15 April 2013

Si Bawang Lain Yang Terkupas


Keberanian adalah hal yang sulit untuk dicari. Anda dapat memiliki keberanian berdasarkan pada ide atau kesalahan bodoh. Tapi anda tidak seharusnya mempertanyakan hal tersebut pada orang dewasa, pada guru atau pada pelatih. Karena mereka yang membuat peraturan. Mungkin mereka tahu yang terbaik, mungkin pula tidak. Ini semua tergantung siapa diri anda, dan darimana anda berasal?


Inggris mengklaim diri mereka sebagai Negara pertama yang melahirkan olahraga sepakbola. Tak ada yang menentang, bahkan oleh Negara Brazil yang notabene sebagai pemilik 5 gelar piala dunia. Di Inggris Sepakbola adalah industri. Hal ini terlihat dari ribuan klub di Inggris, mulai dari yang amatir hingga professional. Biasanya klub-klub professional mendapatkan suplai pemain dari klub-klub amatir.

Banyaknya jumlah klub ini tentu berbanding lurus dengan jumlah anak yang bermain sepakbola di Inggris. Namun, dari ratusan ribu anak tersebut tidak sedikit anak/pemuda yang kemudian berhenti. Lebih sedikit yang kemudian bermain di tingkat semi-profesional. Dan hanya segelintir saja yang menginjakkan kaki di taraf profesional, yaitu mereka yang punya kemampuan dan mental diatas rata-rata saja. Bisa kita bayangkan betapa beratnya jalan untuk menjadi pemain profesional di negeri Ratu Elizabeth ini bukan.

Stewart Downing adalah satu dari jutaan anak/pemuda lain yang bisa menjejakan kakinya di tingkat profesional. Lahir di Middlesbrough, kemudian ia tumbuh dan menjadi fans dari klub asal timur laut Inggris tersebut. Downing dibina di akademi klub Middlesbrough. Dimana dia juga pasti melalui berbagai macam tahap yang dilalui para pemain muda lainnya di Inggris. Dari setiap tahap tersebut, kemampuan dan mental seorang pemain akan dibentuk dan terseleksi. Pada umur 17 tahun, ia sudah bermain untuk tim senior. Downing memulai debutnya pada pertandingan liga Inggris melawan Ipswich Town, namun ia hanya tampil beberapa kali pada tahun 2002. Selama periode 2001-2009, Downing dengan setia membela panji Middlesbrough, bahkan dia menjadi pemain kedua terlama yang pernah membela Middlesbrough. Karena Middlesbrough terdegrasi, ia pun memutuskan pindah ke Aston Villa.

Dua tahun membela Aston Villa, gelandang yang memiliki kemampuan di atas rata- rata untuk ukuran pemain kidal, kemudian direkrut King Kenny ke Anfield dengan mahar kurang lebih 18 juta pound. Dasarnya? Dalam catatan Opta, gelandang berpostur ideal, 180 cm, ini mampu mencetak waktu rata-rata 11,2 detik untuk berlari di jarak 100 meter, sepanjang musim 2010. Kaki kidalnya juga sangat berbahaya tatkala mengirim sepakan keras ke arah gawang lawan. Eksekusi free kick-nya juga tergolong istimewa. Keunggulan lainnya yang merupakan modal berharga sebagai pemain sayap, adalah kemampuannya mengirim umpan sempurna untuk tukang gedor. Hal inilah yang dibidik Dalglish, untuk memaksimalkan Andy Carroll dan Luis Suarez kala itu.

Statistik memang tak bisa menjadi tolak ukur mutlak. Peforma musim perdana Downing menjadi bukti nyata. Bermain nyaman dengan kepercayaan tinggi dari King Kenny di sepanjang musim EPL 2011/2012, berakibat pada kaki kidalnya itu yang kemudian bersih dari gol maupun assist. Downing bagai seseorang yang iseng menyerang sarang lebah, akibatnya ia pun di sengat oleh ribuan lebah dengan berbagai cibiran pedas. Lebah-lebah yang mengamuk itu lantas terus menyerang penuh rasa kesal dan seakan tanpa rasa lelah. Bahkan sang ratu baru (Rodgers) pun ikut turun tangan memberikan pelajaran. Tapi apakah mungkin bakat seorang Downing, hasil seleksi alam sepakbola Inggris yang kejam itu kemudian luntur begitu saja?

Dari ujung muka hingga sekujur kakinya habis disengat. Ia seakan sudah lumpuh. Sementara lebah-lebah itu belum berhenti menyerang. Kemudian ia menceburkan dirinya kedalam danau yang penuh lumpur. Disana ia bisa menghela nafas sebentar. Tapi, apakah dia akan mengubur diri bersama dengan semua keberaniannya selamanya didalam lumpur tersebut?

No!

2012/2013 underway! Meski Downing sempat masih harus istirahat di bench. Namun ia kembali dari dalam lumpur bersama dengan keberaniannya. Ia memutuskan untuk bertahan hingga kesempatan datang lagi untuknya. Ia lalu bekerja keras untuk meraih kembali kehormatannya. Kesempatan pertama (lagi) itu pun datang dalam wujud WB defensif. Ia pun dengan legowo memainkan peran tersebut, menggantikan posisi Enrique yang dirundung cidera. Kemudian dengan sedikit kepercayaan, perlahan tapi pasti dia mulai main lebih awal dari bench dan makin sering berada di starting line-up. Gol dan assist juga tak lagi ragu mampir di kakinya. Kita memang tidak melihat langsung bagaimana susahnya dia berusaha. Tapi pasca pertandingan melawan West Ham kemarin (07/04/2013), saya pribadi menyadari segala usahanya tersebut, yang rela memaksakan diri untuk bermain dalam kondisi fitness yang kurang baik.

*Bukankah setidaknya salah satu dari 600 orang berpikir tentang menyerah dan bergabung dengan sisi yang lain? Itulah sebabnya keberanian itu sulit, jika anda selalu melakukan apa yang orang lain katakan. Kadang-kadang anda mungkin tidak tahu mengapa anda melakukan sesuatu. Maksudku sibodoh pun dapat memiliki keberanian. Tapi kehormatan, itulah alasan sebenarnya untuk melakukan sesuatu atau tidak. Ini tentang siapa anda dan apa yang anda inginkan. Jika anda mati karena berusaha untuk sesuatu yang penting, maka anda akan memiliki kehormatan dan keberanian, dan itu cukup bagus. Anda harus berharap untuk keberanian dan mencoba untuk kehormatan.

Banyak berita beredar yang mengatakan bahwa inilah musim terakhir Downing di Liverpool. Kita lihat saja akhir musim ini. Apakah Downing akan tetap hidup di Liverpool atau justru Mati? Yang pasti, bagi saya dia adalah si bawang lain yang terkupas satu lapisannya pada satu waktu.

* Tulisan essay dari Film Blind Side.

@rendynewmanh



2 comments:

  1. sedikit dari para Kopites yang berterimakasih kpd Downing ktka gol dia bantu lfc menang atas Tott (menurut saya). Mereka masih terus 'menyengat' SD19. Tapi semoga dia akan kasih bukti bahwa dia pantas berbaju Merah kebanggan semua Kopites ! Nice article. YNWA :)

    ReplyDelete