8 May 2014

Menuju Pulau Impian

“Begitulah cinta. Penderitaannya tiada akhir” – Cupatkai




Sering merasakan, atau paling tidak pernah merasakan apa yang siluman babi itu rasakan? Jika anda seorang penyuka Liverpool FC, sudah barang pasti jawabannya pernah/sering.

Anda penyuka Liverpool tapi tak pernah merasakannya? Ah, anda berbohong.

Sebagai fans Liverpool, pastilah kita sudah sangat akrab dengan perasaan tersebut. Anda ingin bilang tidak? Ayolaah, berhenti membohongi diri anda sendiri. Kita sama-sama tau.

Di awal musim, salah seorang teman kantor saya pernah mengatakan, bahwa fans Liverpool adalah gambaran sempurna dari angan-angan serta tekad kuat yang dibalut dengan kekecewaan dan rasa frustasi yang tingkat tinggi, yang disatukan kedalam satu wujud.

Bahkan dia sempat memprediksi jika suatu saat nanti kata “Kopites” akan masuk kedalam KBBI (untuk yang tidak tahu, KBBI adalah singkatan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk menggambarkan seseorang yang terlalu sering dikecewakan atau dikhianati. Memang saya akui dia bukan teman yang baik. Tapi tenang, saya sudah membalasnya dengan mengatakan, “Tell yer ma, we won it 5 times!”. Well, hanya itu yang bisa saya banggakan saat itu.

Tapi sebenarnya apa yang dikatakan teman saya tadi tidaklah sepenuhnya salah. Tidak percaya dan menganggap saya membelanya? Anda ingin saya menjabarkannya? Saya jamin anda akan tertidur sebelum selesai membaca panjangnya daftar kekecewaan yang akan saya buat.

Sudahlah.. lupakan soal lelaki menyebalkan yang baru 3 minggu lalu mem-proklamir-kan diri sebagai fans Athletico Madrid itu.

Yang ingin saya bahas adalah, mau di-kemana-kan optimisme kita untuk melihat Gerrard mencium kamera? Maaf, maksud saya Trophy BPL?

Jika anda sudah menjadi kelompok yang pesimis sejak desember lalu, saya berani menebak kalau anda langsung masuk kedalam kelompok yang optimis setelah Flannagan Cs meraup poin penuh dalam 11 pertandingan terakhir mereka. Sudah, tak usah malu untuk mengakui. Saya juga termasuk kedalamnya, kok.

Terlebih ketika LFC berhasil mengungguli Man.City dalam pertandingan ‘Pompa Jantung’ dengan skor 3-2 beberapa pekan lalu. Saya jamin, tak seorangpun dari kita yang masih menjadi pesimistis. Tak seorangpun!

Semua harapan membuncah. Menjadi juara yang awalnya hanyalah bonus pun pecah. Kita dipaksa bermimpi terlalu tinggi oleh Rodgers. Ketika target awal ‘hanyalah’ masuk zona liga champion yang memang sudah didapat berbarengan dengan kemenangan atas City, Rodgers menjadi orang yang jenaka. Dia mengajak kita untuk lebih liar dalam berfantasi. Mengajak kita ber-ekspetasi. Meminta kita untuk menuntut lebih tinggi. Menguasai tahta tertinggi liga Inggris! Ya, menjadi juara liga Inggris!  Sesuatu yang memang sudah didambakan sejak 24 tahun yang lalu. Memang Rodgers tak pernah berjanji, tapi melihat anak asuhnya sedemikian menjanjikannya, sayang rasanya kalo kita tak memberi kepercayaan lebih. Hingga kita berada ketahap yang lebih jauh dan berfikir kalau itu adalah janji tak tertulis dan tak terucap Rodgers untuk kita.
Saat itu, fans Liverpool adalah orang-orang paling optimis didunia dalam melalui hari-harinya. Bahkan Mario Teguh pun tak sanggup menandingi ke-optimis-an para Kopites.

Tapi.. ya, tapi. Karna akan selalu ada tapi dalam suatu kisah cinta yang indah. kata “tapi” yang melambangkan munculnya gelombang pasang yang mengusik kisah romansa nan indah dilaut tenang.kata “tapi” yang mewakili Mourinho dan pasukannya.

Tak perlu dipertanyakan lagi kemampuan Mou sebagai juru parkir handal. Maksud saya juru taktik handal. Maaf, belakangan ini mental saya kerap terganggu pasca pertandingan kontra Palace di Shulter Park yang lalu.

Chelsea dibawah asuhan Mou sukses menjadi pemeran antagonis dalam cerita Cinderella ala Liverpool. Rodgers dan kurcaci-kurcacinya dipaksa menghentikan sejenak syuting cerita Cinderella mereka setelah kalah 0-2 oleh Mou dan pasukan tembok berjalannya.

Hal yang pasti akan diingat dalam waktu yang panjang dari pertandingan tersebut adalah, 1 dari 2 gol yang dicetak chelsea terjadi karna Gerrard yang slip. Setelah sebelumnya Gerrard menyerukan kalimat “doesn’t f*cking slip”  kepada rekan-rekannya. Slip yang mungkin akan mengubur mimpi terbesarnya. menjuarai liga Inggris. Slip yang terdengar keseluruh dunia dan menjadikannya lelucon dimana-mana.

Hal lain yang akan diingat adalah tendangan pojok Iago Aspas yang akan melegenda.

Biar saja, mereka yang memperlakukan Nabi dari Liverpool utusan God Fowler ini dengan seenaknya akan menerima azabnya nanti. Berani-beraninya mereka. Ciih!

Lantas, siapa yang bisa kita salahkan atas kekalahan tersebut? Saya sarankan anda untuk menarik kata-kata anda jika anda menyalahkan orang suci itu dalam kekalahan atas Chelsea sebelum anda masuk kedalam daftar orang-orang yang akan di azab oleh Robbie “God” Fowler.

Lalu siapa yang bisa disalahkan? Anda pasti bercanda jika anda menyalahkan Mourinho dan taktik Tembok Berjalannya. Jika anda benar-benar menyalahkannya, maka sama hal nya dengan anda menyalahkan orang yang memilih untuk, maaf, buang air besar dijamban ditengah empang daripada memilih untuk buang air besar di closet duduk yang mewah. Anda pastilah mengerti maksud saya.

Menurut saya, ada beberapa hal yang bisa dijadikan alasan atas kekalahan pengikis harapan itu.
Yang pertama adalah, tidak bermainnya gelandang mobile asal Inggris keturunan Spanyol bernama Jordi Hendelron.

Dan yang kedua adalah, Aspas. Jangan tanya kenapa!

Saya tidak bisa menemukan alasan lain selain kedua alasan tersebut.

Maaf sebelumnya, tapi saya tidak akan membahas pertandingan kontra Palace, apalagi untuk menganalisisnya. Selain karna saya tidak begitu tertarik dengan analisis, pertandingan tersebut juga terlalu mengecewakan untuk diingat.
 
Lihatkan, Liverpool mulai mengecewakan kita lagi. Apa saya bilang!

Sebelum dilindas Truk berwarna biru dari London dan di-AC Milan-kan oleh Palace, kita pasti menganggap bahwa menjadi juara bukanlah lagi sekedar angan-angan apalagi isapan jempol belaka. Bukan juga hanya sekedar bonus. Target untuk menjadi juara sudah menjelma menjadi suatu keharusan yang amat berdosa jika gagal dilaksanakan. Maka berhentilah menghibur diri sendiri dengan mengatakan bahwa menjadi juara adalah bonus, karna target sesungguhnya adalah masuk 4 besar.  Terlalu naif mengatakan itu jika mengingat hanya tinggal 3 ‘final’ tersisa sebelum mengakhiri kutukan BPL. Maka mulailah mempersiapkan diri untuk menerima kekecewaan yang baru. Sakit memang. Dan untuk mengurangi rasa sakitnya, kembalilah ke paragraf pembuka tulisan ini dan kembali kesini jika rasa sakitnya sudah agak mereda.

Tapi.. ya, “Tapi” yang ini melambangkan titik balik dari usainya ombak yang menerjang laut yang tenang. “tapi” yang membuat kita mulai mendayung lagi menuju pulau bernama impian setelah 24 tahun kita mencoba berlabuh disana namun selalu karam karna ombak yang terlalu ganas.

Lagi pula, bukankah kita pernah menghadapi ombak yang lebih teruk dari ini? Bukankah musim 09/10 lebih mengenaskan dari ini? Bukankah akan ada langit yang cerah setelah badai pergi seperti yang dijanjikan lagu You’ll Never Walk Alone? Bukankah harapan tak akan pernah mati sampai kita terbujur kaku didalam peti? Bukankah kita yang menyerukan jargon, “Anything Is Possible For Those Who Believe” setiap hari? Dan masih banyak lagi “bukankah-bukankah” lainnya yang bisa memunculkan secercik harapan.

Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berhenti berharap. Karna jarak kita untuk sampai ke pulau impian sangatlah dekat. Memang, kita bukan satu-satunya kapal yang sedang menuju kesana, ada satu kapal lain berlogo elang yang jauh lebih mewah sedang memimpin satu dayungan dari kita untuk sampai kesana lebih dulu. Lantas kita menyerah? Jangan! Kali ini saya memaksa. Dengan harapan seadanya, kita diperbolehkan untuk berharap kapal mewah milik pengusaha minyak asal Timur Tengah itu akan berlubang dilambung kapalnya karna terjangan ombak. Dan dengan seluruh harapan yang tersisa, kita akan mendayung sekuat lengan kita mengayuh untuk mendayung sekali lagi demi sampai ke pulau tujuan lebih dulu dari siapapun.

Jadi, maukah kalian menemani saya mengantar Brendan Rodgers dan Pasukannya  menuju pulau impian berlangit cerah itu dengan menggunakan kapal sederhana bernama Liverpool FC? Maukah kalian mendayung menggunakan secuil harapan yang tak akan mati untuk terakhir kalinya dimusim ini?
Jika kita berhasil sampai kesana lebih dulu dari siapapun, bukankah akan sangat membahagiakan melihat tangis sesak Suarez dan Gerrard di Shulter Park berganti menjadi menangis tangisan sukacita di Anfield 11 mei nanti, yang pasti juga akan kita rasakan meski kita beribu-ribu kilometer jauhnya? Bahkan saya tak akan sungkan untuk menitikan air mata dan memeluk siapapun yang ada disamping saya jika hal itu benar terjadi. Sebegitunya? Ya. Sebegitunya.

Jika kita gagal menjadi kapal pertama yang berlabuh disana? Well, setidaknya kita pernah mencoba. Dan hitung-hitung kita memuluskan prediksi teman saya tentang kata “Kopites” yang akan masuk kedalam KBBI.

Written by: @muhammadaping

4 comments: