16 June 2014

"Kita Dipaksa Menonton Timnas Inggris"



Tak ada yang lebih indah ketimbang menjadi fans netral pada Piala Dunia kali ini. Tak bermaksud untuk menjadi sombong dengan tak memiliki tim jagoan dan berkata bahwa negara yang kami dukung hanya Timnas Indonesia, tetapi ketika anda menjadi sosok netral, akan banyak titik menarik yang bisa ditelisik. Entah titik negatif maupun positif.

Entah mengapa, saya tak terlalu tertarik dengan timnas Jerman pada kompetisi ini. Ya, saya menyukai cara Jerman dalam mengembangkan kompetisi, pemain muda, hingga teknologi sepak bola mereka, dan memutuskan menjadi pendukung mereka sejak 2010 lalu (Fuckin Glory Hunter, Yes I'm), tetapi entah. Untuk saat ini, tak ada satu tim pun yang memaksa saya untuk harus menontonnya, termasuk Jerman.

Terperangkap dalam fanatisme tak selalu menyenangkan. Sudah merasakan hal ini pada level klub, menjadi objektif pada level internasional dirasa menjadi pilihan yang paling bijak. Namun, bolehkah saya berkata bahwa fanatisme kepada Liverpool membuat kami terpaksa untuk mengikuti sebuah negara yang Overrated di Piala Dunia?

Ketika Piala Dunia atau Piala Eropa bergulir, banyak fan sebuah klub terpecah untuk membela negara-negara tertentu. Khusus The Reds, cukup banyak fan yang memilih untuk menjadi penggila The Three Lions. Bukan tanpa alasan memang, ketika Inggris membawa enam pemain Liverpool ke Brasil pada perhelatan ini. Tak terbatas pada tahun ini saja, membela sebuah tim dari negara tertentu membuat kita lebih memilih negara apa yang kita dukung dalam kompetisi sepak bola seperti ini. Tinggal ikuti negara dari klub yang kita dukung.

Tetapi, ada mereka yang memang memiliki antusiasme luas akan sepak bola dan memilih negara-negara di luar klub favorit. Bahkan, memilih negara dimana tak ada pemain dari klub favorit mereka di dalamnya. Fan The Reds yang membela pelbagai negara pun cukup beragam, terpecah secara teratur.

Anda acap menghina timnas Inggris. Wajar melihat negara yang berisikan banyak pemain bintang ini tak mampu berbuat banyak pada kompetisi internasional pada sepak bola modern. Prestasi terakhir mereka terjadi 1966. Sudah cukup lama. Fabio Capello, pelatih kelas dunia sudah mencoba memimpin tim ini tapi tak juga berhasil. Saat ini, pelatih paling berpengalaman tanpa prestasi yang memadai mencoba peruntungannya. Timnas Inggris mencoba meraih sesuatu bersama Roy Hodgson.

Tapi, akan terjadi perbedaan signifikan pada Piala Dunia kali ini. Menilik dari laga pertama Inggris vs Italia, yang saya yakin ditonton oleh semua fan Liverpool, rasanya Inggris akan memaksa Kopites untuk mengikuti mereka di ajang ini.

Timnas Inggris saat ini tak bisa dimungkiri sangat terpengaruh oleh Liverpool. Memanggil Steven Gerrard, Glen Johnson, Jordan Henderson, Daniel Sturridge, Raheem Sterling, hingga pemain anyar Rickie Lambert, menjadi bukti sahih. Itu belum termasuk Jon Flanagan yang berada di skuat tunggu sebelumnya dan psychiatrist seperti Steve Peters yang ikut membantu The Three Lions.

Pengaruh Brendan Rodgers yang berhasil memberikan efek signifikan atas kemajuan Liverpool musim lalu membuat Hodgson tak memiliki pilihan. Rodgers membuktikan bahwa pemain-pemain Inggris memiliki kemampuan taktikal yang mumpuni, tak seperti pandangan kebanyakan orang yang menganggap pemain Inggris hanya bermain seadanya dengan Kick and Rush kuno.

Inggris asuhan Hodgson tak akan mampu menyamai filosofi Liverpool di tangan Rodgers. Namun, setidaknya The Owl bisa memasukkan sedikit unsur The Reds di timnya kali ini. Terlihat saat laga melawan Italia. Meski Gerrard tak terlalu maksimal, Henderson terbilang melakoni perannya dengan sangat baik dalam menyeimbangkan lini tengah. Menempatkan Sterling sebagai trequartista juga pilihan jitu melihat sang pemain menjadi sosok paling berbahaya di skuat Inggris saat itu.

Daniel Sturridge? Terlihat sang pemain menjadi sosok yang paling berupaya keras menembus Catenaccio Italia yang akhirnya terlihat pada laga tersebut. Gol semata wayang Inggris pun datang dari striker Liverpool itu. Sayang, Sturridge mengalami cedera dan harus ditarik keluar. Sterling kehabisan tenaga pada babak kedua. Dan Glen Johnson, ya Glenjo tetap menjadi Glenjo seperti biasa, tak ada gunanya.

Banyak pundit dalam negeri maupun luar berkata bahwa Inggris memerlihatkan permainan atraktif yang tak pernah mereka lakukan sejak 2002. Meski takluk, Inggris takluk dengan mengesankan, walau bagi saya kalah adalah kalah. Terlepas dari permainan tim tersebut cantik atau buruk.

Ketika Anda melihat starter The Three Lions didominasi pemain Liverpool dan Everton, dan hanya ada satu pemain Manchester City, Chelsea, dan Manchester United di dalamnya, Anda sebagai fan Merseyside Red pun tak memiliki pilihan untuk melewatkannya. Meski minat anda bukan di Timnas Inggris, tapi Anda terpaksa untuk menonton dan mengintip performa penggawa The Reds di level timnas.

Anda akan mudah meledek Woy karena kebodohan-kebodohannya dalam mengambil putusan. Atau karena dinamika ekspresi dia berada satu tingkat di atas David Moyes. Tetapi, Anda tak bisa memungkiri bahwa cara Moyes mentranformasi tim yang berisikan banyak pemain Liverpool dan pemain muda menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak.


Kita semua bebas menghina Hodgson, timnas Inggris, Wayne Rooney hingga Danny Welbeck. Tetapi, jangan pernah menyangkal seburuk apapun tim ini, mereka akan memaksa kita untuk menonton tiap kiprahnya di Piala Dunia. Dan ada sedikit doa untuk Steven Gerrard mengangkat piala yang paling sulit diangkat ini.

2 comments: