(Dulu kamu pernah
bilang, kalo aku itu cewek yang egois. Tapi menurut aku, kamu deh yang lebih
egois. Dulu, kamu pergi dari aku gara-gara aku belum bisa jadi cewek yang
sempurna buat kamu. Terus, kamu lari ke kak Diandra. Kenyataanya, kak Diandra
juga gak bisa kan jadi cewek yang sempurna buat kamu?) (Velin kepada Bara – Radio Galau Movie).
Paragraf diatas merupakan salah satu percakapan dari film
Radio Galau. Ya! saya akhirnya menyempatkan diri menonton film itu. Setelah
selesai, saya mulai berfantasi tentang sosok Bara yang mirip dengan Nando. Lalu
terbit lagilah cerita galau berikut :
Semua
kriteria striker idaman saya ada di Nando. Fix saya jatuh cinta (catat : saya
bukan maho). Striker bertinggi badan 183 cm, bernomor punggung 9 dan selalu stylish dengan rambut blondenya akhirnya
resmi bergabung dengan Liverpool pada tahun 2007 dari Atletico Madrid. Ya! Inggris
akhirnya menemukan kembali sosok flamboyan yang sempat hilang saat Beckham
pindah. Sudah ada Gerrard sebagai idola Liverpool sejak 2005, Tapi sejujurnya,
ternyata masih ada yang kurang lengkap di hati para Kopites. Yakni kebutuhan
akan sosok idola seorang bomber seperti Owen dan Fowler. Dan akhirnya kekosongan
hati fans selama 2 tahun itu akhirnya terisi oleh seorang Nando.
Dari yang
tadinya cuma pengen nonton Liverpool “tok”,
mulai tumbuh rasa “aneh” saat si Nando absen di starting line-up. Bahkan tak jarang bisa mengurangi niat menonton
hingga 70% (fenomena pribadi). Yah harap maklum namanya juga lagi fallin love. Bawaannya pengen ketemu
terus. Musim pertama bersama Nando, semuanya berlangsung MANIS. Musim kedua, masih manis
dong. Masuk musim ketiga, masih “manis”.
Memasuki pertengahan musim keempat, manisnya hilang, berubah jadi pahit!
Imagine this conversation…
Gerrard : Kamu kenapa Nando?
Torres : aku gak papa?
Gerrard : Oh…
Kita yang sudah
punya mantan (bukan jomblo) pasti sudah akrab dengan percakapan diatas. Kalau
seorang wanita anda ketika anda tanya “kenapa?”, rata-rata mereka akan menjawab
“aku gak papa?”. Padahal ada banyak hal ganjil dan mistis dibalik kata “aku gak
papa?”. Dan itu sangat menyebalkan untuk kita kaum adam bukan?
Dari awal
musim 2011, sesungguhnya gerak-gerik “gerah” Nando sudah terbaca. Namun,
kenyataan yang sebenarnya hampir terbuka itu kembali tertutup oleh statement dari Nando bahwa “Liverpool
akan menjadi satu-satunya klub yang dibelanya di Inggris”. We are blinded mate!. Ya, akhirnya dia menyelingkuhi kita dengan si
biru. Rasa jenuh akan kondisi nir gelar, kekurangan dan kehilangan pemain
bintang, serta kegagalan ke UCL ditenggarai jadi pemicu dia meninggal-selingkuhkan
Liverpool. Lalu Nando menemukan sosok klub yang sepertinya lebih “baik” di dalam
tubuh Chelsea. Jika kita memposisikan dia sebagai seorang cowok dan Liverpool ceweknya,
maka alasan-alasan itu terlihat sangat wajar dan masuk akal. Tapi kan pacaran kan
itu gak cuma sekedar senang-senang, tapi sama-sama saling belajar, saling
ngertiin, dan saling kompromi.
Beberapa berita
menyatakan, bahwa Nando sendiri yang mengajukan permohonan transfer ke London
ke pihak manajemen. Tidak perlu membahas tentang bisnis disini, yang pasti
sudah ada kompromi antara Liverpool dan Nando sebelum keputusan diambil. Akhirnya
Liverpool dan Nando pun “putus” tepat pada deadline
transfer 31 Januari 2011. Kalau bukan pihak klub, setidaknya fans Liverpool
sudah mencoba memberikan semuanya untuk menahan Nando. Tapi percuma! kalau
Nando-nya sendiri inginnya terlepas. Sakit! dan sakit itu semakin dramatik saat
tahu kalo he’s never kiss our badge when
he scored! (oh. Apa kami begitu tidak pentingnya bagimu Nando?)
“Anda hanya punya sekali kesempatan untuk
berkarir sebagai pemain, dan ia berniat meningkatkan level permainannya bersama
klub lain” – Brendan Rodgers on
Suarez.
Tidak semua
dari kita tentu pernah menjadi pemain sepakbola professional. Setiap pemain
pasti punya ideologi dan impian yang akan berpengaruh besar pada setiap keputusan
mereka. Menurut saya pribadi, hidup ini mutlak tentang pilihan, sedangkan kewajiban
dan hak itu merupakan dampak pengikut. Banyak pilihan yang terbentang, tinggal
kita yang menentukan untuk memilih jalan yang mana. Namun perjuangan sebenarnya
bukanlah tentang membuat pilhan, tapi tentang bagaimana kita bertahan dengan
pilihan yang kita buat. Karena terkadang setiap pilihan itu terlihat indah
diawalnya saja. Nando sudah memilih Chelsea.
“Aku tidak memiliki karir siapapun dan aku
tidak dapat membuat keputusan untuk mereka. Tetapi aku tidak pernah dikecewakan
Liverpool. Karena hanya Michael yang tahu pilihan mana yang menurut dia benar"
– Gerrard on Owen.
Pun juga
fans! Kita tidak memiliki karir siapapun, termasuk Nando. Tapi yang pasti kita
sama seperti Gerrard, kita seakan tak pernah mengenal kata “kecewa” di
Liverpool. Nando mungkin kecewa dengan Liverpool, dan sudah memutuskan untuk
lari ke Chelsea.
Dengan atau
tanpa Nando kehidupan terus berjalan. Tapi seandainya saya bisa sedikit
mengkhayalkan dan menempatkan diri sebagai seorang Nando yang sudah pensiun
nanti. Maka saya akan sebentar menoleh kebelakang melalui kaca spion, dan
berpikir sejenak bahwa ada hal yang lebih penting dari sekedar meraih piala
atau penghargaan “individu”. Apa itu?. Jawabannya adalah “Kesenangan”. Karena awal
saya memilih sepakbola adalah karena kesenangan saya dalam memainkannya. Jika saya kedapatan bermain
dilapangan dengan muka yang masam, maka sudah pasti saya “sedang tidak bermain”
sepakbola.
“Just a second we’re not broken just bent, Nando.”
Terus Berjuang?
Pulang? atau malah “Lari” lagi? Semua keputusan mutlak ada ditanganmu Nando.
Temukanlah kembali sepakbolamu. Karirmu masih jauh dari garis finish. Tentukan
akhir terbaik dari episode ini Nando!
@rendynewmanh
ppppp
ReplyDeleteAsik asik
ReplyDelete;(
ReplyDelete:-#
ReplyDeleteWe should be miss you Nando
ReplyDeletegood article, good inspiration, good job mate!
ReplyDelete(h)
keren gan
ReplyDelete(h)
(h)
ReplyDeletekamu jahat nando :(
ReplyDelete