6 Oktober 2010. Liverpool FC resmi bergabung dengan Fenway
Sports Group. Sebuah perusahaan Amerika yang memang berkecimpung di dunia
olahraga. Club baseball di Major League Beseball, Boston Red Sox yang tersohor
itu juga merupakan ‘anakan’ dari Fenway Sports Group. Peristiwa ini disusul
dengan pernyataan dari boss Fenway Sports Group bahwa: “Kami minim informasi
mengenai sepakbola”. Cukup aneh menurut saya.
Paska shock setelah mengetahui bos baru kita tidak mengerti
sepak bola, saya pun mulai penasaran.. Siapa sih yang berada di balik bendera
Fenway Sports Grop ini? Muncullah dua nama; John W. Henry dan Tom Werner.
Research pun berlanjut. Siapa sih John W. Henry ini?
John W Henry adalah businessman Amerika berumur 63 tahun
dengan latar belakang economics knowledge yang sangat kuat. Kalau ditanya apa
profesinya, maka jawabannya adalah: “Businessman”.
11-12 seperti John W. Henry. Tom Werner adalah seorang
‘television producer’ Amerika yang juga diberi label “businessman”.
Setelah melihat profil dua bos kita, saya tetap berusaha
mencoba optimis bahwa Fenway Sports Group akan memberi kita support untuk
kembali merebut tahta kita di liga Inggris. Tetapi apa boleh buat, kenyataan
berkata lain.
16 Januari 2013, mantan petinggi Boston Red Sox yang juga
merupakan ‘karyawan’ dari Henry dan Werner angkat bicara. Dipublikasikan oleh
Dailymail, ex-employee tersebut berkata bahwa Henry dan Werner “sama sekali
tidak mengerti olahraga” dan “mereka tidak mencintai baseball”.
Dari dua pernyataan diatas, saya bisa dengan mudah
menyimpulkan bahwa Henry dan Werner memang tidak peduli dengan sepakbola
Liverpool FC. Bahkan olahraga nasional mereka sendiri mereka tidak peduli,
bagaimana bisa mereka peduli dengan Liverpool FC?
Kekhawatiran saya makin memuncak ketika mengetahui Tom
Werner, seorang TV producer, hanya mementingkan rating Boston Red Sox di TV.
Ketika rating Boston Red Sox turun, Werner kelabakan dan membuat kebijakan,
yang menurut saya sangat absurd.
Singkatnya, Werner memerintahkan manager Boston Red Sox
untuk mendatangkan pemain-pemain sexy. Yap, pemain yang sexy. Kalian nggak
salah baca. Werner percaya dengan memiliki squad yang sexy, rating Red Sox di
TV akan meningkat dan tentu saja akan memberikan keuntungan bagi Red Sox (dalam
arti lain: Memberi keuntungan bagi FSG). Werner menginstruksikan manager Red
Sox untuk membuat Red Sox menjadi tim yang ‘lebih sexy’.
Melihan fakta-fakta diatas, saya benar-benar khawatir akan
masa depan Liverpool.
Saya tidak akan ambil pusing jika owners kita hanya sebatas
‘tidak peduli akan sepakbola’. Setidaknya itu bisa diubah. Mereka bisa
pelan-pelan ‘berkenalan’ dengan indahnya olahraga yang kita cintai bersama ini,
but it breaks my heart knowing that our owners only care about their own interests,
which has nothing to do with us, nor with Liverpool as a football club.
Maybe… Just maybe... Maybe Fanway is not our way.
No comments:
Post a Comment