25 April 2014

Medali Tanpa Hati dari Livi



Malam kini selalu berlari. Bersama kilat-kilatnya, Tuhan selalu mengasihi hambanya dengan cara tersendiri. Tak ada waktu bagi diri untuk menikmati indahnya malam hari. Setelah dua bulan penuh keindahan, aku kembali harus menopang kaki yang berat ini.

Hari-hariku kembali hampa. Malam selalu kuhabisi di sebuah bar samping pelabuhan untuk menikmati setidaknya 5 gelas bir. Frustrasi itu kembali muncul. Pelampiasan. Mungkin. Hidupku terlalu berat untuk dijalani secara normal. Melihat dia bahagia dengan orang lain secara dekat, hatiku hancur berkeping-keping.

Setelah menjalani dua bulan penuh keindahan, kembalinya sosok senior membuat sang bidadari kembali berpaling. Sosok yang sebenarnya tak lebih baik dariku. Memang, dia memiliki pengalaman segudang, wajah hitam british, serta tato disekujur lengan. Macho. Ya, dia jauh lebih menarik di segala sisi ketimbang diri ini. Belum lagi bocah lokal yang terus menerus memberikan progres positif dan membuat bidadari tak mampu memalingkan mata darinya.

Gleni dan Flani menjadi prioritas sang putri saat ini. Flani, aku memaklumi karena sosok ini memang memerlihatkan wujud nyata sebuah cinta dengan semangat dan ketulusannya. Aku cukup dekat dengan Flani. Kami beberapa kali berbincang dan dia tak seperti bocah 21 tahun, karena sangat dewasa. Wajar Livi kesemsem dengan dia.

Namun, Gleni?? Sang pencari sensasi. Dia sangat senang menunjukkan aksi-aksi cinta yang buat semua orang emosi. Belum lagi Gleni acap membuat hal merugikan untuk Livi. Apa karena dia sudah tua? Waktunya sebentar lagi habis? Maka ayah Livi lebih senang anaknya dekat dengan Gleni? Wake up, aku, Aly, jauh lebih baik dari Gleni.

Emosi di kepala sudah memuncak. Wajahku yang kotak semakin terlihat trapesium saat ini. Efek alkohol berlebih? Mungkin. Aku tak peduli. Masa depan bersama Livi sudah semakin menjauh dan tak terlihat.

Aku mengerti, Ayah sang putri sedang fokus demi mahkota kehormataan yang tak pernah dirasakan 24 tahun terakhir. Waktu yang sangat lama untuk putri secantik Livi. Tiga kontes lagi menuju puncak kebahagiaan keluarga ini. Livi akan mendapat mahkota bertahta emas. Sedangkan aku dan para pesaing bakal meraih medali kehormatan. Medali yang jelas membuat para wanita-wanita di negeri lain berkecamuk hatinya.

Namun, itu bukan masalah penting bagiku. Tak ada yang lebih penting di hati ketimbang Livi. Tak peduli sekarang dia tak menanggapi atau cuek sama sekali. Cinta ini tak pernah habis untuk Livi. Tak ada prasangka di benakku untuk hidup bersama putri lain. Meski kenyataan membawaku ke arah sana.

Alhasil, aku semakin gila setiap malam di bar. Bir akhirnya hanya jadi pembuka, karena sesosok bartender acap menawari Jack D Gentleman Jack favoritnya. Benar saja, aku tergila-gila dan selalu memesannya tiap malam.

Setiap pagi, dengan kepala berat karena mulai terbiasa dengan Gentleman Jack, aku selalu mendengar sebuah tembang favorit. Tembang yang liriknya berkata: "My Head's under water but i'm breathing fine". John Legend benar-benar lebay membuat lagu ini karena aku tetap tak bisa bernapas di dalam air. Memasukkan kepala ke dalam air dan memikirkan Livi, tidak, aku tetap megap-megap.

Tetapi lagu ini adalah keyakinan. "Cause all of me, loves all of you, Love your curves and all your edges, All your perfect imperfections". Fiuuh, sebuah lagu yang secara bersamaan menjadi harapan dan keputusasaan untuk diri. Sempurna.

Tiga pekan lagi. Tiga pekan lagi sebelum aku pergi meninggalkan Livi. Apa yang bisa aku lakukan ya Tuhan? Haruskah aku menjadi pujangga kasat mata yang cintanya buta dan hilang begitu saja? Melihat Livi bahagia memang lebih dari cukup. Sesuatu yang sudah final dan paling mudah untuk Aly bodoh ini.

Mungkin Tuhan memiliki persepsi berbeda dengan makhluk buruk rupa sepertiku. Mungkin takdirku adalah bersama bidadari lain. Entahlah, aku sudah lelah. Senyumku sudah habis. Jika kalian melihat senyumanku, berarti banyak kepalsuan di dalamnya.

Tugasku saat ini hanyalah duduk, menunggu, sambil berdoa agar Livi bisa mengangkat tahta yang dia tunggu sejak lama. Dia pasti sangat bahagia. Mungkin kebahagiaan yang tak akan pernah aku lihat.


Aku menunggu momen itu, momen spesial Livi. Momen dimana aku mendapat medali tanpa hati dari Livi yang kucintai. Lalu pergi meninggalkan sang bidadari untuk mencari cinta sejati. Cinta sejati yang tak akan pernah kembali ke Livi sang putri.

Written by: @redzkop

5 comments: