Ayre lebih menonjol untuk mencari sponsor komersial, sehingga dia bisa fokus kepada minimnya pemain dan memberi kesempatan beberapa pemain akademi bertalenta. Benar-benar seperti klub sepak bola seutuhnya. Tak modern tapi bertaji. Tak kaya tapi menggigit.

So, saat ini yang patut ditunggu bukan dimana Liverpool finis akhir musim. Tetapi, bisakah kita menikmati The Reds yang semenarik ini pada musim-musim berikutnya? Apakah persaingan di Premier League akan sekeras musim ini pada tahun-tahun mendatang? Menikmati 10 laga sebagai pencinta sepak bola utuh rasanya menjadi yang pilihan yang paling nikmat.

Prediksi saya memang tak pernah tepat. Pun hanya memprediksi The Reds finis peringkat enam musim ini pada awal musim. Tetapi melihat progres istimewa, rasanya dimana pun Liverpool finis nanti tak menjadi masalah. Liverpool sudah juara di hati para penggemar lewat hasrat dan nafsu yang diperlihatkan musim 2013-14.

Tak ada yang tahu masa depan dan apa yang akan terjadi nantinya. Cinta kita kepada tim ini memang tak akan hilang, tetapi, belum tentu Liverpool memberikan timbal balik cinta sespesial musim ini. Mungkin tak akan ada Aly Cissokho dengan senyum cintanya itu musim depan. Mungkin Liverpool akan kembali tertimpa masalah dan tidak stabil. Mungkin Premier League semakin membosankan dan Liverpool dapat juara dengan nyaman tanpa tensi. Mungkin Real Madrid siap menggelontorkan 101 juta euro untuk Luis Suarez. Who Knows?

So, Enjoy the last 10 matches. Sepuluh laga dimana Liverpool sedang berada di puncak semangat. Memang belum menjadi yang terbaik secara kasat mata, tetapi, pasti menjadi tim Juara di hati para Kopites.

Written By: @redzkop
Read more ...