19 September 2013

Siapa pengganti peran The Number 10 Role?

Ada kepanikan yang melanda saat Philippe Coutinho dipastikan harus menepi hingga akhir Oktober nanti, seperti dilansir oleh website resmi club. Betapa tidak sejak kedatangannya ke Anfield, kedua kakinya seperti selalu siap untuk memperlihatkan sihir.


Wajar sebenarnya, melihat apa yang terjadi setelah musim lalu saat Liverpool terpuruk, kedatangannya bagai seorang suci yang datang memberikan air minum di tengah padang gurun kepada para musafir yang berjalan jauh dan kehabisan persediaan air.

Gambaran yang diberikan di atas bukan tanpa alasan. Sebelum bermain pragmatis pada setiap babak kedua dalam lima laga Liverpool di awal musim ini, Brendan Rodgers mencoba mati-matian untuk membuat sistem umpan-umpan pendek yang bedasar pada penguasaan bola nyetel di skuat yang dihuni oleh pemain-pemain seperti Charlie Adam, Stewart Downing atau bahkan Steven Gerrard.

Hasilnya buruk. Terlebih melihat serangkaian lawan yang harus dihadapi oleh the Reds di awal musim lalu, saat tim semenjana yang berada di posisi delapan dua musim lalu mestinya di-derby-kan bersama tim-tim yang selevel seperti Southampton, Newcastle, Sunderland, West Brom, West Ham dll. Alih-alih seperti itu, Premier League membuat jadwal berurutan bertajuk Bigmatch yang saya masih bingung di mana sisi ke-Bigmatch-nya, apalagi super jeger.

Lalu datanglah Coutinho dan Daniel Sturridge - mereka adalah missing piece yang dicari oleh sistem baru di klub. Laiknya seorang menteri pendidikan baru yang mengubah kurikulum dan sebagian muridnya kebingungan dan kepayahan, Stu dan Cou adalah murid-murid bawaan sang manajer agar anak-anak sekolah Liverpool-nya tidak terlalu lama beradaptasi karena jika tidak mungkin mereka akan tinggal kelas.

Keduanya missing piece karena Sturridge menawarkan alternatif finisher di depan gawang lawan karena terlalu bergantungnya Liverpool pada Luis Suarez pada musim lalu, ia pun termasuk kategori pemain versatile yang dapat dimainkan di sisi manapun di lini depan, ditambah kemampuannya untuk membuka ruang serta dribble bola yang menurut saya masih lebih baik ketimbang Downing.

Sedangkan Coutinho datang di saat yang tepat. Dia adalah contoh seseorang yang datang di waktu yang tepat dan kebetulan dia adalah orang yang tepat. Walaupun masih muda, dia memiliki kemampuan sebagai seseorang yang lahir dari Brasil. Bukan sosok langka seperti Lucas.

Defence spitting-passes atau agar lebih gampang saya menyebutnya umpan terobosan pembelah pertahanan adalah satu hal yang paling penting dalam penyelesaian dari pengusaan bola di lini tengah. Liverpool kekurangan seseorang yang dapat melakukan hal ini bahkan mungkin sebelum kehadirannya tidak ada pemain yang mampu melakukan umpan ini.

Umpah lebih banyak dari kaki-ke-kaki yang akhirnya sampai di pemain sayap yang pasti kejadiannya akan melakukan crossing atau mencoba menembus masuk. Ini akan terbaca lama kelamaan dan untungnya Coutinho dapat melakukan hal ini dengan sempurna.

Saat ia melakukan aksi solo dan pemain lawan tertarik untuk menjaganya lebih dari seorang maka akan  ada satu pemain yang berdiri bebas di final third dan contoh paling nyata dari kejadian ini adalah laga lawan Newcastle di St. James Park.

Musim 2013-14 berjalan nyaris sempurna untuk Liverpool namun Coutinho sejujurnya belum kembali menjadi Coutinho di paruh kedua musim lalu. Kemungkinan dimainkannya dia di sisi kiri bisa menjadi alasan tapi sejujurnya apa yang dia lakukan sejauh ini masih kalah menonjol dari Iago Aspas.

Coutinho hingga empat laga sama sekali belum memberikan assist - kecuali dummy brilliannya saat gol Sturridge di Villa Park -, dibandingkan dengan Aspas yang sudah mengoleksi satu assist nyata. Total key pass dari pemain asal Brasil ini pun kalah dari Aspas. Sebagai perbandingan Aspas membuat 1.8 key passes per game di mana total dari empat laga adalah tujuh key passes; sedangkan Cou membuat enam key passes dengan rataan 1.5 per game. Yang menonjol adalah dribble pemain no.10 yang mencapai angka 8 kali melewati pemain lawan dengan rataan 2 dribble per game dibandingkan dengan aspas yang hanya 0.3 per game.

Tanpa dirinya di skuat seperti hidup tanpa didampingi olehnya yang tersayang, dan Coutinho sebagai magician sebenarnya tidak tergantikan di skuat Liverpool yang kekurangan flair ini.

Tapi Rodgers mau-tidak-mau harus melakukannya hingga akhir Oktober nanti. Berikut adalah calon-calon pengisi posisi The Number 10 Role:

1. Steven Gerrard

Gerrard menjalani ini pada musim 2007-08, 2008-09, 2009-10 dan sebagian kecil di musim selanjutnya saat Roy Hodgson dan Kenny Dalglish menjabat. Faktor umur, fisiknya yang sudah menurun drastis, cedera, serta kecakapannya menjalani deep playmaker role dengan total key passes tertinggi di Liverpool musim ini dengan total sembilan atau sama dengan 2.3 key passes per game - akan lebih bijak menempatkannya di posisi yang membuatnya lebih kalem dan mampu bermain sepanjang musim di posisi yang lebih dalam ini.

2. Jordan Henderson

Henderson mengalami kemajuan yang super pesat dari sejak sakit perut dan memaksakan bermain saat bertandang ke Loftus Road markas QPR musim lalu. Dia adalah pekerja keras, dia tidak berhenti berlari - ada kabar bahwa dia masih mengelilingi Anfield selama 24 jam setelah menang lawan Manchester United (bagi yang percaya kata-kata ini, Anda membuat saya speechless).

Dia bisa menjalani peran sebagai CAM tapi dia kekurangan setuhan magic. Dia dapat menjalani peran sebagai pengunci lawan yang mempunyai deep playmaker hebat dalam diri Michael Carrick tapi untuk menyerang saya tidak akan memilih dirinya di posisi ini.

3. Joe Allen

Allen is a decent player, tapi dia bisa lebih baik lagi jika dimainkan di posisi Lucas atau Gerrard. Bukan sebagai CAM. Saya tidak tahu bagaimana dia di Swansea fasih bermain di posisi ini atau tidak karena dia berubah menjadi mimpi buruk bermain di posisi ini.

Sebagai reference yang cukup revelan coba ingat-ingat saat dia bermain melawan United.

Potensinya mengalirkan bola sebagai deep playmaker akan terlihat lebih menonjol.

4. Luis Alberto

Dia mencetak hattrick lawan Sunderland U21 semalam, namun Premier League adalah sesuatu yang berbeda, walau tidak ada salahnya mencoba dia adalah salah satu calon terkuat di posisi ini.

5. Luis Suarez

Menempatkannya yang akan kembali pada laga di Piala Liga bisa saja terjadi. Tapi bayang-bayang menempatkan seorang penyerang di posisi ini membuat saya kembali ke laga Piala FA saat dihancurkan oleh Oldham.

Keengganannya untuk datang menyambut umpan lebih dalam dan lebih banyak berkutat di depan menjadikannya lebih sering out of position. Akan lebih baik jika dia bertukar posisi dengan Sturridge di depan, atau malah menjadi striker tengah dan membiarkan Sturridge untuk beristirahat.

Ada banyak pilihan lain, tapi dengan Rodgers tampak tidak akan banyak bereksperimen mengingat posisi Liverpool masih di puncak klasemen dan lawan yang dihadapi berikutnya masih satu level.

Sebetulnya jika Brendan Rodgers pintar dia akan memboyong Coutinho ke Indonesia dan langsung dibawa ke Cimande. Dijamin sembuh paling lama 2 minggu.

@MahendraSatya

3 comments: